Pages

Selasa, 18 Oktober 2011

Jakarta City Trip : Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia (2011)
Selasa - Jumat : 08.00 - 15.30 WIB
Sabtu - Minggu : 08.00 - 16.00 WIB
Senin & Hari Libur National Tutup

Museum Bank Indonesia (BI) adalah salah satu museum yang dapat dikunjungi di kawasan kota tua Jakarta. Museum yang terletak berdampingan dengan Museum Bank Mandiri telah menarik minat saya sejak lama. Hanya saja ketika saya sedang berada di kota tua belum ada kesempatan untuk mengunjungi museum Bank Indonesia. Sabtu kemarin bersama kedua adik, saya mengunjungi Museum ini.

Dari fisik gedungnya sangat kentara sekali arsitektur bangunan kolonialnya. Penampakannya juga bagus dan bersih mungkin karena belum lama dipugar. Selama perjalanan menuju kesana, saya bertanya-tanya berapa ya harga tiket masuknya. Azar sudah pernah kesana dengan teman-temannya namun ia sudah lupa apakah bayar atau tidak untuk masuk ke museum. Cuaca Jakarta cerah dengan langit birunya. Alhamdulillah, sudah lama langit Jakarta akhir-akhir ini muram kelabu .
touch screen media display

metamorfosa logo BI

Ketika memasuki museum harus melewati metal detector. Berhubung satpamnya lagi engga ada jadi kami tidak diperiksa tapi  diawasi oleh satpam yang berdiri di lantai atas. Pengunjung harus menitipkan tas bawaan ke petugas museum. Kamera diperbolehkan masuk. Dan tidak perlu membeli tiket masuk alias GRATIS. Baru saja masuk, Azar langsung sibuk dengan dinding yang ditaburi koin-koin digital. Cring..cring..cring,bunyinya. Ternyata jika disentuh dengan tangan koin tersebut bisa tidak jatuh tapi jangan sampai mengenai dindingnya.

Sejarah Bank Indonesia sebagai bank sentral tidak bisa dipisahkan dengan sejarah Indonesia sendiri. Apa yang dulu saya pelajari di pelajaran sejarah yang berkaitan dengan peran bank sentral juga ada di museum BI ini. Ruangan pertama terdapat miniature kapal,pendaratan bangsa asing di Indonesia dan sejarah perdagangan rempah-rempah plus ada contoh rempah-rempahnya seperti buah pala, ketumbar, lada dan lain-lain. Seperti museum Bank Mandiri disini terdapat juga diorama meneer-meneer.

seragam tentara Jepang
Setelah itu lanjut ke ruangan yang menceritakan sejarah kolonialisme di Indonesia secara singkat. Ada foto-foto meneer (lagi) dan meuvrow ketika Indonesia masih disebut Hindia Belanda. Terus uniknya di lantai ada display seragam tentara Belanda, Jepang dan Indonesia.Sejauh pengalaman saya mengunjungi museum-museum di Indonesia menurut saya museum BI ini yang paling canggih. Pengunjung bisa membaca sejarah BI melalui layar touch screen. Di setiap diorama yang ada ditunjang dengan backsound yang sesuai dan ada juga plasma tv yang memutarkan suasana sesuai dorama. Misalnya tentara yang digambarkan sedang bertempur bakal ada suara rentetan senapan dan plasma tv nya memperlihatkan tentara yang sedang bertempur di hutan. Namun tidak sebatas peristiwa tempo doeloe saja, peristiwa yang terjadi dalam sepuluh terakhir juga ada seperti krisis moneter 1998, tsunami Aceh 2004 dan bom Bali.

Pintu berikutnya membawa pengunjung ke bagian tengah Museum. Wuih bagusnyaaa. Bersih dan langit cerah. Saya sendiri memang suka dengan bangunan kolonial jadi tidak melewatkan mengambil foto disini. Sayangnya pemandangan mata ke taman bawah Museum BI gersang,hanya ada tunas-tunas pohon. Ada spot 'foto digital' yang disediakan museum jika ingin menggantikan RA Kartini dalam pecahan uang sepuluh ribu. Kalau dilihat luasnya bangunan museum tidak sampai setengahnya yang diperuntukkan untuk display koleksi museum. Pengunjung tidak bisa melihat-lihat ke ruang bawah.
tempat yang cocok buat studi banding pelajaran ekonomi :)

Bagian berikutnya lebih fokus dan berkaitan dengan peran BI sebagai bank sentral. Ada ruang brankas yang isinya batangan-batangan emas. Jalan sebentar lagi memasuki ruangan brankas yang lebih luas yang mendisplay uang dari jaman penjajahan hingga sekarang. Display uang dibantu dengan kaca pembesar jadi detail dari uang bisa dilihat secara jelas. Saya sempat bernostalgia dengan uang-uang yang dulu dipakai waktu kecil. Masih ingat tidak dengan lembar Rp 500 yang berwarna hijau bergambar rusa?. ‘Uang Sirah’ sebutan untuk uang kertas pecahan seratus rupiah. Dulu sangat berharga bagi saya untuk jajan dengan seratus rupiah sudah beli ini-itu. Sekarang sudah tidak ada artinya lagi, pengamen juga marah kalau cuma diberi Rp 100. Di lemari geser terdapat mata uang asing yang diurutkan berdasarkan asal negara.

Museum ini memang tidak ada pemandunya namun bukan berarti pengunjung bisa seenak saja. Setiap ruangan ada kamera CCTV dan petugas museum juga mengecek ruangan. Ada peringatan tertulis untuk lokasi-lokasi tertentu sebagai pengunjung yang bijak hendaknya ditaati ya. Jangan menyentuh benda pamer. Jangan melewati pembatas yang disediakan. Kemarin saya sempat melihat  pengunjung yang mengambil foto dengan melewati pembatas,lalu kebetulan ada petugas yang lewat dikasih tahu deh. Ada yang tempat yang beresiko seperti ruangan brankas yang didalamnya mendisplay mata uang Indonesia mulai dari koin-koin dan uang kertas. Pintu masuknya tebal dan petugas mewanti-wanti rombongan pengunjung ABG agar tidak bermain-main dengan pintu. Kalau tertutup susah lagi nariknya,beratnya 12 ton. Lalu untuk pintu masuk dan pintu keluar jangan diputar sembarangan ya. :)

Sebelum pintu keluar,Ada dinding yang memuat foto-foto gedung BI dari beberapa daerah di Indonesia. Bentuk gedung BI tersebut memang unik-unik. Ketika saya berkunjung ke daerah seperti di Medan, Solo, Makassar, saya kagum dengan arsitektur gedung BI. Untuk pengunjung ada souvenir-souvenir museum BI yang dapat dibeli . Saya mau beli tas kain yang gambar museum BI tapi tidak ada petugas yang jaga. Tanya ke petugas penitipan tas,eh counter souvenirnya tutup (T.T). Yahh padahal pengen banget ama tas nya :(.

Foto-foto lainnya dapat dilihat di akun flickr saya :  Museum Bank Indonesia

1 komentar: