Pages

Sabtu, 04 Agustus 2012

Coal Mining City Tour : Sawahlunto




“Apa Zi ndak bosan nanti lihat batubara lagi?”,tanya teman dekat saya. Ia menanyakan kembali tujuan jalan-jalan saya yaitu Sawahlunto. “Engga, Zi belum pernah ke Sawahlunto” jawab saya. Semenjak bekerja di perusahaan kontraktor batubara, pemandangan tambang sudah biasa bagi saya. Jauh-jauh kerja hingga Kalimantan justru kota yang paling dekat dengan kota kelahiran saya, Solok, yang menyimpan sejarah penambangan batubara tertua di Indonesia. Bule ekspat di site antusias sekali ketika saya menyebutkan asal saya dari Sumatera Barat. “ Saya suka nasi padang. Dulu saya pernah di Sawahlunto”,ujarnya. Selain karena batubara,sejarah dari kota ini pun menarik bagi saya. Pemerintah Belanda mendatangkan narapidana buangan dari pulau Jawa untuk membuka tambang di Sawahlunto,orang-orang ini dinamakan orang rantai.

Perjalanan kami dari Solok naik motor, kira-kira memakan waktu 45 menit. Kota wisata tambang yang berbudaya, itulah slogan kota Sawahlunto yang saya lihat di pintu masuk ke kota. Dari pintu masuk tersebut, kita masih mendaki lagi dengan jalan berkelok-kelok. Menurut saya memang lebih seru naik motor besar apalagi bersama gebetan. Hihihi. Kebetulan juga Ayah dari teman yang mengantarkan saya pernah bekerja di Sawahlunto. Jadi ia lumayan kenal kota tambang ini. Pertama yang saya lihat dari kota Sawahlunto adalah bangunan silo yang tinggi menjulang. Saya senang melihat arsitektur bangunan lama ala kolonial berjejer dengan rumah Gadang. Cantik! Jika kita tengok ke arah bukit nampak tulisan “SAWAHLUNTO”. Potensi wisata Sawahlunto sangat lengkap yang terdiri dari wisata tambang, sejarah, kuliner dan banyak spot bagus untuk fotografi.

Museum Goedang Ransoem

Ransoem? Jika mendengarkan kata ‘Ransoem’ pasti langsung teringat dengan makanan. Ya Museum ini dulunya merupakan dapur umum untuk kebutuhan pekerja tambang. Kawasan museum goedang ransoem yang dibangun pada tahun 1918 terdiri dari dua gudang besar dan power stoom (tungku pembakaran). Ada ribuan pekerja tambang yang merupakan orang rantai. Kebayang tidak peralatan masaknya seperti apa? Tungkunya tungku raksasa!


tungku pembakaran

 
alat masak Goedang Ransoem tempo doeloe

Setelah kemerdekaan Indonesia, kegunaan dari gedung ransoem ini berubah terbagi menjadi beberapa periode sebagai berikut :
  • Periode 1945 -1950 untuk memasak makanan tentara (TKRI).
  • Periode 1950-1960 sebagai tempat penyelenggaraan administrasi perusahaan tambang batubara Ombilin.
  • Periode 1960 -1970 sebagai sekolah menengah pertama Ombilin.
  • Periode 1970-1980 sebagai tempat hunian karyawan tambang batubara Ombilin.
  • Periode 1980-2004 sebagai tempat hunian karyawan tambang batubara Ombilin dan masyarakat kota Sawahlunto.
  • Pada tahun 2004-2005 bangunan ini direvitalisasi dan diresmikan sebagai Museum Goedang Ransoem pada tanggal 17 Desember 2005.
Koleksi museum ini terdiri dari alat-alat masak yang super besar seperti panci, kuali, dandang; foto-foto hitam putih jaman Belanda, dan peralatan tambang orang rantai. Nah kisah orang rantai menarik bagi saya. Setiap orang rantai memiliki nomor tato yang diberikan oleh kolonial Belanda sebagai nomor administrasi dan identitas mereka. Jika melihat dari peralatan menambang yang masih memakai cangkul dan sekop, saya tidak membayangkan bagaimana beratnya perjuangan orang rantai menambang batubara yang keras ditambah lagi underground mining. Tidak sedikit korban tewas berjatuhan,orang-orang rantai hanya dikuburkan dengan batu nisan yang tertulis nomor tato mereka.

 
batu nisan orang rantai
Di bagian museum Goedang Ransoem yang lain terdapat ruangan gallery etnografi. Galeri ini memajang baju pernikahan dari etnis dan suku seperti etnis tionghoa, suku jawa, melayu, batak dan dari Sawahlunto sendiri. Galeri ini mencerminkan keberagaman dari masyarakat kota Sawahlunto yang multikultural.
Jam aktif kunjungan museum ini adalah pada Selasa hingga Jumat 07.30-16.30, serta Sabtu dan Minggu 09.00-16.00. Harga tiket masuk museum ini adalah Rp4.000,- untuk dewasa, dan Rp2.000,- untuk anak-anak.

Lubang Tambang Mbah Soero

Tidak jauh dari Museum Goedang Ransoem,ada satu lokasi yang patut dikunjungi yaitu Lubang Suro. Lubang Suro merupakan lubang tambang pertama di Sawahlunto. Kenapa dinamakan lubang Suro? Karena pembukaan lubang tambang pertama ini yang dikerjakan oleh orang rantai dipimpin oleh Mbah Suro yang berasal dari pulau Jawa. Panjang lubang ini mencapai ratusan meter. Lubang Suro ditutup sejak 1932 karena tingginya rembesan air dari sungai Batang Lunto. Dan baru dibuka kembali pada tahun 2007 sebagai objek wisata. Harga tiket masuk sebesar Rp 8.000/orang. Setiap pengunjung didampingi oleh guide. Untuk masuk ke lubang Suro diwajibkan memakai safety shoes dan helm. Di balik tiket masuk terdapat beberapa ketentuan yang harus dipatuhi. Seperti dilarang menyentuh material lobang, mengambil material batubara, berkata-kata kotor, dan bagi perempuan dalam keadaan haid dilarang masuk. Ketentuan yang terakhir ini membuat saya bertanya dalam hati, ‘kenapa ya tidak boleh?’

wajib pakai safety shoes & helm

Seketika saya teringat lubang Jepang, objek wisata di Bukittinggi, namun lubang suro lebih kecil dan penerangannya sudah dilengkapi lampu dan lubang angin. Semakin turun ke bawah hawa lembap semakin terasa. Yang dibuka untuk wisata masih sebagian kecil dari lubang tersebut. Ada anak tangga yang lebih ke bawah yang tembus ke ruang bawah tanah Museum Goedang Ransoem tapi areal tersebut dipagari. Si uda guide menjelaskan sejarah lubang suro, bagian-bagian tempat berlindung untuk menghindar lori batubara. Kita pun bisa melihat dan menyentuh lapisan batubara yang masih ada. Ketika ditanya sama Uda guide ‘mau foto tidak?’ langsung saya menggeleng. Coba kalau dia tidak menyebutkan ada bagian ditemukan tumpukan tengkorak sebagai tumbal mungkin saya berani mengambil foto.Hihihi *dasar penakut* :P. Pintu keluar melalui pintu lobang ventilasi yang berada di seberang jalan. Saya jadi membayangkan apakah dibawah kota Sawahlunto ini mempunyai banyak lubang-lubang tambang seperti ini ya.

 di depan gedung galeri tambang
Jika ingin melihat bagaimana sejarah tambang Sawahlunto bisa juga naik ke lantai dua,ada galeri tambang batubara kota Sawahlunto. Adalah meneer WH de greeve yang menemukan batubara di Sawahlunto pada tahun 1868. Ia memperkirakan ada cadangan batubara 200 juta ton. Subhanallah. Betapa kayanya sumber daya yang diberikan Allah pada negeri kita. Produksi batubara dimulai pada tahun 1892. Belanda membangun rel kereta api untuk transportasi batubara ke pelabuhan Teluk Bayur di Padang. Rumah waktu saya kecil di Solok terletak tidak jauh dari jalur rel kereta api tersebut.Yang saya ingat dari masa kecil saya yaitu gerbong-gerbong kereta yang berwarna biru membawa batubara.

Sebenarnya kurang afdol jika tidak mampir ke museum kereta api Sawahlunto. Ada kepala lokomotif terkenal yaitu Mak Itam. Simple aja penamaannya dikarenakan warnanya hitam. Lihat sepintas hampir mirip dengan kereta Hogwarts Express yang di film Harry Potter. Pengunjung juga bisa naik Mak Itam. Ada jadwal kereta wisata dari Sawahlunto ke Muara Kalaban. Ah saya tidak mengunjunginya. Saya tidak ingat waktu disana mungkin karena keburu lapar belum makan siang. Hahaha.

Foto-foto yang lain bisa dilihat disini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar