Pages

Rabu, 19 Desember 2012

Melancong ke Vietnam - Kamboja



Kamboja


IMG_7498

Angkor Wat, Siem Reap - Kamboja


Sunset at Tonle Sap Lake, Siem Reap, Cambodia

Sunset di Danau Tonle Sap, Siem Reap, Kamboja

Vietnam

Cao Dai Temple - Cu Chi Tunnel Tour

Pray at Cao Dai Temple
Cao Dai Temple


Ouch!
tiger trap
Ho Chi Minh City Tour

a young girl staring photo of victims's agent orange
korban agen orange

IMG_8134
Katedral HCMC

central post office HCMC
@ central post office HCMC

Rabu, 12 September 2012

Last Day at Karimun Jawa

Karimun Jawa Stories : Part 3


Hari terakhir, saya bangun pagi karena kebelet buang air kecil. Saya terkejut setelah selesai menggunakan toilet. Ada cowok pake piyama! Haaaa,spontan saya melihat dari ujung kaki ke kepala tapi mukanya tidak terlihat jelas oleh mata saya. Oow mungkin dia si bapak-bapak dari kamar yang berAC sana. Dan saya pun nongkrong menyambut sunrise di depan kamar. Nah ternyata saya salah menduga, bukan bapak-bapak yang pakai piyama itu tapi mas-mas,dia juga menonton sunrise dari gazebo yang terlihat dari kamar. Tidak hanya saya saja yang takjub dengan mas piyama,teman-teman juga. Hihihi. Lucuuuu. Jarang-jarang saya melihat cowok pakai piyama apalagi waktu ngetrip. Hihihi *peace ya mas*. ^^



Kami kembali nyebur ke laut. Spot snorkelingnya ada di dekat pulau Cemara Kecil. Lumayan sepi dari kapal-kapal pengunjung lainnya. Ikan-ikannya lebih banyak dan ngumpulnya dekat kapal. Ada kemajuan buat saya yang sudah berani berenang agak jauh (dikit) dari kapal. Sehubungan kak Uci engga ikut turun, dia yang motoin kita-kita yang nyebur dari atas kapal. Narsis di darat, narsis di laut juga lah. Hahaha. Thank you so much Kak Uci. :*

Penangkaran Ikan Hiu

Sebelumnya saya tidak pernah dekat-dekat dengan ikan Hiu. Di Karjaw, kita bisa berenang bersama hiu loh. Ada penangkaran hiu yang tak jauh dari Wisma Apung. Jika melihat ekspresi yang turun sepertinya seru-seru-tapi-ngeri berenang bersama hiu ya. dari penangkaran hiu langsung pulang ke Wisma Apung. Mandi dan berkemas-kemas. Kami menuju Karjaw daratan untuk makan siang.

Para pecinta Deuter : Mas piyama, Kak Sisil, Kak Indri & Destia.

Perjalanan pulang ke Jepara sangat dahsyat, sodara-sodara. Kami mendapat duduk di dekat pintu keluar-masuk penumpang. Ombaknya besar sehingga goyangannya pun mantap sehingga penumpang yang jackpot muntah banyak. Dua kantong plastik kresek yang disediakan petugas ludes dengan cepat karena banyaknya yang muntah. AC kapalnya mati. Bisa dibayangkan ruangan yang gerah, bau muntahan plus goyangan kapal? Gimana engga pada muntah coba.  Orang disamping saya juga muntah,untungnya dia muntah dengan kalem. Karena saya melihat sendiri petugas kapalnya kena muncratan muntah penumpang lain yang tergesa-gesa mau muntah ke pintu kapal. Euwwh.*tutup mata* Yakssss banget ga sih kena muntahan di muka. *ngebayanginnya aja udah eneg*.

Saya kebelet buang air kecil,mau ditahan tapi masih lama sampai di Jepara. Saya terhuyung-huyung menuju toilet. Serasa diayun-ayun pas jalan, jadi pegangan ke kursi penumpang lainnya harus stabil kalau tidak mau jatuh ke pangkuan orang. Adowwwwww!!! Saya menjerit karena jempol tangan kiri kejepit pintu toilet. Huhuhuhu,sakitttt :'((. Goncangan kapal membuat pintu toilet menutup tiba-tiba dan saya terlambat menarik tangan yang berpegang di sisi pintu toilet. Jempolnya engga berdarah sih tapi sakit banget. Hiksss. Dalam usaha kembali ke tempat duduk, saya melihat pemandangan bagian tengah kapal mirip acara lomba muntah. Banyaaaak yang mengerubungi tong sampah. Bule-bule pun juga mabuk laut.

*menahan pusing dan mual*


Balik ke tempat duduk,saya menutup mata dan memusatkan pikiran pada hal-hal indah karena saya ikut-ikutan mual juga. Salut buat kak Sisil yang anteng baca buku Terry Pratchett. Top banget deh Kak Sisil *menjura*. Selain banyak yang mabuk laut, ada lebih parah. Tiang pegangan kapal jatuh menimpa penumpang. Saya sudah membathin juga waktu melihat tiang tersebut goyang-goyang,tiangnya tidak kokoh. Kasihan deh soalnya langsung benjol kepala yang kena tiang. :( Ketika kapal sudah berlabuh di dermaga pantai Kartini, barulah penumpang bisa bernapas lega ‘Alhamdulillah sampai’. Berikutnya, sebelum bepergian ada baiknya minum antimo dulu.  

Sekian cerita saya dari Karimun Jawa.

Selasa, 11 September 2012

In Love with Karimun Jawa

Karimun Jawa stories : Part 2

Matahari muncul dari bukit Karjaw daratan. Untuk menikmati sunrise tinggal membuka pintu kamar saja. Tapi sunrise pertama di Karjaw saya lewatkan saja. Saya mengintip sebentar dan kembali tidur walaupun kak Indri sibuk motret-motret di depan kamar. *dasar pemalasss* :p. Itinerary hari kedua yaitu snorkeling dan hopping islands.


Sebenarnya saya belum pulih benar dari trauma snorkeling. Ketika semua peserta trip nyebur laut,saya masih diatas kapal. Selain itu saya juga sedang berhalangan tapi rugi kan melewatkan keindahan underwater Karjaw. Mas-mas perahunya bertanya ‘engga turun mbak?’. ‘Bentar lagi mas’, saya masih mengumpulkan nyali. Hihihi. Akhirnya saya ‘turun’ juga ke laut. Horaaaay. Saya sudah bisa bernapas dengan alat snorkeling tapi masih belum berani jauh-jauh dari kapal. Jauh sedikit dari kapal,rasa panik langsung menyergap. Perasaan insecure kalau jauh dari kapal karena tidak terlalu bisa berenang. Peserta trip lainnya (terutama kapal sebelah) terlihat riang gembira snorkeling dan heboh banget buat pengambilan foto underwater. Ya saya memilih menikmati keindahan bawah laut saja terpesona dengan ikan warna-warni dengan tangan memegang tangga kapal. :P



Makan siang digelar di pulau Tengah yang tidak jauh dari lokasi snorkeling. Selain ingin menikmati keindahan Karjaw,saya juga ingin mengabadikan potret-potret Karjaw. Spot di pulau tengah keren juga, pantai pasir putih dan air laut yang biru. Niatnya mau hunting foto malah lebih sering membidik diri sendiri. Hahaha :P. Pilihan warna baju mungkin mempengaruhi tingkat kenarsisan saya. Hahaha. Kurang gonjreng apa coba, baju dalaman warna peach yang sesuai dengan dress bunga-bunga plus kain bali ‘pelangi’ yang saya jadiin shawl. Kontras dengan warna biru laut dan biru langit, makanya jadi banci foto. wkwkwk. Kayaknya Kak Uci udah bosen saya mintai tolong ‘kak,foto dong kak’. Dan tak cukup satu kali jepret ,‘lagi kak’ pinta saya,hehehe.


 
Dari Pulau Tengah lanjut ke Pulau Kecil untuk sesi snorkeling tahap 2. Satu hal yang saya perhatikan di Karjaw ini sebelum snorkeling,mas –masnya menyelam dahulu untuk mengaitkan tali kapal ke karang. Jempol deh karena tidak langsung lempar jangkar yang bisa merusak terumbu karang. Sepertinya antara satu kapal dengan kapal lainnya memiliki itinerary yang sama. *garuk-garuk kepala*. ‘Dia dia lagi ketemunya’,pikir saya. Ramai sekali terutama waktu ke pulau Gosong yang hanya hamparan pasir di tengah laut. Luasnya tidak seberapa dengan pengunjungnya banyak,ya penuh aja. Yah namanya juga sharing cost kalau engga ramai mungkin biayanya lebih mahal. :D


 
Nah sampai di Wisma Apung,saya tidak lantas langsung mandi. Duduk-duduk dulu,bengong-bengong dulu. Pas mau mandi,antrian toiletnya udah panjang. Kyaa,salah sendiri *dudul*. Saya membawa kamera ke tempat lihat sunset. Yes tidak ada orang! Sendirian saya menikmati senja yang pelan-pelan menghilang. Saya bernyanyi kecil lagu minang tentang senja ‘Ondehhhh.. Ondehh..Lah Laruik Sanjo’. Berbeda dengan hari sebelumnya,langit senjanya dihiasi awan yang mempercantik sunset.



Setelah mandi dan makan, kami memutuskan untuk ke Karjaw daratan. Yang turun cuma berempat, Mbak Endah dan Destia tidak ikut. Pengalaman dari snorkeling pertama,kami hendaknya membeli snack-snack dulu. Sehabis snorkeling biasanya perut keroncongan. Warung yang ada tidak hanya menjual cemilan saja, mulai dari alat tulis, alat mancing, hingga sparepart motor. Setelah belanja,kami menuju alun-alun Karjaw yang juga dipenuhi turis-turis. Kak Indri memesan tongseng cumi-cumi. Penasaran kan belum pernah makan tongseng cumi-cumi dan pas makanannya datang. Errrrr….Kok bentuknya kayak cumi saos tiram yah? Hehehe :D. It’s oke lah, soalnya tongseng cuminya enak, porsinya banyak dan murah.

(bersambung)......

Leuyeh - leuyeh di Wisma Apung

Karimun Jawa  stories : Part 1

Kembali….ke Laut. Aheey! Karimun Jawa sudah lama jadi wishlist saya namun rencana sering jadi rencana. Nah ketika kak Sisil mau ke Karjaw, saya langsung nyamber ‘ikuuuuuuut’. Teman-teman perjalanan saya selain Kak Sisil, ada Kak Uci, Kak Indri, Mbak Endah, dan Destia. Perjalanan menuju ke Karjaw lumayan panjang dari Jakarta yaitu naik pesawat malam (yang delay) ke Semarang, pagi-pagi naik travel menuju Jepara, dan dilanjutkan naik kapal express Bahari (yang delaynya lebih parah). Itinerary hari pertama jadi berantakan gara-gara keterlambatan kapal.



Kami menginap di wisma apung yang berdiri di atas laut. Ada kapal yang khusus untuk antar-jemput tamu dari Wisma Apung dan Karjaw daratan. Tamu-tamu di Wisma Apung cukup ramai hingga kami kebagian kamar non-AC yang tidak memiliki kamar mandi di dalam. No big deal lah, enjoy aja. ;) Kegiatan yang dilakukan hanya melihat-lihat sekeliling wisma dan leuyeh-leuyeh sambil menunggu nasi bungkus. Di tengah wisma ada penangkaran ikan hiu, nampak juga kura-kura berada dalam kolam tersebut.

Sensasi menginap di atas laut bukan pertama kali bagi saya. Tetap saja saya merasa gamang apalagi jika ingin menggunakan toilet. Saluran pembuangannya langsung cusss ke laut. Dan kita pun bisa melihat air laut yang dibawah melalui sela-sela papan. Kadang-kadang ada kepiting muncul dari bawah papan. *Hiyaa! bikin kaget aja*



Salah satu keuntungan menginap di Wisma Apung adalah pemandangan sunsetnya yang berbeda dari menginap di guesthouse lainnya. Tamu-tamu bisa menikmati sunset yang berada di belakang wisma. Matahari seolah-olah tenggelam ke dalam laut. Subhanallah indahnya.

Malam di Karjaw tidak sesunyi yang saya kira. Kesyahduan Wisma Apung diiringi oleh bunyi genset. Listrik hanya hidup di malam hari. Sekelompok mahasiswa (sepertinya) asyik bernyanyi-nyanyi namun tidak lama karena mereka menyebrang ke alun-alun kota. Suasana penginapan jadi sepi. Kami tidak menyebrang ke Karjaw daratan, pemandangan yang kami lihat dari depan kamar membuat betah di Wisma Apung. Matahari yang sudah tenggelam digantikan bulan yang penuh. Sinar ‘supermoon’ yang menyentuh permukaan air laut menghasilkan kemilau yang indah. Aaaaaaaa so sweet, malam minggu pula. Jadi galau deh. ;)


Untuk sinyal telekomunikasi di Wisma Apung termasuk lancaaar biar berada di tengah laut masih bisa update twitter atau whatsapp-an. Tuh menara BTS nya kelihatan kan (di dekat bulan) ?  :)  

(bersambung)....

Senin, 06 Agustus 2012

Lunch Getaway : Sekerat Beach



Seperti moto saya, kemanapun dimanapun sempatkan raun raun. Raun-raun dalam bahasa Minang berarti jalan-jalan. Maka sekalipun sedang kerja di tempat terpencil, jauh dari kota, tidak ada mall, bukan halangan untuk tidak jalan-jalan. Hahaha. Tujuan jalan-jalan kali ini adalah photo hunting. Site visit yang sekarang saya tidak membawa kamera kesayangan. Lagi males. Kasihan juga kameranya kena debu tambang terus menerus. Giliran engga bawa kamera,ada photo hunting bareng. Ya sudah jadi modelnya aja deh. Hahahaha.

Photo huntingnya dibela-belain pas lagi jam makan siang. Semua lagi berpuasa. Istirahat yang biasanya untuk makan siang,kita gunakan cabut ke Sekerat. Letaknya tidak jauh dari site office (katanya). Lah baru sampai di Sekeratnya sudah jam 1 siang. Hari lagi panas-panasnya. Untung perginya bilang dulu biar engga dicariin.
serasa pantai pribadi



Pantainya memang bukan tempat wisata terkenal tapi lumayan lah buat refreshing dari kepenatan pekerjaan. Pantainya sepi dan tenang. Saking sepinya,mobil kita bisa melaju di atas pasir. Karena dekat dengan muara sungai, warna air lautnya kecoklatan dan baru bewarna biru di bagian tengahnya. At least,pantainya bersih. Bak model saja,saya difoto dari dua arah. Beuh lihat kacamata yang saya pakai, engga nahan euy gayanya. Kacamatanya itu modal pinjam teman yang baru dari lapangan. Hahaha. Rada jaim sedikit lah, masih malu difoto sama yang baru kenal. :D

baru kali ini ke pantai aja pakai safety shoes :D

Weekend boleh saja masuk kerja tapi disiasati dengan raun-raun biar manyun masa’ weekend masih kerja.

Minggu, 05 Agustus 2012

Belitung 2012

Sebuah Perjalanan Menghibur Hati

Pantai Tanjung Kelayang

Perjalanan ini adalah perjalanan spontan. Tiket doorprize Jakarta – Singapore yang saya dapatkan sewaktu outing di Bali saya tukarkan dengan tiket Jakarta – Tanjung Pandan PP. Saya memutuskan ikut dengan rombongan tim finance kantor yang akan pergi ke Belitung. Kenapa tiba-tiba? Jawabannya adalah hati yang sedang terluka.


Dua tahun telah berlalu dari langkah pertama saya di pulau Belitung. Masih terbayang pasir putih dan pantai yang bersih. Saya tidak keberatan untuk datang lagi ke Belitung. Tiket pesawat dihitung gratis. Saya hanya membayar biaya tour. Setelah saya membaca itinerary dan melihat website tour guidenya. Sepertinya saya mengenal nama web ini. Ternyata…… Tour guidenya sama dengan guide waktu ke Belitung tahun 2010. Bang Jack! Ketemu lagi deh. Hoahhh mantap banget dia sekarang. Usaha tour Belitung miliknya berkembang pesat.

you're still there..waiting for me to come back,lighthouse

Laut dan pantai adalah tempat saya melarikan diri ketika sedang patah hati. Yang saya lakukan hanya menikmati angin pantai dan memandang horizon biru yang tak berujung. Luka di badan bisa perih jika terkena air laut. Luka dihati akan terbasuh hilang. Saya mengambil posisi di ujung kapal. Gelombang air lautnya cukup tinggi sehingga ayunan kapalnya sangat terasa. Mungkin kalau yang duduk disamping saya bukan rekan kerja akan terlihat seperti Rose & Jack di film Titanic. Kami duduk berdampingan dan menikmati pemandangan. Saya merasa seperti kapten Jack Sparrow saja deh.Hahaha.

Rute tempat wisata dan kegiatan hampir sama dengan dua tahun lalu. Snorkeling. Pantai Tanjung Tinggi. Pulau Lengkuas. Kawah Kaolin. Batu Garuda. Dalam dua perjalanan ke tempat yang sama tetap saja saya memperoleh hal dan pengalaman yang baru. Bagaimana apakah saya berani untuk snorkeling? Pertama kali saya snorkeling di Belitung dan sejak itu saya trauma nyebur laut. Dan di Belitung kini pun saya masih enggan untuk nyemplung. Jadi fotografer teman-teman saja dari kapal. Hehehe. Sayang sekali,Mercusuar pulau Lengkuas sedang dalam renovasi. Jadi kami tidak bisa melihat keindahan Pulau Lengkuas dari atas. Kopi Belitung! Ah saya belum mencicipinya dulu. Akhirnya mampir juga ke warung kopi. Saya memesan kopi susu. Rasanya kopinya unik dan bikin saya ketagihan.


Kopi Belitung *sluuurrp*

kawah kaolin


Perbedaan yang saya lihat di Tanjung Pandan yaitu lebih ramai dan lebih banyak hotel. Bagus donk. Pariwisata Belitung semakin terkenal dan untuk menunjangnya perlu akomodasi yang baik di Belitung. Hotel Santika yang dulu dalam konstruksi sudah jadi. Jadwal kami bertepatan dengan hari jadi kota Tanjung Pandan dan ada perayaan di pergantian hari di Simpang Lima batu Satam. Semoga keindahan Belitung mendunia ya. Semakin banyak turis yang datang tentunya akan membawa dampak perekonomian yang positif bagi masyarakat Belitung.

Saya sempat mengalami insiden sedikit. Tas kamera kena air laut secara tak sengaja oleh Abang Guidenya. Kameranya sedang dipakai, aman. Blackberry saya yang terletak di saku depan tas yang kena. Hikshikshiks. Mati total (T.T). Tidak ada harapan begitulah pendapat teman saya jika handphone kena air laut. BBnya korsleting. Saya anggap biaya perbaikan BB masuk dalam biaya jalan ke Belitung. :(


Dua kali jalan-jalan saya ke pulau Belitung, Belitung Timur masih belum terjamah. Jadi tunggu saya kembali lagi ya Belitung. :*

Ke (m) Bali

Tanjung Benoa



Selang dua minggu dari cabut ke Bali rame-rame bareng teman-teman kuliah, gw balik lagi ke Bali. Kali ini acara jalan-jalan yang disponsori gratis dari kantor. Saya merasa beruntung sekalinya ke Bali dalam 2 minggu berdekatan. Aheey,mari kita outing. Enaknya kalau ada yang bayarin dan ada yang mengurus tidak perlu pusing-pusing tinggal bawa diri aja. Hahaha. Penerbangan bukan pula budget airlines. Waktu mendarat di Bali dikalungin bunga oleh gadis-gadis Bali. Enak ya liburan gratis. :D

Watersport @ Tanjung Benoa

Agenda pertama yaitu watersport. Watersport terdiri berbagai kegiatan Parasailing, Banana Boat, Jet Ski, dan Flying Fish. Cuacanya di Bali waktu outing lagi bagus. Panas terik. Secara tidak disadari saya lebih suka cuaca yang panas kalau lagi jalan-jalan. Hujan atau mendung menurunkan mood saya. Cuaca boleh cerah, Acaranya juga asyik tapi suasana hati bertolak belakang dari riang gembira. Ini berkaitan dengan seseorang yang tadi membuat gw jatuh cinta di Bali sebelumnya. Ah sudah lah mari menikmati keindahan pulau dewata.

seruuuu
Parasailing. Saya tidak takut ketinggian tapi terbang hanya dilengkapi harness bikin deg-degan juga. Saya berdiri cukup lama memperhatikan teman-teman yang mencoba duluan. Lama kelamaan yang tersisa adalah orang-orang yang masih takut atau mikir-mikir kayak saya. Rasanya sudah hafal penjelasan dari guidenya. Hahaha. Pekik girang mereka menguatkan tekad saya juga. Fuhhhh,bismillah! ‘Lari ya mbak’, kata guide. Satu dua tiga…. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!! I’m flying!! It’s so beautiful. :'). Kaki menggantung di udara. Pemandangannya Tanjung Benoa dari udara sungguh cantik. Keasyikan menikmati pengalaman terbang pertama kali jangan sampai lupa aba-aba dari guidenya. Itu bendera warna apa siy?,pikir saya. Bendera merah dan biru yang dikibarkan oleh guide tidak terlalu kelihatan dari atas. Instruksi dari guide lewat TOA juga tidak jelas. “Ooo merah”, setelah memicingkan mata. Tarik tali sebelah kanan kuat-kuat dan semakin dekat guide-guidenya akan menarik kaki saya ke bumi. Satu kata: seru!


Agenda kedua; Banana Boat. Saya juga baru pertama kali ini naik banana boat. Hahaha. Nothing’s special. Intinya saya berpegang kuat-kuat. Ogah jatuh ke laut. :p Terakhir naik Jetski. Untuk naik jet ski bisa didampingi oleh guide atau main sendiri. Demi 'safety first' mendingan saya sama guide. Jadi kayak boncengan tapi dia tidak akan menyentuh saya. Setelah kemudi jetski diberikan pada saya, jetski jalannya pelan. :D Maklum saya tidak bisa mengendarai motor,saya agak takut-takut mau tancap gas. Ah ini kan di tengah laut engga ada penghalang apa-apa. Saya beranikan mengencangkan pegangan tangan. Wusss, jetski langsung melonjak. Ngeeeengggg, adrenalin saya langsung naik berasa jadi pembalap deh. Wohoooooo seru banget ya ngebut di laut itu. :P 'Apa naik motor juga seperti ini? kalau gitu gw mau belajar naik motor', pikir saya. Di keluarga hanya saya sendiri yang tidak bisa naik motor. Hahaha.

Sehabis watersport agenda berikutnya baru dimulai sore. Yah kelamaan menunggu kloter 2 yang baru datang dari Jakarta. ‘Siapa yang mau ikut ke Sukowati?’,tanya ibu-ibu. Hampir semua mau ikut. Baru juga sampai Bali langsung beli oleh-oleh. Hahaha. Saya menahan diri jangan sampai kebablasan lagi belanjanya. Hemat-hemat uang saku selama di Bali *dikasih uang saku ama kantor* jangan sampai tekor. Hahaha.

Fun Rally: Kuta – Danau Bedugul – Tanah Lot

Konsep acaranya seperti amazing race. Setiap kelompok dapat satu mobil dengan petunjuk-petunjuk dan kuis. Kita mengikuti peta yang telah disiapkan. Bagi yang sudah mengenal Bali bisa lewat jalan potong. Kelompok kita kan baik hati dan jujur jadi nurut dengan peta di tangan. Pas banget niy dengan hari Saraswati yang memperingati ilmu pengetahuan. Anak-anak sekolah memakai baju adat Bali. Tantangan yang kita dapat yaitu memotret patung dewa ruci, beringin suci, keseharian masyakat Bali yang unik, petani Bali dan membuat canang sari. Kelompok lain ada juga yang disuruh foto sapi bali. Hihihi. Kita sibuk memperhatikan jalan kalau-kalau ada beringin suci. Saya sering juga bilang stop tiba-tiba kalau ada objek bagus untuk foto.

Dalam fun rally ini,ada dua objek wisata yang kami datangi yaitu danau bedugul dan tanah lot. Makan siang di Danau Bedugul setelah itu kita menempuh rute ke Tanah Lot. Tadinya mau mampir ke Joger dulu. Udah turun masuk ke dalam. Weewww! Rame banget sama anak sekolah. Pantesan ya parkirnya penuh dengan bus-bus besar. Antriannya juga engga nahan. Akhirnya kita keluar tanpa membeli apa-apa. Kelompok lain ada juga yang mampir dan mereka tertahan hingga 3 jam di Joger. Hahaha.

sedang khusyuk mancing di danau Bedugul
Sekalipun saya sudah pernah ke Tanah Lot dua minggu sebelumnya,ada bagian-bagian Tanah Lot yang belum saya kunjungi. Games di Tanah Lot lebih seru lagi karena harus mencari pos-pos panitia. Lari sana jalan sini sambil bersama-sama. Kompaknya kita capek pun bareng-bareng. Panitianya ada yang ngumpet di toko. Ada yang di ujuuuuuuung bukit. Dan yang paling sedikit bergidik di dekat ular putih.  Ular putih adalah ular penjaga yang sudah berusia ratusan tahun. Apakah anda berani? Saya berani donk. *bangga*. Ularnya dipegang ini sama penjaganya. Aman lah, padahal saya penakut sama ular. Hihihi. Jika menyentuhnya sambil mengucapkan keinginan atau pertanyaan di dalam hati, dipercaya keinginannya akan terkabul. Pas banget kan lagi gundah gulana,jadi saya menyentuhnya sambil mengucapkan sesuatu di dalam hati. ;). *disorot lagi sama camcorder panitia*.

Di Pura Karang Bolong

Malamnya malam kreatifitas masing-masing divisi perform di panggung. Yesss,Kelompok saya menang fun rally! Engga apa-apa juara 2 yang penting menang. Hahaha. Dan combo terbesar yaitu saya mendapat doorprize tiket PP Jakarta –Singapore. Alhamdulillah ^^




Sabtu, 04 Agustus 2012

Coal Mining City Tour : Sawahlunto




“Apa Zi ndak bosan nanti lihat batubara lagi?”,tanya teman dekat saya. Ia menanyakan kembali tujuan jalan-jalan saya yaitu Sawahlunto. “Engga, Zi belum pernah ke Sawahlunto” jawab saya. Semenjak bekerja di perusahaan kontraktor batubara, pemandangan tambang sudah biasa bagi saya. Jauh-jauh kerja hingga Kalimantan justru kota yang paling dekat dengan kota kelahiran saya, Solok, yang menyimpan sejarah penambangan batubara tertua di Indonesia. Bule ekspat di site antusias sekali ketika saya menyebutkan asal saya dari Sumatera Barat. “ Saya suka nasi padang. Dulu saya pernah di Sawahlunto”,ujarnya. Selain karena batubara,sejarah dari kota ini pun menarik bagi saya. Pemerintah Belanda mendatangkan narapidana buangan dari pulau Jawa untuk membuka tambang di Sawahlunto,orang-orang ini dinamakan orang rantai.

Perjalanan kami dari Solok naik motor, kira-kira memakan waktu 45 menit. Kota wisata tambang yang berbudaya, itulah slogan kota Sawahlunto yang saya lihat di pintu masuk ke kota. Dari pintu masuk tersebut, kita masih mendaki lagi dengan jalan berkelok-kelok. Menurut saya memang lebih seru naik motor besar apalagi bersama gebetan. Hihihi. Kebetulan juga Ayah dari teman yang mengantarkan saya pernah bekerja di Sawahlunto. Jadi ia lumayan kenal kota tambang ini. Pertama yang saya lihat dari kota Sawahlunto adalah bangunan silo yang tinggi menjulang. Saya senang melihat arsitektur bangunan lama ala kolonial berjejer dengan rumah Gadang. Cantik! Jika kita tengok ke arah bukit nampak tulisan “SAWAHLUNTO”. Potensi wisata Sawahlunto sangat lengkap yang terdiri dari wisata tambang, sejarah, kuliner dan banyak spot bagus untuk fotografi.

Senin, 30 Juli 2012

Semalam di Derawan

Just like dream come true, gw akhirnya menjejakkan kaki di pulau Derawan. Bertahun-tahun lalu, gw memimpikan berkunjung ke pulau Derawan. Berhubung biayanya tidak sedikit jika berangkat dari Jakarta, impian tersebut terkubur sementara. Engga sanggup beli tiket pesawat PP nya. :D. Gw pindah kerja ke kantor sekarang dimana salah satu site terdapat di daerah Kabupaten Berau. Nama Derawan kembali mencuat di angan-angan gw. Membayangkan gugusan kepulauan indah tak jauh dari tempat gw bekerja sangat menyenangkan. Kunjungan pertama gw ke Berau tahun lalu hanya sebatas kota Tanjung Redeb saja. Nah kemarin ga cuman gw aja yang pengen ke Derawan, senior dan bos juga pengen.Hehehe. Sambil menyelam minum air lah, site visit diselingi jalan bareng ke Derawan.


Starting poin dari Tanjung Redeb,kita berangkat sekitar jam 15.30 WITA. Untuk menyeberang ke Derawan,kita musti ke Tanjung Batu dulu. Selama perjalanan, sialnya satu mobil dicekcokin lagu Wali dan Ayu ting-ting ama drivernya. Dan layar dvdnya pas didepan muka. Huhuhu, gw jadi galau deh dengerin lagu Wali. Gw termasuk orang yang tidak bisa tidur dengan mudah kalau sedang di mobil jadi lebih memperhatikan pemandangan selama perjalanan sambil meresapi makna lagu-lagunya Wali.Hahaha. *galau mode:on*. Infrastruktur jalan termasuk bagus. Tipikalnya jalan di Berau, berkelok-kelok dan sepi. Gw sampe heran jarang ada mobil berpaspasan sama kita. Selain sepi dari kendaraan, sepi juga dari rumah penduduk. Setelah 2 jam 45 menit,sampailah kami di pelabuhan Tanjung Batu.
 


      pelabuhan tanjung batu

Cabut ke Bali Rame-rame

Pertama kali gw mengenal Bali yaitu melalui sebuah buku cerita perpustakaan sekolah yang berjudul ‘Darmawisata ke pulau Dewata’. Ketika itu gw masih duduk di kelas 5 SD, gw membacanya tidak sekaligus tamat,bagian per bagian ketika tidak ada guru atau setelah habis olahraga. Dari buku itulah gw mengenal tanah lot, pura Besakih, sangeh, dan tempat-tempat wisata di Bali. Saat itu gw tidak mempunyai bayangan seperti apa pulau Bali,ya jauh sekali dari kota Solok. Kesempatan untuk melihat apa yang tertulis di buku perpustakaan SD itu baru terwujud ketika gw berusia 24 tahun di 2012 ini.

Pantai Sanur

Setahun lalu tepatnya bulan Mei 2011; Air Asia Promo mulai 50.000! Huwoooh pengen pengen! Gw spontan YM teman-teman; alice, ana dan eka. Dengan perhitungan tanggal yang ajaib: 27 – 29 Mei (hari Minggu – Selasa),kita beli tiket promo ke Bali. Tambahan satu lagi Amel berangkat dari Surabaya. Yang udah sering ke Bali siy Eka. Selama setahun kita engga pernah ngebahas itinerary. Baru deh H minus berapa minggu baru deh kepikiran, kita mau nginep dimana, di bali mau kemana, trus nanti yang nyetir siapa, dan budget berapa. Eka engga jadi pergi karena ada psikotest di kantornya hari Selasa. Bagi gw ada satu masalah ketika mendekati hari H yaitu jadwal site visit. Pas banget gw disuruh ke Kalimantan (T.T). Untungnya gw beli tiket airasia pakai kartu kredit supervisor gw, jadi dia udah tau kalau gw mau ke Bali setahun yang lalu,Hahaha. Tapiiiii gw belum ijin sama HOD ternyata dia udah tahu duluan dari supervisor. H-1 gw baru balik ke Jakarta cobaaa. Sabtu baru mendarat dari Balikpapan, Minggu udah terbang ke Bali.

Minggu, 29 Juli 2012

Bapaneh-paneh di Bukittinggi

 

 The Famous of Jam Gadang

Bukittinggi merupakan salah satu ikon pariwisata Sumatera barat. Siapa yang tak tahu Jam Gadang, Ngarai Sianok, Lubang Jepang? Keindahan alamnya yang sejuk membuat betah. Mau wisata kuliner? Jangan ditanya lagi. Bukittinggi memiliki pusat kuliner yang terjamin enaknya. Saya terakhir mengunjungi Bukittingi di tahun 2002 waktu pulang kampuang. Sepuluh tahun berselang barulah saya kembali mengunjungi Bukittinggi bersama adik saya,Azar dan sahabat dari kecil,Piti. Kami berangkat dari Solok menggunakan bis Jasa Malino jurusan Solok – Bukittinggi.

Jalan-jalan ini sekalian kangen-kangenan sama Piti. Selama 10 tahun pula tidak bertemu. Kini kami telah dewasa dan bertukar cerita sepanjang jalan Solok – Bukittinggi. Perjalanan memakan waktu 2 jam. Karena bertepatan dengan hari Jumat, untung sampai di Bukittinggi pas jam sholat Jumat. Azar langsung ke mesjid buat sholat Jumat. Saya menghentikan langkah saat melihat plang nama sebuah toko. “Azia”. Akhirnyaaaa setelah bertahun-tahun baru menemukan nama kembar yang persis, Azia. :’) *lebay*.
kembar namanya :D

Selagi Azar sholat jumat, saya dan Piti memutuskan untuk jalan ke pasar Ateh. Saya tidak berniat untuk belanja kaos atau souvenir khas Bukittingi. Saya mau beli sandal datuk. Tapiiii engga punya uang (T.T). Haduh paling engga enak pas lagi liburan malah belum gajian. Jadi saya mengirit dan memperhitungkan setiap lembar ribuan. Tidak apa tidak beli oleh-oleh asalkan kita ke Bukittinggi saja sudah senang.

Biasanya hawa Bukittinggi adem dan sejuk. Ketika lagi kesana kita pas kebagian teriknya Bukittinggi. Paneh garang! (panas terik). Selagi asyik mengambil foto di pasar Ateh tanpa disadari ada lubang di jalan. Bruk! Piti sigap menahan badan saya sehingga saya pun jatuh setengah badan. Saya bisa merasakan luka lecet di lutut kiri tapi lebih sakit malunya itu lho. Jadi pusat perhatian uda-uda dan uni-uni. Alhamdulillah, kamera aman di tangan kanan. Be careful Ziiiii.. (-.-“)

Sambil menunggu sholat jumat usai,panas-panas begini enaknya minum es cendol durian. Kita berjalan ke pusat keramaian yaitu Jam Gadang. Aaaaa rindu hati sudah terpuaskan. :’). Wah ada upin-ipin! Beberapa tokoh kartun terlihat di sekitar Jam Gadang. Mereka badut-badut cilik yang jika berfoto bersama mereka harus bayar. Teriknya matahari Bukittinggi tidak menghalangi kenarsisan saya.Hahaha. Karena panas terik tidak banyak juga orang mau berfoto di dekat Jam Gadang. Piti lebih sering berteduh. Untuk mendapatkan pose yang oke harus tidak takut hitam jadi saya tetap asyik berpose dan memotret. Pulang-pulang, tangan dan kaki belang-belang sudah. Hahaha.

Fort de Kock

Setelah puas di Jam Gadang, saya ingin mengunjungi Fort de Kock. Piti bilang kalau letaknya engga terlalu jauh dari Jam Gadang. Jadi kita jalan kaki aja. Sambil tanya sana-sini, kita berhasil menemukan jalan potong yang tembus ke Fort de Kock. Lumayan juga bo jalan kakinya. *lap keringat*.

Kawasan Fort de Kock sangat cocok untuk piknik. Waktu SD saya pernah berwisata satu sekolah ke sini. Gelar tikar, keluarkan keranjang piknik. Angin sepoi-sepoinya bikin mata terlelap sekejap. Surgaaaa. Untuk bentengnya, saya sendiri bingung bagian yang dulunya benteng yang mana. Di atas Fort de Kock terdapat arena bermain untuk anak-anak. ‘bentengnya yang mana ya? Mungkin bangunan hijau ini’,saya menerka-nerka sendiri. Yang jelas menandakan dulunya ini benteng adalah keberadaan meriam-meriam. Sebenarnya kalau dibilang ‘benteng Fort de kock’ rada aneh jika diartikan. Kata Fort sendiri sudah berarti benteng. Kalau digabung berarti jadi ‘benteng benteng de kock’ :D



Benteng Fort de Kock ini didirikan oleh Kapten Baeur tahun 1825 diatas bukit Jirek negeri Bukittinggi sebagai kubu pertahanan pemerintah Hindia Belanda menghadapi perlawanan rakyat dalam Perang Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Ketika itu Baron Hendrick Markus de Kock menjadi komandan de Roepoen dan wakil gubernur Hindia Belanda. Dari sinilah nama lokasi ini menjadi benteng Fort de Kock.- Informasi yang tertera di batu peresmian benteng.


Kami berjalan terus ke arah jembatan Limpapeh. Dari jembatan kita bisa melihat pemandangan kota Bukittinggi. Jembatan ini menghubungkan Fort de Kock dengan kebun binatang Bukittinggi.


pemandangan dari Jembatan Limpapeh

Senin, 09 Januari 2012

Jakarta City Trip 2012 : Museum Nasional

Curah hujan di Jakarta sudah mulai meninggi. Artinya sudah masuk musim hujan. Hujan bikin malas keluar rumah apalagi jalan-jalan. Kalau bisa seharian guling-guling aja seharian di kasur karena cuacanya enak banget buat bobo. Sabtu kemarin udah gagal pergi keluar. Nah adek gw, Alam, menagih janji gw mulu yang katanya mau ngajakin jalan ke museum. “ah uni..ngomong doank niy”,katanya dengan sebal. Sebenarnya gw rada engga enak badan juga,bersin-bersin mulu kerjaan. Tapi lebih engga enak lagi disebelin ama adek-adek ya mukanya merengut semua. Hahaha. Untuk mengembalikan citra seorang kakak ,akhirnya berangkat juga ke museum nasional. Gw pun menjajal buswei koridor pulogebang-kp melayu. Lumayan kan kalau untuk perjalanan jauh, worthied banget cuman bayar 3.500/orang,hehehe.




Tepat jam 12.00 nyampe Museum Nasional. Munas tepat berada di seberang Monas (monument nasional). Kalau naik buswei tinggal turun di halte Monas. Gampang bukan? Adek-adek gw sebenarnya udah pernah study tour ke museum nasional tinggal gw yang belum pernah. “Disini banyak bule lho ni..”,kata Wiya. “trus..?”,kata gw. “minta foto bareng yuk”,jawabnya. “………”,gw. Harga karcis masuk museum muree meriah. Lucu banget lagi pas mau beli ditanyain “tiga-tiganya masih sekolah?” tanya petugas museum. Gw terdiam, bengong. Apah?? Gw dianggep anak sekolahan?? pikir gw. Alhamdulillah,kejadian langka ini.Hahahaha. Dengan Rp 9000 saja (1 tiket dewasa & 2 anak-anak),kita bisa belajar sejarah di Museum Nasional.