Pages

Rabu, 29 Juni 2011

Jakarta City Trip : Pekan Raya Jakarta 2011

Dalam menyambut ulang tahun kota Jakarta setiap tahunnya selalu diadakan event Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang berlokasi di Kemayoran. Event tahunan ini pertama kali diadakan pada tahun 1968. Rasanya sudah bertahun-tahun lalu ke PRJ,entah waktu saya masih SMA atau SMP saya sudah tidak ingat. Dan tahun ini,adik-adik saya ingin sekali ke PRJ. Walaupun engga ada spesifik mau hunting apa ‘pokoknya ke PRJ’. Berangkat lah kami bertiga, saya dan adik-adik cowok demi mengisi libur nasional kemarin.

Saya pernah mendengar berita bahwa ada bus transjakarta yang disediakan ke arena PRJ.Berdasarkan tanya sana-sini ke petugas di halte bus Transjakarta, Kami naik bis ke arah Pulogadung turun di Balaikota. Pas turun di halte Balaikota terdapat tulisan pengumuman yang menyatakan bahwa bis yang ke arena PRJ ada di lapangan parkir Monas. Dan ada spanduk dari Jiexpo mengenai shuttle bus tersebut. Sepertinya tidak menggunakan bus Transjakarta seperti yang saya kira. Ternyata yang menunggu sudah banyak bis tersebut, anehnya buka di lapangan parker Monas tapi di tepi jalan.

Ketika bis datang, kernet menyuruh kami ke dalam. Jadi bingung kan,memang di halte bus transjakarta diberikan pengumuman di lapangan parker namun ada Bapak-bapak yang menyuruh tunggu di tepi jalan. Yasudah,kami menuju lapangan parkir. Disanapun sudah banyak yang menunggu.Dilihat dari bis yang disediakan rasanya tidak terangkut semua deh pikir saya. Walaupun disediakan shuttle busnya bis Blue Bird yang besar. Benar saja,udah rebutannya parah,akhirnya kami engga dapat bis. Harus menunggu lagi sementara yang datang juga makin bertambah. ‘Engga usah ke PRJ yuk,kita main-main aja di Monas’,ujar saya. ‘tanggung uni udah disini, tunggu bis berikutnya deh’, jawabnya. Seperti mau perang saja, naik bis pun pakai strategi,lihat dulu pintu bisnya. Namanya juga gratisan,pasti banyak yang mau. Kita warga Jakarta yang tak punya alat transportasi pribadi tentu saja memanfaatkan fasilitas buat publik.

Ketika bis yang kedua datang,orang-orang sudah berebutan. Tapi bisnya mundur-mundur terus hingga agak dekat dengan posisi kami berdiri. Jika pernah berdesak-desakan waktu naik Bus Transjakarta tahulah bagaimana rasanya,tapi ini 10x lebih buruk! Najong! Dorong-dorongannya amit-amit. Kena gencet kiri-kanan. Engga kuat desak-desakan mendingan ngalah naik bajaj atau taxi aja. Dalam keadaan seperti itu rawan banget kecopetan karena tidak waspada. Sementara yang paling depan nahan! What the hell!!! Oke lah kita pergi bareng-bareng keluarga mungkin takut terpisah. Tapi kenapa engga naik ke bis dulu baru narik anggota keluarga lainnya. Ini tidak, di depan pintu bisnya kosong. Sementara yang mau naik dihalangi dengan orang yang di kiri. Belum lagi yang bawa anak-anak. Minta diberi pengertian, dalam keadaan ‘chaos’ begitu sudah risiko anak/lansia bakal kegencet. Perjuangan yang dahsyat bisa naik ke bis. Bodo amat deh jadi objek foto orang-orang yang menganggap kejadian tersebut lucu. Siapa yang patut dipersalahkan? Tentu saja pihak penyelenggara. Engga mikir apa, nyedian shuttle bis cuman 4 biji!! Hellooo, warga Jakarta ada berapa juta! Brutal banget deh dorong-dorongannya. Kalau bukan adik-adik yang maksa ke PRJ,ogah amit-amit deh kesana. Setelah turun di PRJ, hiruk pikuk penuh keramaian.


Ramai sekali bukan?

Baru sampai saja sudah ingin pulang rasanya. Harga tiket Rp 25.000/orang. Lumayan ya kalau datangnya bertiga. Di balik tiket terdapat berbagai kupon-kupon makanan dan minuman. Alam yang tidak mengerti trik-trik ‘tukarkan kuponmu dapatkan bla..bla..blaa’ dikiranya gratisan. Dapat donat. Dapat minuman kemasan. Tentu saja ada persyaratannya,entah musti beli minuman dahulu baru gratis donat, untuk pembelian minuman sejumlah xxxxx, dan sebagainya yang intinya engga ada yang gratis.

Saya sudah janji untuk mengganti Handphone Azar yang sudah rusak parah. Kita keliling area pameran handphone. Baru sadar merek handphone banyak banget. Perusahaan elektronik aja memperluas produknya ke segmen mobile phone. Untung saja punya adik yang tidak neko-neko meminta handphone yang well-branded. Jatuh lah pilihannya ke sebuah handphone yang harga 300-an. Alangkah lucunya ketika membayar,hanya kartu BCA saja yang bisa debit/credit. Sementara saya memakai debit mandiri tidak bisa melakukan transaksi. ‘Silahkan ke atm dulu mbak..dekat kok dari sini..keluar belok kanan’,ujar SPG. Shoot!! Karena baru saja melewati antrian orang-orang di stand Mandiri,antriannya kayak ular tangga. Bete banget! Gimana mau omset besar kalau tidak menawarkan fasilitas yang memadai. Yang herannya ini stand elektronik yang harganya bukan seratus dua ratus juga,bahkan sampai jutaan harga produknya. Zaman udah canggih gini tinggal gesek kartu gitu lho. Gitu aja kok repot. Walaupun harga cuma 300-an,duit di dompet tinggal 200 ribu. Sengaja memang tidak megang cash banyak-banyak,selain rawan kecopetan di keramaian takutnya malah kalap belanja. Males ngantri akhirnya Azar yang ngambil ke atm.

Kita keluar area pameran, lihat stand-stand makanan. Jalan aja susah. Kesandung kaki orang. Kelindes kereta bayi. Mau duduk udah penuh. Ampunnnn.,sampai membuat saya berjanji: Kalau punya anak nanti engga bakal dibawa ke PRJ! Berikutnya kami berjalan ke hall pameran dari Pemda, BUMN, BUMD. Agak lebih sepi dari hall pameran produk elektronik. Justru disinilah spot favorit saya di PRJ. Stand-stand dari pemerintah kota di Indonesia. Berbagai produk local seperti batik, kain tenun,kain songket, handicraft, dan makanan daerah ada disini. Saya selalu tertarik dengan souvenir-souvenir yang unik dan pas (di dompet harganya).

Saya senang sekali bisa membeli bros keong yang Rp 10.000 dapat 3 bros.hohoho..Soalnya bross keong yang saya beli di Magetan dan Belitung sudah mau pensiun. Gelang banyak yang lucu-lucu. Karena saya penggemar gelang batu lucu,saya berhenti di setiap stand yang menjualnya. Tentu saja harga di PRJ lebih mahal ketimbang beli di daerah asalnya. Gelang batu-batuan dari Kalimantan yang saya sukai saja Rp65.000.hmmm,toko souvenir di bandara Banjarmasin kayak lebih murah deh. Yasudah,nanti saja kalau ditugasin ke Kalimantan lagi. Yang membuat kepincut dari liburan ke Belitong yaitu gelang akar bahar. Warnanya hitam eksotis. Keren banget, harganya juga setimpal lah dengan produknya. Tetap saja engga mampu beli,huhuhu. Yang saya mupeng liat dompet kulit pari,bagussss banget. Pas nanya harganya,Alam sampai berujar ‘busetttt’,bikin malu aja niy anak. Mantap lah harganya sesuai dengan jerih payah menangkap ikan Pari tapi keren banget dompetnya *dasarr*. Sebagai oleh-oleh buat Wiya dan Ayah,saya membeli pisang kepok Yen-yen dari Lampung. Sudah terjamin rasanya.


Alam bergaya di pintu masuk PRJ

Belum lengkap kalau ke PRJ belum nyobain kerak telor. Aheyy..penjual kerak telor menjamur. Dari luar areal PRJ hingga di dalam pameran. Karena sekalian mau pulang,saya memilih di luar areal PRJ. Sambil menonton kemacetan didepannya.Hahaha.Lumayan lho kerak telornya enak. Satu porsinya 12.000. Saya pesan dua porsi, yang satu makan rame-rame disana, satu laginya buat oleh-oleh orang rumah. Sebenarnya kami masih bingung pulangnya pakai apa,lewat mana. Untung saja Bapak penjual kerak telor menunjukkan jalan yang tidak macet. Sehingga rencananya tadi mau naik taxi/bajaj ke senen habis itu disambung naik metromini, bisa naik mikrolet 53 tujuan Pulogadung baru deh di Galur naik metromini. Bersyukur juga ke PRJ naik angkutan umum,kemacetan di kawasan Kemayoran luar biasa. Hufff,hari yang melelahkan. Ketika melihat brosur-brosur yang asal dimasukkan k etas, lelah dan sebal di PRJ menjadi terbayar melihat sebuah postcard dari Mentawai ^^.


kartu pos dari stand Kabupaten Mentawai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar