Pages

Senin, 07 Februari 2011

Jakarta City Trip : Museum Taman Prasasti

Minggu,30 Januari 2011,gw dan ketiga teman melakukan city trip. Awalnya kita pengen ke pelabuhan Sunda Kelapa karena satu dan lain hal,gw mengubah tempat tujuan. Museum taman prasasti terletak di tanah Abang persis didepan kantor walikota Jakarta Pusat. Sebenarnya museum taman prasasti cukup terkenal dari tempat-tempat syuting video klip ataupun lokasi pemotretan buku tahunan anak SMA/SMP. Gw belum pernah sekalipun kesana. Gw tertarik untuk mengunjungi museum tersebut setelah membaca sepintas mengenai istri Sir Thomas Stamford Raffles yang tadinya dimakamkan disana. Piknik ke kuburan terdengar spooky. Apalagi teman gw, eka,tidak tahu bahwa museum taman prasasti tadinya adalah kawasan kuburan tua dari jaman penjajahan Belanda.Hahaha. Untung saja, Ana mengklarifikasi bahwa ‘isi’ dari kuburannya sudah dipindahkan,yang ada sekarang adalah nisan-nisan mereka,makanya dinamakan museum taman prasasti. Berhubung Ana sangat mengenal taman prasasti ini, secara kantornya tinggal ngesot dari museum, dia didaulat menjadi tour guide kita-kita. Hahaha.

Caranya mencapai lokasi yaitu dengan naik bis Transjakarta rute Blok M-Kota, berhenti di halte Monas. Kita menyebrang ke arah museum nasional dan berjalan kaki kira-kira 7 menitan. Museum tersebut diapit oleh kantor Walikota Jakarta Timur dan kantor KONI. Walaupun terletak dikawasan perkantoran. Khusus didaerah taman prasasti ini rimbun dan terasa adem seperti hutan yang terletak ditengah-tengah kota.
Gw pikir taman prasasti ini besar lho. Ternyata gw salah yang tidak seluas yang gw bayangkan. Untuk karcis masuk, kita membayar Rp 2.000. Kesan spooky tidak gw jumpai karena ternyata banyak orang! Mereka berpakaian hitam-hitam dan sibuk berfoto-foto narsis dengan make-up yang oke. *tepok jidat* Tuh kan gw pasti ketemu ama anak-anak SMA yang lagi foto BT (buku tahunan), ujar gw dalam hati. Masing-masing kita mengeluarkan kamera dan mulai sibuk sendiri mengabadikan berbagai nisan, prasasti, monumen, patung apa pun yang menarik perhatian.



Yang patut gw datangi adalah prasasti Olivia Raffles dan Soe Hok Gie. Untuk Soe Hok Gie yang secara pribadi sangat gw kagumi,jenazah telah dibakar dan abunya ditebarkan di Gn Gede Pangrango,namun dia sempat dikebumikan di taman ini. Itupun gw baru ngeh setelah baca infonya di wikipedia. Karena ini dulunya komplek pemakaman, tak heran banyak dijumpai patung-patung malaikat. Nuansa arsitektur kolonialnya juga sangat terasa. Karena sebagian besar yang dimakamkan dikubur dalam kurun waktu tahun 1700-an dan 1800-an ketika Indonesia masih dikuasai oleh Belanda.

Ada beberapa nisan yang unik tidak hanya tulisan jati diri yang dimakamkan tetapi ada juga yang membangun replikanya ketika semasa hidup. Misalnya ini, patung seorang pastur hindia Belanda. Diatas terdapat patung kecil beliau sedang memegang buku sementara disisi-sisi monumen terdapat relief-relief dari kegiatan beliau. Umpamanya mengunjungi orang sakit dan menggendong anak kecil. Ada juga prasasti bernuansa Gothic. Karena masih dikuasai anak-anak SMA yang masih berfoto-foto ria, gw berkeliling taman hingga ke sudut-sudut yang tidak banyak pengunjung.

Ternyata hari itu, museum taman prasasti tidak hanya laris untuk foto buku tahunan, nampak sepasang kekasih sedang berfoto mesra layaknya foto-foto prewedding. Ah gw turut berbahagia deh sambil melewati mereka dengan cepat. Dengan penguasaan kosakata bahasa Belanda yang terbatas, gw mencoba membaca kata-kata yang tertulis di prasasti. Misalnya tuan X...geboren op de salatiga 17xx..Overlende op de Batavia 17xx. ‘Ini artinya dia meninggal di Salatiga nih Na’,ujar gw dengan pede ke Ana. ‘Lho kok tahun yang ini *sambil menunjuk overlende* lebih gede dari yang itu *maksudnya geboren*,katanya. ‘O iya..salah deng..yang Geboren artinya lahir..Overlende artinya meninggal’,jawab gw malu..huwahahaha..makanya jangan sotoy zi :P Gw kira hanya meneer-meneer dan mevrouw-mevrouw yang dimakamkan disini. Ada juga orang cina, orang Amerika, orang Perancis dan ada juga monumen penghormatan gugurnya tentara jepang ketika masa perang dunia kedua.

Selain memotret,gw mendapati kesenangan membaca tulisan-tulisan di prasasti. Kita juga bisa mengenali latar belakang orang yang dimakamkan, ada yang semasa hidupnya arsitek, pedagang. Jika diperhatikan benar-benar kadang bisa menemukan relief-relief unik yang merupakan lambang keluarga mereka. Semakin gw berjalan ke sudut yang tidak ramai pengunjung nampaknya semakin tidak terurus prasastinya berbeda dengan letaknya dekat dengan pintu masuk. Gw menemukan satu prasasti yang penuh dengan corat-coret tangan-tangan iseng. Oh My God, kenapa sih hampir setiap tempat wisata gw menjumpai tindakan vandalisme seperti ini. Apakah ‘kreativitas’ orang-orang Indonesia tidak bisa disalurkan dengan baik pada medium yang seharusnya? Sedih..Sebel..Bete..dan Kasihan itulah perasaan gw sebagai pengunjung. Kenapa kita tidak bisa menghargai sedikit pun atas peninggalan-peninggalan bersejarah yang kita miliki bersama?




lihat betapa kotornya tangan-tangan manusia

Gw menunduk kembali membaca nama prasasti-prasasti tersebut. Langkah gw terhenti di satu prasasti kecil. Gw tertegun dengan quote yang berada disana. ‘Nobody see The Trouble I see, Nobody knows my sorrow’. Quotes ini merupakan quotes dari ‘seseorang’. Mata gw naik membaca tahun kelahiran dan tanggal kematiannya. Lahir 17 Desember 1942 dan wafat 16 Desember 1969. Wah,mungkin inilah yang paling muda,pikir gw. Dan gw tercekat ketika membaca namanya yang tidak terlalu kelihatan, SOE HOK GIE. Disinilah pernah terkubur idola gw, GIE. Langsung gw memanggil teman-teman gw. Sosok Gie sendiri merupakan legenda dalam sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia. Catatan-catatan pribadinya diterbitkan ke dalam buku ‘Catatan Seorang Demonstran’. Kisah hidupnya sempat diangkat ke film layar lebar besutan sutradara Riri Riza, Gie (2005). Dari prasasti-prasasti lain, prasasti Gie nampak tidak mencolok bahkan ujung prasastinya tampak agak miring dan menghunjam tanah. Mungkin sejauh penemuan gw hanya Soe Hok Gie orang Indonesia yang ada prasastinya. Entahlah,mungkin masih ada yang lain. Kata Ana *lagi-lagi ana*,batu-batu nisan yang dijadikan prasasti ada banyak dan ditumpuk karena sudahh tidak muat di museum ini. Bayangkan saja dulunya dari kantor walikota jakarta pusat hingga kantor KONI merupakan kuburan (kober) tua Belanda lalu dipersempit hingga menjadi Museum Taman Prasasti. Untung saja Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin ditahun 1977 meresmikan taman ini menjadi bangunan bersejarah.


Nobody knows the troubles I see,nobody knows my sorrow - quotes favorit GIE


Prasasti Soe Hok Gie >.<

Rombongan anak SMA masih asyik berfoto-foto. Pelan-pelan gw mendekati tempat mereka. Curang banget yah prasasti yang bagus dikuasai duluan. Inilah salah satu prasasti yang bergaya gothic. Dengan taktik mengendap-endap seketika mereka lengah langsung aja gw rebut spot yang cantik ini. Hahahaha. Sekarang giliran gw yang jadi tontonan. Mau mejeng disini,eits ntar dulu..antri cuyy. Gw tersenyum dalam hati. Hahaha. Setelah gw mendekati prasasti tersebut gw mengerti mengapa prasasti ini terlihat megah dari sekitarnya. Karena yang punya dulunya adalah komandan militer Belanda. Tampaknya semakin tinggi posisi seorang semakin bagus dan megah prasastinya. Hal ini gw jumpai juga di prasasti lainnya yang ternyata semasa hidupnya ia adalah seorang Residen di Pasuruan.

Pencarian gw akan prasastinya istri Raffles tidak berujung. Kok ga ada nama Oliver ya? Setelah berkeliling, gw menyerah dan akhirnya bertanya ke petugas museum. Si Bapak dengan ramah menunjukkan prasastinya. Haduh,lagi-lagi keberadaannya tidak mencolok. Prasasti tersebut terletak disisi yang paling dekat dengan lapangan kantor walikota. Wuih ana bisa ziarah tuh tiap apel hari senin,hehehe :D Prasastinya berbentuk kijing. Sayang sekali tulisannya tidak terbaca. Gw memicingkan mata untuk melihat lebih jelas. Bahkan ketika difoto pun tidak terlihat tulisannya.


Prasasti Olivia Raffles, istri dari Sir Thomas Stamford Raffles

Ada lagi yang ingin gw lihat yaitu peti mati Bung Karno dan Bung Hatta. Peti-peti tersebut terletak diruangan khusus. Kata Ana,selain ada peti mati proklamator Indonesia,kita juga bisa membaca informasi mengenai siapa-siapa saja yang dulunya dimakamkan disana. Aaaaaaaaaa gw sebel karena tidak bisa masuk. Ruangan tersebut dijadikan tempat penitipan barang anak-anak SMA yang sedang foto buku tahunan. Damn! Gw tidak masalah jika mereka menguasai spot-spot yang cantik. Ketika mereka bilang menyewa ruangan tersebut untuk penitipan barang-barang mereka, gw jadi sebel banget. Oke lah,museum ini dikomersilkan untuk kepentingan foto ataupun syuting tapi tidak berarti mengorbankan pengunjung lain yang juga ingin dan mempunyai hak untuk menikmati taman prasasti ini.aaah bete!

Dilihat dari luasnya taman ini sebenarnya kecil,tapi mengelilinginya cukup capek juga. Sekitar jam 1an,kita mengakhiri piknik di kuburan ini. Banyak yang bisa dikagumi dan banyak juga yang bisa dijadikan kritik. Kunjungan yang singkat bahkan tumben-tumbennya hasil jepretan gw dikit tapi memberikan gw pengalaman yang baru. Simple trip but meaningful :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar