Pages

Minggu, 17 Maret 2013

Menengok Bekantan di Tarakan

Saat mampir transit di kota Tarakan, pikiran yang terlintas  adalah ‘mau jalan-jalan kemana ya?’. Apalagi dengan waktu transit 4 jam saya rasa bisa digunakan untuk melihat-lihat kota Tarakan. Kebetulan ketika saya pulang dari site Malinau, teman kantor yang cuti tinggal di Tarakan. Jadi lah dia tour guide kami di Tarakan. Koper bagasi kami titipkan ke counter Garuda. Mau kemana nih? Nampak mendung tebal di langit dan tak lama kemudian hujan deras mengguyur Tarakan. Yahhhh gagal deh Tarakan City Tour nya. Saya kecewa tapi mau gimana lagi kalau hujan deras. Kami melipir ke kafe pinggir jalan untuk berteduh sementara.

“Aku mau lihat Bekantan”,ujar saya. Saya belum pernah melihat hewan yang digunakan maskot dari Dunia Fantasi Ancol secara langsung. Rekomendasi dari teman-teman di twitter menyebutkan Kawasan konservasi Bakau dan Bekantan patut ditengok jika berada di kota Tarakan. Syukur lah hujan cepat reda. Setelah hujan reda , kami beranjak ke tempat tujuan. “Udah kayak anak SD aja mau lihat Bekantan”,kata senior. Biarin wekk,ujar saya dalam hati (beraninya). Hahaha. Karcis masuk sebesar Rp 3.000. Enaknya pergi sama yang tua-tua jadi pihak yang ditraktir. Horaay. Hahaha. 



suasana sejuk sehabis hujan 


taman bacaan di dalam kawasan mangrove

Kehijauan hutan bakau yang sehabis disirami hujan deras terasa sejuk. Kami menyusuri jalan yang dibuat dari kayu. Hati-hati berjalan karena kayunya amat licin. Tak jauh dari gerbang masuk konservasi hutan bakau terdapat taman bacaan. Wah enaknya. Jika ajak keluarga bisa mengajak anak-anak ke taman bacaan sekalian nih. “Mana Bekantannya ya ?”,kata saya. Yang kami lihat hutan bakau saja. Petugas yang sedang menyapu dedaunan menunjuk ke arah pepohonan yang bergoyang-goyang. “Itu dia! Bekantan nya!”. Satu kelompok bekantan tampak sedang berpindah-pindah pohon. Mata saya yang minus ini hanya melihat sosok kelebat dari Bekantan saja. Saya kurang jelas melihatnya hanya melihat badannya saja,ah tidak terlihat hidungnya yang khas itu. Mereka lompat-lompatan di ujung pohon bakau yang tinggi. “Waktu aku SMA, bekantannya sampai di bawah-bawah sini lho”,ujar teman saya. Sekarang harus pakai teropong kayaknya untuk melihat jelas bekantan. Saya coba menangkap kelebatan Bekantan,hasilnya tidak kelihatan apa-apa walau sudah zoom maksimal. Sepertinya mengambil foto Bekantan yang jelas dan tajam perlu pakai lensa tele deh.  No Pic = Hoax. Karena tidak mungkin foto sama bekantan aslinya, ada duplikat bekantan untuk berpose.

gantinya foto sama Bekantan asli


Dipanggil-panggil sama siulan, Bekantannya bukan mendekat malah menjauh.Hahaha. Menurut petugas, Bekantan termasuk hewan yang pemalu dan tidak bisa dikandangkan karena bisa stress.  Saat hendak kembali ke pintu masuk, di persimpangan jalan terdapat gerombolan monyet. Aaaak monyet, saya panik.*phobia monyet* Yukkk jalan ke luar yuk. Saya tidak mau ada momen dikejar monyet terulang lagi di Tarakan. Mau lari kemana, kiri kanan rawa bakau. Eh si Bapak Apath, ekspat India malah mendekati monyet-monyet dan mengambil foto dari kamera handphone nya. *tepok jidat*. Hadeuh Bapaaak. Saya berada di barisan paling depan menuju pintu keluar. Hahaha. Sambil melihat ke arah belakang. Benar kan! Si monyet mengikuti Pak Apath. Mampuss. Langsung kami berjalan cepat-cepat. Monyetnya pintar!. Ada pintu sekat yang bisa dikunci. Ketika Pak Apath menutup pintu, si monyet menyelusupkan badannya dengan anggun ke sela-sela bawah pintu. Nah lo! Hahaha. Serentak semuanya tertawa.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar