Pages

Rabu, 12 Januari 2011

Lawang Sewu Trip

Tutup tahun 2010 sudah lewat berhari-hari yang lalu. Rencananya di malam tahun baru, gw ingin berpesta blogging. Apalagi ada lomba di kompasiana yang menantang untuk posting tulisan 6 jam di tahun 2010 dan 6 jam di tahun 2011. Di pikiran gw pun ada banyak hal yang ingin gw tuliskan. Hanya saja gw terlalu lelah untuk menulis. Pada tanggal 31 Desember kemarin, gw berada di Pati,salah satu kota di Jawa Tengah. Penugasan interim di klien yang rutin. Sebenarnya kita udah mau pulang di tanggal 31 desember, ketika kita mau mengurus tiket pulang,ternyata charge tambahannya di atas perkiraan kita. Ya apa boleh buat, kita memutuskan untuk menginap semalam di Semarang menunggu penerbangan pulang ke Jakarta.

Jarak perjalanan Pati – Semarang ditempuh dalam waktu 2 jam. Kita melewati dua kota terlebih dahulu, Kudus dan Demak. Biasanya memang 2 jam namun kondisi jalan Pati – Kudus yang rusak parah membuat waktu tempuh lebih lama 1,5 jam. Itupun kita harus memutar melewati daerah gembong. Kita sempat mampir untuk makan malam di Kudus. Soto kudusnya enak banget. Soto terdiri dari dua macam, soto ayam atau soto daging kerbau. Biasanya soto disajikan di mangkuk yang tidak besar. Jika ingin menambah dengan sate jeroan juga ada. Sayang sekali, kita nyampe Kudus sudah malam, jadi tidak bisa melihat Menara Kudus yang termashyur itu. Perjalanan kembali dilanjutkan, yang gue heran kenapa ya jalur lintas kota sepenting ini penerangan jalannnya minim sekali. Padahal jalur ini merupakan jalur pantura yang dilewati berbagai bis dan truk kontainer. Truk-truk kelas berat banyak sekali. Gw jd takut klo mobil yang ditumpangi berpas-pasan dengan truk gandeng yang guede banget.

Di Semarang, kita menginap di hotel Semesta. Setidaknya hotel ini masih ada yang kosong dan harganya tidak naik. Gila aja buat semalam aja harus bayar 800 ribu.Udah gitu,yang bayar musti gw lagi sebelum direimburse kantor. Mendingan cari yang sesuai kantong,yang penting aman,nyaman dan bersih. Hotel Semesta lumayan bagus juga,namanya juga Heritage Hotel jadi ada bangunan tuanya gitu. Gw baru pertama kali menginap di hotel syariah. Jadi semua serba islami. Di kamarnya tersedia sajadah dan Alquran. Gw udah mau buka laptop ternyata musti connect lewat kabel LAN yang diambil di resepsionis. Huwaaa..males, udah di kamar turun lagi.

Perhelatan tahun baru di antara empat kota yang gw lalui : Pati, Kudus, Demak, dan Semarang berpusat di alun-alun kota. Alun-alun kota sudah siap dipasangi panggung musik dan orang-orang berjualan ikut meramaikan suasana. Penjual terompet sudah menggelar dagangan mereka sejak siang hari.Bahkan ketika melewati daerah pegunungan di sekitar Gembong ada juga pasar malam plus hiburan rakyat. Nah hotel gw cukup jauh dari alun-alun kota semarang yang lebih dikenal dengan Simpang Lima. Gw sudah cukup letih dengan perjalanan Pati-Semarang. Akhirnya memutuskan untuk tidak kemana-mana. Sebelum pergantian tahun baru, gw sudah terlelap dengan manis.

Pagi hari, salah satu junior gw pamitan duluan, dia mau beribadah ke Gereja. Kita bertemu lagi di bandara. Penerbangan pulang sekitar jam 16.30. Gw tinggal berdua dengan junior lainnya. Sebelum kita jalan, kita cari ATM niaga dulu. Kesalahan fatal gw waktu ke Pati adalah tidak membawa kartu ATM! Hahaha..Bodoh banget deh gw. Kartu ATMnya ketinggalan ama adek gw. Duit di dompet tinggal 40 ribu. Akhirnya gw minjem dunk ke junior.wkwkwk *senior yang memalukan*. Untung saja kartu kredit engga ketinggalan, mau bayar hotel pake apa coba.

Hmmm...mau kemana ya? Gw siy pengennya ke Lawang Sewu. Udah lama pengen banget kesana cuman masih direnovasi(lama banget dari setahun lalu juga lagi direnovasi). Ya engga apa-apa siy sekedar foto didepannya :D Dari hotel ke Simpang Lima,kita naik angkot, bayarnya 2.000. Kita sempet muter-muter mall Ciputra dulu. Udah lama bo engga ketemu mall.Hahaha.Setelah itu kita bingung mau jalan-jalan kemana. Kita samperin tukang becak. ‘Klo muter-muter aja berapaan Pak?’ tanya gw. ‘muter-muter aja mbak..yaudah sejam nya 20ribu’,kata abang becak. Sebelum dia berubah pikiran, gw menerima tawarannya. Menurut gw siy murah sejam segitu. Ternyata kata Abang becaknya walaupun Lawang Sewu dalam renovasi dan pagarnya dikelilingi seng, pengunjung masih bisa masuk.yessss! oke, tujuan pertama: Lawang Sewu!


Lawang Sewu under renovation

Eh..belum juga nyampe Lawang Sewu,ketika melewati Jl Panandaran. Kita singgah dulu beli oleh-oleh.hahaha. Salah satu toko yang terkenal adalah Bandeng Juwana. Dari luar siy sepi soalnya masih pagi jam 10-an, tahu-tahunya didalam banyak orang. Banyak banget yang mau beli bandeng sampai harus ambil nomor urut. Untung saja, gw ga suka ikan bandeng. Jadi cepet milih-milih mochi trus langsung bayar deh. Trus gw jg beli tahu bakso buat orang rumah. Tahu baksonya enak lho.hehehe. Belanjaan kita dititip ama Abang becak.

Cihuyy, Lawang sewu aku datang!

Lawang Sewu bisa dibilang adalah ikon dari Kota Semarang. Bangunan kolonial ini berdiri kokoh di tempat yang strategis di semarang. Lawang Sewu seringkali disorot di program tv terutama program acara berbau mistis. Konon Lawang Sewu memang angker. Keangkerannya pernah diangkat kedalam film layar lebar, Hantu Lawang Sewu. Dulu waktu pertama ngelewatin lawang sewu memang begidik karena sudah bangunan tua, lumutan, tampak tak terawat. Munculnya pikiran yang aneh-aneh. Mulai beberapa tahun belakangan,pelan-pelan Lawang Sewu sudah mulai direnovasi. Lawang Sewu dahulunya adalah kantor dari PT kereta api jaman kolonial. Makanya terdapat sebuah kepala sepur didepannya. Lumayan rame juga pengunjungnya.




Karcis pengunjung sekitar 10.000/orang. Wow, mahal juga ya, jika dibandingkan museum Fatahillah yang cuma 1.000 rupiah. Lalu, untuk sewa guidenya bayar lagi sekitar Rp 30.000. Sebenarnya mau make guide tidak diwajibkan. Cuma daripada nyasar di Lawang Sewu, hiiii..mendingan kita cari aman sewa guidenya.wkwkwk *dasar penakut*. Kita patungan dengan rombongan sebuah keluarga jadi masing-masing bayar Rp 15.000.
‘Jika beruntung Mbak..bisa ketemu hantunya’, ujar petugas karcis. Ucapan selamat datang yang seram.hiiii..


bagus ya ^^

Karena kita berbagi Guide dengan rombongan keluarga, jadi barengan kemana-mana. Engga enak juga jadi tunggu-tungguan. Gw udah jalan nyampe mana, mereka ketinggalan entah dimana terus anaknya ada yang rewel. Rada engga enak juga klo Mas-mas guidenya jadi fokus ke kita berdua,pertama karena si Mas Guide jadi fotografer kita berdua. Biar cuma berdua orang hampir di setiap spot berhenti trus foto-foto dulu. Kedua, kayaknya yang tertarik dengan sejarah dan bawel tanya ini-itu adalah gw deh. Klo gitu kita bayar guidenya buat sendiri aja biar tidak ada pihak yang dirugikan.pfiuhh..


Ciluk..Ba! :P

Tak dipungkiri, walaupun siang hari tetap aja gw begidik menyusuri lorong-lorongnya. Mungkin sudah tersugesti dengan keangkeran Lawang Sewu. Di kompleks Lawang Sewu sendiri memiliki 6 bangunan. Dahulunya gedung ini digunakan perusahaan jawatan kereta api. Namanya juga Lawang sewu, pintu-pintunya buanyak banget. Engga kebayang itu juru kuncinya nutup dan kunci pintu satu persatu, kuncinya ada sebanyak apa ya? Bangunan utama sedang direnovasi sementara masih ada yang belum direnovasi. Menurut mas-mas guide bangunan ini masih bisa berfungsi untuk 70 tahun kedepan.


tetep narsis dimanapun :)))

Buat yang ingin uji nyali bisa dijajal di ‘Underground Lawang Sewu Trip’. Pengunjung dapat menjelajahi ruangan-ruangan bawah tanah. Disinilah tempatnya syuting 'dunia lain'. Dulu pernah sopir klien gw yang orang Semarang mengatakan ada monster di bawah tanah Lawang Sewu. Wuih, makin komplit aja cerita angkernya. Ruangan bawah tanahnya tergenang air, jadi harus pake sepatu bot. Belum juga nyampe ruangan yang menuju ke bawah tanah,gw diperingatkan oleh guide. ‘warna-warna cerah bisa menarik perhatian mbak..nanti ada yang ‘ngikut’ lho mbak..kayak merah atau pink’. Oh My God, gw lagi pake jilbab pink. Walaupun gw ga bakalan mau jelajah bawah tanah, parno juga dikasih tahu begitu. Bahkan buat foto ruangan bawah tanahnya aja gw ogah,ntar klo ada yg nongol di foto gw gimana,bisa-bisa pingsan gw. Di pojok gedung terdapat penjual souvenir berupa stiker, pin, uang kuno dan batu akik. Aura mistis juga tidak bisa dihindari di tempat souvenir. Salah satu pengunjung memegang sebuah uang kertas jaman dulu tampak khusyuk seperti sedang komat-komit. Waduwh, jangan-jangan duitnya ada ‘isi’ nya nih, jadi ngeri kan gw mau beli kalung koin ratu elizabeth. Akhirnya gw cuma beli gantungan kunci gambar Lawang Sewu dan stiker Underground Lawang Sewu Trip.hehehe..


silahkan..dipilih..dipilih..trus dibayar deh :D

Kedepannya masih dipertimbangkan apakah bangunan Lawang Sewu ini digunakan sebagai apa ujar Mas-mas Guide. Gw pernah baca di koran, Lawang Sewu kedepannya akan dijadikan kawasan perkantoran dan bisnis. Masih wacana siy. Menurut pendapat gw walaupun gw bukan warga Semarang akan lebih baik Lawang Sewu tetap dijadikan cagar sejarah. Daya tarik Lawang Sewu itu begitu kuat karena terletak di perempatan yang strategis. Belum lagi cerita-cerita angkernya akan bikin orang tambah penasaran. Pastinya akan banyak pengunjung apalagi karcis masuknya Rp 10.000, lumayan itu satu hari bisa 300-an orang yang berkunjung. Lagipula ada yang mau ngantor di Lawang Sewu? gw siy takutttt >.<

Selama satu setengah jam berkeliling Lawang Sewu,kita melanjutkan ke kota lama Semarang. Abang becak siy nawarin ke Klenteng Sam Poo Kong . Karena jam 2 sudah harus di Hotel lagi, kita memilih daerah kota lama yang termasuk cukup dekat dari hotel. Bangunan-bangunan lama memang spot yang bagus untuk foto-foto. Tapi gw ga sempat mampir-mampir dulu,melihatnya hanya dari becak. Tujuan utamanya adalah Gereja Blenduk. Kita memang cuma di luar aja karena sedang ada yang beres-beres buat ibadah. Gw sampai nyebrang jalan buat dapat spot yang bagus dan gerejanya kelihatan. Agak susah siy karena lalu lintas lumayan padat, pasti ada aja deh ‘figurannya’ entah itu mobil, bis, motor. Kita sengaja nungguin sampai engga ada yg lewat trus baru deh jepret secepat-cepatnya.hahaha..Waktu perjalanan pulang dari kota lama ke hotel, Abang becak menawarkan ke Klenteng Gang Lombok. Boleh deh, sekalian jalan pulang juga. Serasa lagi di shanghai deh.Beberapa tampak sedang khusyuk beribadah. Gw juga tidak ingin menganggu orang lain beribadah jadi hanya di pintu depan saja.


Di depan Klenteng Gang Lombok


Kota Lama Semarang - Gereja Blenduk

Wah, lumayan juga keliling selama tiga jam dengan becak hanya membayar Rp 70.000 dapat angin sepoi-sepoinya lagi. Mudah-mudahan jika ada kesempatan lagi ke Semarang bisa mengunjungi tempat-tempat wisata lainnya :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar