Pages

Senin, 10 Juni 2013

Bandung City Trip : Museum Konferensi Asia Afrika

“I hope that it will give evidence of the fact that we Asian and African leaders understand that Asia and Africa can prosper only when they are united, and that even the safety of the world at large can not be safeguarded without a united Asia – Africa. I hope that this Conference will give guidance to mankind, will point out to mankind the way which it must take to attain safety and peace. I Hope that it will give evidence that Asia and Africa have been reborn, nay, that a New Asia and a New Africa have been born!” - Presiden Soekarno


Apa yang anda ketahui mengenai Konferensi Asia Afrika ? Pengetahuan saya mungkin sebatas apa yang diajarkan dahulu di pelajaran Sejarah waktu SMP-SMA. Konferensi dari negara-negara di benua Asia dan Afrika yang dipelopori oleh 5 negara yaitu Indonesia, Myanmar, Srilanka, India dan Pakistan. Konferensi tersebut diselenggarakan di Gedung Merdeka, Bandung.  Konferensi ini sebuah gong untuk gerakan non blok yang menentang imperialisme dan kolonialisme pasca perang dunia kedua. Negara-negara Asia dan Afrika telah kenyang dengan pahit dan getirnya penjajahan.

Pengunjung museum tidak dipungut bayaran alias gratis. Sekilas dari luar gedung tampak lengang, lalu lintas di jl Asia Afrika cukup padat. Setelah saya membuka pintu masuk, saya langsung mendapati suasana riuh ramai. Rupanya kunjungan kami bertepatan dengan study tour anak-anak sekolah. Kami mengisi buku tamu dan langsung dipersilahkan untuk menikmati koleksi museum. Bagian depan museum terdapat patung dari lima tokoh dari pelopor KAA yaitu Ali Sostroamidjojo (Indonesia), Jawaharlal Nehru (India), U Nu (Myanmar), Mohammad Ali (Pakistan), dan Sir John Kotelawala (Srilanka). Bersama mereka, duo proklamator Indonesia juga turut andil yaitu Mohammad Hatta dan Presiden Soekarno  yang berdiri di mimbar.
“Bebaskan jiwa Asia dan tuan-tuan akan memperoleh perdamaian, bukan perdamaian dengan paksaan pedang, tetapi perdamaian berdasarkan kemauan baik. Jiwa Asia pada dasarnya adalah jiwa damai!”,- Mohammad Hatta, Bierville, Agustus 1926.
Memorabilia yang digunakan selama konferensi berlangsung ditata sedemikian rupa. Namun sayangnya setelah mengisi buku tamu, kami tidak langsung mendapat brosur mengenai museum sehingga kami tidak tahu harus memulai darimana. Belum lagi cekakak-cekikik anak-anak SMA dari Jakarta yang membuat saya jadi ‘lameh’. Adalah seorang bapak paruh baya,yang tadinya kami kira guru pengantar dari rombongan SMA, yang mengambilkan brosur museum KAA.  Kami berbincang-bincang sebentar. O alah, si bapak mengira kami masih kuliah. Hihihihi. Setelah melihat brosur, informasinya sebatas sejarah museum dan tata tertib mengunjungi museum bukan penjelasan masing-masing koleksi museum.  

                                                        
  faktor pendorong tercetusnya Konferensi Asia Afrika

Kami mengitari ruangan museum. Pada hari yang sama sedang berlangsung pameran topeng Indonesia – Jepang. Ruangannya lebih kecil dan terasa sesak oleh pengunjung. Topeng-topeng karya Shoei Agura menampilkan berbagai macam raut wajah manusia. Saking miripnya dengan wajah manusia asli jadi merinding sendiri . Sementara itu topeng-topeng dari Indonesia juga dipamerkan. Kami tidak berlama-lama karena tidak betah dengan kesesakan pengunjung. Kebetulan di ruang tengah sang empunya karya Sensei Shoei Agura ada dan meladeni foto bareng dengan pengunjung-pengunjung lainnya.

Pameran Topeng Indonesia & Jepang

Di sudut yang agak sepi, sayup-sayup terdengar suara pidato dari pengeras suara yang tertelan suara keramaian anak sekolah. Saya mendekati sudut tersebut ternyata pengunjung bisa mendengarkan pidato Presiden Soekarno pada pembukaan konferensi. Di dalam lemari kaca terdapat buku-buku mengenai Konferensi Asia Afrika.  Yang menarik bagi saya adalah kutipan dari tokoh-tokoh Indonesia yang menyiratkan semangat non blok dan anti imperialisme. 

“Jikalau Banteng Indonesia sudah bersama-sama dengan Sphinx dari Negeri Mesir dengan Lembu Nandi dari Negeri India, dengan Liong Barongsai dari Negeri Tiongkok, dengan kampiun-kampiun kemerdekaan dari negeri lain, - jikalau Banteng Indonesia bisa bekerja bersama-sama dengan semua musuh kapitalisme dan internasional – imperialisme di seluruh dunia -, wahai tentu hari-harinya internasional-kapitalisme itu segera terbilang !” – Sukarno, Bandung Maret 1933


Sabtu, 01 Juni 2013