Pages

Jumat, 30 Desember 2011

'Secret Escape' to Danau Kembar

Danau di atas - Danau kembar


Tawaran jalan-jalan ke Danau Kembar oleh kawan semasa kecil gw langsung gw sambut dengan senang hati. Danau kembar adalah Danau Diatas (Danau Diateh) dan Danau Dibawah. Disebut Danau Kembar karena hampir sama luasnya dan letaknya berdekatan. Danau Kembar terletak di Kabupaten Solok, Alahan Panjang. Sekitar 1 jam perjalanan dari rumah nenek gw. Danau Kembar masih kalah pamor dengan Danau Singkarak dan Danau Maninjau. Sebagai orang Solok aja gw belum pernah berkunjung ke Danau Kembar *tepok jidat*.

Sawah dan sawah, itulah pemandangan yang lazim ditemui di kabupaten Solok. Kabupaten Solok terkenal dengan kualitas berasnya hingga ada lagu berjudul ‘Bareh Solok’. Perjalanan yang tidak membosankan.Jika gw diam menikmati pemandangan dan angin sepoi-sepoi maka kawan gw menoleh khawatir gw ketiduran. 10 tahun tak berjumpa,obrolan seperti air bah aja engga peduli hujan rintik-rintik. Cekakak – cekikik dengan laju motor yang santai. Hawa dingin mulai terasa ketika mendekati danau kembar. Brrrrr..

Selasa, 18 Oktober 2011

Jakarta City Trip : Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia (2011)
Selasa - Jumat : 08.00 - 15.30 WIB
Sabtu - Minggu : 08.00 - 16.00 WIB
Senin & Hari Libur National Tutup

Museum Bank Indonesia (BI) adalah salah satu museum yang dapat dikunjungi di kawasan kota tua Jakarta. Museum yang terletak berdampingan dengan Museum Bank Mandiri telah menarik minat saya sejak lama. Hanya saja ketika saya sedang berada di kota tua belum ada kesempatan untuk mengunjungi museum Bank Indonesia. Sabtu kemarin bersama kedua adik, saya mengunjungi Museum ini.

Dari fisik gedungnya sangat kentara sekali arsitektur bangunan kolonialnya. Penampakannya juga bagus dan bersih mungkin karena belum lama dipugar. Selama perjalanan menuju kesana, saya bertanya-tanya berapa ya harga tiket masuknya. Azar sudah pernah kesana dengan teman-temannya namun ia sudah lupa apakah bayar atau tidak untuk masuk ke museum. Cuaca Jakarta cerah dengan langit birunya. Alhamdulillah, sudah lama langit Jakarta akhir-akhir ini muram kelabu .
touch screen media display

metamorfosa logo BI

Ketika memasuki museum harus melewati metal detector. Berhubung satpamnya lagi engga ada jadi kami tidak diperiksa tapi  diawasi oleh satpam yang berdiri di lantai atas. Pengunjung harus menitipkan tas bawaan ke petugas museum. Kamera diperbolehkan masuk. Dan tidak perlu membeli tiket masuk alias GRATIS. Baru saja masuk, Azar langsung sibuk dengan dinding yang ditaburi koin-koin digital. Cring..cring..cring,bunyinya. Ternyata jika disentuh dengan tangan koin tersebut bisa tidak jatuh tapi jangan sampai mengenai dindingnya.

Sejarah Bank Indonesia sebagai bank sentral tidak bisa dipisahkan dengan sejarah Indonesia sendiri. Apa yang dulu saya pelajari di pelajaran sejarah yang berkaitan dengan peran bank sentral juga ada di museum BI ini. Ruangan pertama terdapat miniature kapal,pendaratan bangsa asing di Indonesia dan sejarah perdagangan rempah-rempah plus ada contoh rempah-rempahnya seperti buah pala, ketumbar, lada dan lain-lain. Seperti museum Bank Mandiri disini terdapat juga diorama meneer-meneer.

seragam tentara Jepang
Setelah itu lanjut ke ruangan yang menceritakan sejarah kolonialisme di Indonesia secara singkat. Ada foto-foto meneer (lagi) dan meuvrow ketika Indonesia masih disebut Hindia Belanda. Terus uniknya di lantai ada display seragam tentara Belanda, Jepang dan Indonesia.Sejauh pengalaman saya mengunjungi museum-museum di Indonesia menurut saya museum BI ini yang paling canggih. Pengunjung bisa membaca sejarah BI melalui layar touch screen. Di setiap diorama yang ada ditunjang dengan backsound yang sesuai dan ada juga plasma tv yang memutarkan suasana sesuai dorama. Misalnya tentara yang digambarkan sedang bertempur bakal ada suara rentetan senapan dan plasma tv nya memperlihatkan tentara yang sedang bertempur di hutan. Namun tidak sebatas peristiwa tempo doeloe saja, peristiwa yang terjadi dalam sepuluh terakhir juga ada seperti krisis moneter 1998, tsunami Aceh 2004 dan bom Bali.

Pintu berikutnya membawa pengunjung ke bagian tengah Museum. Wuih bagusnyaaa. Bersih dan langit cerah. Saya sendiri memang suka dengan bangunan kolonial jadi tidak melewatkan mengambil foto disini. Sayangnya pemandangan mata ke taman bawah Museum BI gersang,hanya ada tunas-tunas pohon. Ada spot 'foto digital' yang disediakan museum jika ingin menggantikan RA Kartini dalam pecahan uang sepuluh ribu. Kalau dilihat luasnya bangunan museum tidak sampai setengahnya yang diperuntukkan untuk display koleksi museum. Pengunjung tidak bisa melihat-lihat ke ruang bawah.
tempat yang cocok buat studi banding pelajaran ekonomi :)

Bagian berikutnya lebih fokus dan berkaitan dengan peran BI sebagai bank sentral. Ada ruang brankas yang isinya batangan-batangan emas. Jalan sebentar lagi memasuki ruangan brankas yang lebih luas yang mendisplay uang dari jaman penjajahan hingga sekarang. Display uang dibantu dengan kaca pembesar jadi detail dari uang bisa dilihat secara jelas. Saya sempat bernostalgia dengan uang-uang yang dulu dipakai waktu kecil. Masih ingat tidak dengan lembar Rp 500 yang berwarna hijau bergambar rusa?. ‘Uang Sirah’ sebutan untuk uang kertas pecahan seratus rupiah. Dulu sangat berharga bagi saya untuk jajan dengan seratus rupiah sudah beli ini-itu. Sekarang sudah tidak ada artinya lagi, pengamen juga marah kalau cuma diberi Rp 100. Di lemari geser terdapat mata uang asing yang diurutkan berdasarkan asal negara.

Museum ini memang tidak ada pemandunya namun bukan berarti pengunjung bisa seenak saja. Setiap ruangan ada kamera CCTV dan petugas museum juga mengecek ruangan. Ada peringatan tertulis untuk lokasi-lokasi tertentu sebagai pengunjung yang bijak hendaknya ditaati ya. Jangan menyentuh benda pamer. Jangan melewati pembatas yang disediakan. Kemarin saya sempat melihat  pengunjung yang mengambil foto dengan melewati pembatas,lalu kebetulan ada petugas yang lewat dikasih tahu deh. Ada yang tempat yang beresiko seperti ruangan brankas yang didalamnya mendisplay mata uang Indonesia mulai dari koin-koin dan uang kertas. Pintu masuknya tebal dan petugas mewanti-wanti rombongan pengunjung ABG agar tidak bermain-main dengan pintu. Kalau tertutup susah lagi nariknya,beratnya 12 ton. Lalu untuk pintu masuk dan pintu keluar jangan diputar sembarangan ya. :)

Sebelum pintu keluar,Ada dinding yang memuat foto-foto gedung BI dari beberapa daerah di Indonesia. Bentuk gedung BI tersebut memang unik-unik. Ketika saya berkunjung ke daerah seperti di Medan, Solo, Makassar, saya kagum dengan arsitektur gedung BI. Untuk pengunjung ada souvenir-souvenir museum BI yang dapat dibeli . Saya mau beli tas kain yang gambar museum BI tapi tidak ada petugas yang jaga. Tanya ke petugas penitipan tas,eh counter souvenirnya tutup (T.T). Yahh padahal pengen banget ama tas nya :(.

Foto-foto lainnya dapat dilihat di akun flickr saya :  Museum Bank Indonesia

Rabu, 29 Juni 2011

Jakarta City Trip : Pekan Raya Jakarta 2011

Dalam menyambut ulang tahun kota Jakarta setiap tahunnya selalu diadakan event Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang berlokasi di Kemayoran. Event tahunan ini pertama kali diadakan pada tahun 1968. Rasanya sudah bertahun-tahun lalu ke PRJ,entah waktu saya masih SMA atau SMP saya sudah tidak ingat. Dan tahun ini,adik-adik saya ingin sekali ke PRJ. Walaupun engga ada spesifik mau hunting apa ‘pokoknya ke PRJ’. Berangkat lah kami bertiga, saya dan adik-adik cowok demi mengisi libur nasional kemarin.

Saya pernah mendengar berita bahwa ada bus transjakarta yang disediakan ke arena PRJ.Berdasarkan tanya sana-sini ke petugas di halte bus Transjakarta, Kami naik bis ke arah Pulogadung turun di Balaikota. Pas turun di halte Balaikota terdapat tulisan pengumuman yang menyatakan bahwa bis yang ke arena PRJ ada di lapangan parkir Monas. Dan ada spanduk dari Jiexpo mengenai shuttle bus tersebut. Sepertinya tidak menggunakan bus Transjakarta seperti yang saya kira. Ternyata yang menunggu sudah banyak bis tersebut, anehnya buka di lapangan parker Monas tapi di tepi jalan.

Ketika bis datang, kernet menyuruh kami ke dalam. Jadi bingung kan,memang di halte bus transjakarta diberikan pengumuman di lapangan parker namun ada Bapak-bapak yang menyuruh tunggu di tepi jalan. Yasudah,kami menuju lapangan parkir. Disanapun sudah banyak yang menunggu.Dilihat dari bis yang disediakan rasanya tidak terangkut semua deh pikir saya. Walaupun disediakan shuttle busnya bis Blue Bird yang besar. Benar saja,udah rebutannya parah,akhirnya kami engga dapat bis. Harus menunggu lagi sementara yang datang juga makin bertambah. ‘Engga usah ke PRJ yuk,kita main-main aja di Monas’,ujar saya. ‘tanggung uni udah disini, tunggu bis berikutnya deh’, jawabnya. Seperti mau perang saja, naik bis pun pakai strategi,lihat dulu pintu bisnya. Namanya juga gratisan,pasti banyak yang mau. Kita warga Jakarta yang tak punya alat transportasi pribadi tentu saja memanfaatkan fasilitas buat publik.

Ketika bis yang kedua datang,orang-orang sudah berebutan. Tapi bisnya mundur-mundur terus hingga agak dekat dengan posisi kami berdiri. Jika pernah berdesak-desakan waktu naik Bus Transjakarta tahulah bagaimana rasanya,tapi ini 10x lebih buruk! Najong! Dorong-dorongannya amit-amit. Kena gencet kiri-kanan. Engga kuat desak-desakan mendingan ngalah naik bajaj atau taxi aja. Dalam keadaan seperti itu rawan banget kecopetan karena tidak waspada. Sementara yang paling depan nahan! What the hell!!! Oke lah kita pergi bareng-bareng keluarga mungkin takut terpisah. Tapi kenapa engga naik ke bis dulu baru narik anggota keluarga lainnya. Ini tidak, di depan pintu bisnya kosong. Sementara yang mau naik dihalangi dengan orang yang di kiri. Belum lagi yang bawa anak-anak. Minta diberi pengertian, dalam keadaan ‘chaos’ begitu sudah risiko anak/lansia bakal kegencet. Perjuangan yang dahsyat bisa naik ke bis. Bodo amat deh jadi objek foto orang-orang yang menganggap kejadian tersebut lucu. Siapa yang patut dipersalahkan? Tentu saja pihak penyelenggara. Engga mikir apa, nyedian shuttle bis cuman 4 biji!! Hellooo, warga Jakarta ada berapa juta! Brutal banget deh dorong-dorongannya. Kalau bukan adik-adik yang maksa ke PRJ,ogah amit-amit deh kesana. Setelah turun di PRJ, hiruk pikuk penuh keramaian.


Ramai sekali bukan?

Baru sampai saja sudah ingin pulang rasanya. Harga tiket Rp 25.000/orang. Lumayan ya kalau datangnya bertiga. Di balik tiket terdapat berbagai kupon-kupon makanan dan minuman. Alam yang tidak mengerti trik-trik ‘tukarkan kuponmu dapatkan bla..bla..blaa’ dikiranya gratisan. Dapat donat. Dapat minuman kemasan. Tentu saja ada persyaratannya,entah musti beli minuman dahulu baru gratis donat, untuk pembelian minuman sejumlah xxxxx, dan sebagainya yang intinya engga ada yang gratis.

Saya sudah janji untuk mengganti Handphone Azar yang sudah rusak parah. Kita keliling area pameran handphone. Baru sadar merek handphone banyak banget. Perusahaan elektronik aja memperluas produknya ke segmen mobile phone. Untung saja punya adik yang tidak neko-neko meminta handphone yang well-branded. Jatuh lah pilihannya ke sebuah handphone yang harga 300-an. Alangkah lucunya ketika membayar,hanya kartu BCA saja yang bisa debit/credit. Sementara saya memakai debit mandiri tidak bisa melakukan transaksi. ‘Silahkan ke atm dulu mbak..dekat kok dari sini..keluar belok kanan’,ujar SPG. Shoot!! Karena baru saja melewati antrian orang-orang di stand Mandiri,antriannya kayak ular tangga. Bete banget! Gimana mau omset besar kalau tidak menawarkan fasilitas yang memadai. Yang herannya ini stand elektronik yang harganya bukan seratus dua ratus juga,bahkan sampai jutaan harga produknya. Zaman udah canggih gini tinggal gesek kartu gitu lho. Gitu aja kok repot. Walaupun harga cuma 300-an,duit di dompet tinggal 200 ribu. Sengaja memang tidak megang cash banyak-banyak,selain rawan kecopetan di keramaian takutnya malah kalap belanja. Males ngantri akhirnya Azar yang ngambil ke atm.

Kita keluar area pameran, lihat stand-stand makanan. Jalan aja susah. Kesandung kaki orang. Kelindes kereta bayi. Mau duduk udah penuh. Ampunnnn.,sampai membuat saya berjanji: Kalau punya anak nanti engga bakal dibawa ke PRJ! Berikutnya kami berjalan ke hall pameran dari Pemda, BUMN, BUMD. Agak lebih sepi dari hall pameran produk elektronik. Justru disinilah spot favorit saya di PRJ. Stand-stand dari pemerintah kota di Indonesia. Berbagai produk local seperti batik, kain tenun,kain songket, handicraft, dan makanan daerah ada disini. Saya selalu tertarik dengan souvenir-souvenir yang unik dan pas (di dompet harganya).

Saya senang sekali bisa membeli bros keong yang Rp 10.000 dapat 3 bros.hohoho..Soalnya bross keong yang saya beli di Magetan dan Belitung sudah mau pensiun. Gelang banyak yang lucu-lucu. Karena saya penggemar gelang batu lucu,saya berhenti di setiap stand yang menjualnya. Tentu saja harga di PRJ lebih mahal ketimbang beli di daerah asalnya. Gelang batu-batuan dari Kalimantan yang saya sukai saja Rp65.000.hmmm,toko souvenir di bandara Banjarmasin kayak lebih murah deh. Yasudah,nanti saja kalau ditugasin ke Kalimantan lagi. Yang membuat kepincut dari liburan ke Belitong yaitu gelang akar bahar. Warnanya hitam eksotis. Keren banget, harganya juga setimpal lah dengan produknya. Tetap saja engga mampu beli,huhuhu. Yang saya mupeng liat dompet kulit pari,bagussss banget. Pas nanya harganya,Alam sampai berujar ‘busetttt’,bikin malu aja niy anak. Mantap lah harganya sesuai dengan jerih payah menangkap ikan Pari tapi keren banget dompetnya *dasarr*. Sebagai oleh-oleh buat Wiya dan Ayah,saya membeli pisang kepok Yen-yen dari Lampung. Sudah terjamin rasanya.


Alam bergaya di pintu masuk PRJ

Belum lengkap kalau ke PRJ belum nyobain kerak telor. Aheyy..penjual kerak telor menjamur. Dari luar areal PRJ hingga di dalam pameran. Karena sekalian mau pulang,saya memilih di luar areal PRJ. Sambil menonton kemacetan didepannya.Hahaha.Lumayan lho kerak telornya enak. Satu porsinya 12.000. Saya pesan dua porsi, yang satu makan rame-rame disana, satu laginya buat oleh-oleh orang rumah. Sebenarnya kami masih bingung pulangnya pakai apa,lewat mana. Untung saja Bapak penjual kerak telor menunjukkan jalan yang tidak macet. Sehingga rencananya tadi mau naik taxi/bajaj ke senen habis itu disambung naik metromini, bisa naik mikrolet 53 tujuan Pulogadung baru deh di Galur naik metromini. Bersyukur juga ke PRJ naik angkutan umum,kemacetan di kawasan Kemayoran luar biasa. Hufff,hari yang melelahkan. Ketika melihat brosur-brosur yang asal dimasukkan k etas, lelah dan sebal di PRJ menjadi terbayar melihat sebuah postcard dari Mentawai ^^.


kartu pos dari stand Kabupaten Mentawai

Senin, 07 Februari 2011

Jakarta City Trip : Museum Taman Prasasti

Minggu,30 Januari 2011,gw dan ketiga teman melakukan city trip. Awalnya kita pengen ke pelabuhan Sunda Kelapa karena satu dan lain hal,gw mengubah tempat tujuan. Museum taman prasasti terletak di tanah Abang persis didepan kantor walikota Jakarta Pusat. Sebenarnya museum taman prasasti cukup terkenal dari tempat-tempat syuting video klip ataupun lokasi pemotretan buku tahunan anak SMA/SMP. Gw belum pernah sekalipun kesana. Gw tertarik untuk mengunjungi museum tersebut setelah membaca sepintas mengenai istri Sir Thomas Stamford Raffles yang tadinya dimakamkan disana. Piknik ke kuburan terdengar spooky. Apalagi teman gw, eka,tidak tahu bahwa museum taman prasasti tadinya adalah kawasan kuburan tua dari jaman penjajahan Belanda.Hahaha. Untung saja, Ana mengklarifikasi bahwa ‘isi’ dari kuburannya sudah dipindahkan,yang ada sekarang adalah nisan-nisan mereka,makanya dinamakan museum taman prasasti. Berhubung Ana sangat mengenal taman prasasti ini, secara kantornya tinggal ngesot dari museum, dia didaulat menjadi tour guide kita-kita. Hahaha.

Caranya mencapai lokasi yaitu dengan naik bis Transjakarta rute Blok M-Kota, berhenti di halte Monas. Kita menyebrang ke arah museum nasional dan berjalan kaki kira-kira 7 menitan. Museum tersebut diapit oleh kantor Walikota Jakarta Timur dan kantor KONI. Walaupun terletak dikawasan perkantoran. Khusus didaerah taman prasasti ini rimbun dan terasa adem seperti hutan yang terletak ditengah-tengah kota.
Gw pikir taman prasasti ini besar lho. Ternyata gw salah yang tidak seluas yang gw bayangkan. Untuk karcis masuk, kita membayar Rp 2.000. Kesan spooky tidak gw jumpai karena ternyata banyak orang! Mereka berpakaian hitam-hitam dan sibuk berfoto-foto narsis dengan make-up yang oke. *tepok jidat* Tuh kan gw pasti ketemu ama anak-anak SMA yang lagi foto BT (buku tahunan), ujar gw dalam hati. Masing-masing kita mengeluarkan kamera dan mulai sibuk sendiri mengabadikan berbagai nisan, prasasti, monumen, patung apa pun yang menarik perhatian.



Yang patut gw datangi adalah prasasti Olivia Raffles dan Soe Hok Gie. Untuk Soe Hok Gie yang secara pribadi sangat gw kagumi,jenazah telah dibakar dan abunya ditebarkan di Gn Gede Pangrango,namun dia sempat dikebumikan di taman ini. Itupun gw baru ngeh setelah baca infonya di wikipedia. Karena ini dulunya komplek pemakaman, tak heran banyak dijumpai patung-patung malaikat. Nuansa arsitektur kolonialnya juga sangat terasa. Karena sebagian besar yang dimakamkan dikubur dalam kurun waktu tahun 1700-an dan 1800-an ketika Indonesia masih dikuasai oleh Belanda.

Ada beberapa nisan yang unik tidak hanya tulisan jati diri yang dimakamkan tetapi ada juga yang membangun replikanya ketika semasa hidup. Misalnya ini, patung seorang pastur hindia Belanda. Diatas terdapat patung kecil beliau sedang memegang buku sementara disisi-sisi monumen terdapat relief-relief dari kegiatan beliau. Umpamanya mengunjungi orang sakit dan menggendong anak kecil. Ada juga prasasti bernuansa Gothic. Karena masih dikuasai anak-anak SMA yang masih berfoto-foto ria, gw berkeliling taman hingga ke sudut-sudut yang tidak banyak pengunjung.

Ternyata hari itu, museum taman prasasti tidak hanya laris untuk foto buku tahunan, nampak sepasang kekasih sedang berfoto mesra layaknya foto-foto prewedding. Ah gw turut berbahagia deh sambil melewati mereka dengan cepat. Dengan penguasaan kosakata bahasa Belanda yang terbatas, gw mencoba membaca kata-kata yang tertulis di prasasti. Misalnya tuan X...geboren op de salatiga 17xx..Overlende op de Batavia 17xx. ‘Ini artinya dia meninggal di Salatiga nih Na’,ujar gw dengan pede ke Ana. ‘Lho kok tahun yang ini *sambil menunjuk overlende* lebih gede dari yang itu *maksudnya geboren*,katanya. ‘O iya..salah deng..yang Geboren artinya lahir..Overlende artinya meninggal’,jawab gw malu..huwahahaha..makanya jangan sotoy zi :P Gw kira hanya meneer-meneer dan mevrouw-mevrouw yang dimakamkan disini. Ada juga orang cina, orang Amerika, orang Perancis dan ada juga monumen penghormatan gugurnya tentara jepang ketika masa perang dunia kedua.

Selain memotret,gw mendapati kesenangan membaca tulisan-tulisan di prasasti. Kita juga bisa mengenali latar belakang orang yang dimakamkan, ada yang semasa hidupnya arsitek, pedagang. Jika diperhatikan benar-benar kadang bisa menemukan relief-relief unik yang merupakan lambang keluarga mereka. Semakin gw berjalan ke sudut yang tidak ramai pengunjung nampaknya semakin tidak terurus prasastinya berbeda dengan letaknya dekat dengan pintu masuk. Gw menemukan satu prasasti yang penuh dengan corat-coret tangan-tangan iseng. Oh My God, kenapa sih hampir setiap tempat wisata gw menjumpai tindakan vandalisme seperti ini. Apakah ‘kreativitas’ orang-orang Indonesia tidak bisa disalurkan dengan baik pada medium yang seharusnya? Sedih..Sebel..Bete..dan Kasihan itulah perasaan gw sebagai pengunjung. Kenapa kita tidak bisa menghargai sedikit pun atas peninggalan-peninggalan bersejarah yang kita miliki bersama?




lihat betapa kotornya tangan-tangan manusia

Gw menunduk kembali membaca nama prasasti-prasasti tersebut. Langkah gw terhenti di satu prasasti kecil. Gw tertegun dengan quote yang berada disana. ‘Nobody see The Trouble I see, Nobody knows my sorrow’. Quotes ini merupakan quotes dari ‘seseorang’. Mata gw naik membaca tahun kelahiran dan tanggal kematiannya. Lahir 17 Desember 1942 dan wafat 16 Desember 1969. Wah,mungkin inilah yang paling muda,pikir gw. Dan gw tercekat ketika membaca namanya yang tidak terlalu kelihatan, SOE HOK GIE. Disinilah pernah terkubur idola gw, GIE. Langsung gw memanggil teman-teman gw. Sosok Gie sendiri merupakan legenda dalam sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia. Catatan-catatan pribadinya diterbitkan ke dalam buku ‘Catatan Seorang Demonstran’. Kisah hidupnya sempat diangkat ke film layar lebar besutan sutradara Riri Riza, Gie (2005). Dari prasasti-prasasti lain, prasasti Gie nampak tidak mencolok bahkan ujung prasastinya tampak agak miring dan menghunjam tanah. Mungkin sejauh penemuan gw hanya Soe Hok Gie orang Indonesia yang ada prasastinya. Entahlah,mungkin masih ada yang lain. Kata Ana *lagi-lagi ana*,batu-batu nisan yang dijadikan prasasti ada banyak dan ditumpuk karena sudahh tidak muat di museum ini. Bayangkan saja dulunya dari kantor walikota jakarta pusat hingga kantor KONI merupakan kuburan (kober) tua Belanda lalu dipersempit hingga menjadi Museum Taman Prasasti. Untung saja Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin ditahun 1977 meresmikan taman ini menjadi bangunan bersejarah.


Nobody knows the troubles I see,nobody knows my sorrow - quotes favorit GIE


Prasasti Soe Hok Gie >.<

Rombongan anak SMA masih asyik berfoto-foto. Pelan-pelan gw mendekati tempat mereka. Curang banget yah prasasti yang bagus dikuasai duluan. Inilah salah satu prasasti yang bergaya gothic. Dengan taktik mengendap-endap seketika mereka lengah langsung aja gw rebut spot yang cantik ini. Hahahaha. Sekarang giliran gw yang jadi tontonan. Mau mejeng disini,eits ntar dulu..antri cuyy. Gw tersenyum dalam hati. Hahaha. Setelah gw mendekati prasasti tersebut gw mengerti mengapa prasasti ini terlihat megah dari sekitarnya. Karena yang punya dulunya adalah komandan militer Belanda. Tampaknya semakin tinggi posisi seorang semakin bagus dan megah prasastinya. Hal ini gw jumpai juga di prasasti lainnya yang ternyata semasa hidupnya ia adalah seorang Residen di Pasuruan.

Pencarian gw akan prasastinya istri Raffles tidak berujung. Kok ga ada nama Oliver ya? Setelah berkeliling, gw menyerah dan akhirnya bertanya ke petugas museum. Si Bapak dengan ramah menunjukkan prasastinya. Haduh,lagi-lagi keberadaannya tidak mencolok. Prasasti tersebut terletak disisi yang paling dekat dengan lapangan kantor walikota. Wuih ana bisa ziarah tuh tiap apel hari senin,hehehe :D Prasastinya berbentuk kijing. Sayang sekali tulisannya tidak terbaca. Gw memicingkan mata untuk melihat lebih jelas. Bahkan ketika difoto pun tidak terlihat tulisannya.


Prasasti Olivia Raffles, istri dari Sir Thomas Stamford Raffles

Ada lagi yang ingin gw lihat yaitu peti mati Bung Karno dan Bung Hatta. Peti-peti tersebut terletak diruangan khusus. Kata Ana,selain ada peti mati proklamator Indonesia,kita juga bisa membaca informasi mengenai siapa-siapa saja yang dulunya dimakamkan disana. Aaaaaaaaaa gw sebel karena tidak bisa masuk. Ruangan tersebut dijadikan tempat penitipan barang anak-anak SMA yang sedang foto buku tahunan. Damn! Gw tidak masalah jika mereka menguasai spot-spot yang cantik. Ketika mereka bilang menyewa ruangan tersebut untuk penitipan barang-barang mereka, gw jadi sebel banget. Oke lah,museum ini dikomersilkan untuk kepentingan foto ataupun syuting tapi tidak berarti mengorbankan pengunjung lain yang juga ingin dan mempunyai hak untuk menikmati taman prasasti ini.aaah bete!

Dilihat dari luasnya taman ini sebenarnya kecil,tapi mengelilinginya cukup capek juga. Sekitar jam 1an,kita mengakhiri piknik di kuburan ini. Banyak yang bisa dikagumi dan banyak juga yang bisa dijadikan kritik. Kunjungan yang singkat bahkan tumben-tumbennya hasil jepretan gw dikit tapi memberikan gw pengalaman yang baru. Simple trip but meaningful :)

Rabu, 12 Januari 2011

Lawang Sewu Trip

Tutup tahun 2010 sudah lewat berhari-hari yang lalu. Rencananya di malam tahun baru, gw ingin berpesta blogging. Apalagi ada lomba di kompasiana yang menantang untuk posting tulisan 6 jam di tahun 2010 dan 6 jam di tahun 2011. Di pikiran gw pun ada banyak hal yang ingin gw tuliskan. Hanya saja gw terlalu lelah untuk menulis. Pada tanggal 31 Desember kemarin, gw berada di Pati,salah satu kota di Jawa Tengah. Penugasan interim di klien yang rutin. Sebenarnya kita udah mau pulang di tanggal 31 desember, ketika kita mau mengurus tiket pulang,ternyata charge tambahannya di atas perkiraan kita. Ya apa boleh buat, kita memutuskan untuk menginap semalam di Semarang menunggu penerbangan pulang ke Jakarta.

Jarak perjalanan Pati – Semarang ditempuh dalam waktu 2 jam. Kita melewati dua kota terlebih dahulu, Kudus dan Demak. Biasanya memang 2 jam namun kondisi jalan Pati – Kudus yang rusak parah membuat waktu tempuh lebih lama 1,5 jam. Itupun kita harus memutar melewati daerah gembong. Kita sempat mampir untuk makan malam di Kudus. Soto kudusnya enak banget. Soto terdiri dari dua macam, soto ayam atau soto daging kerbau. Biasanya soto disajikan di mangkuk yang tidak besar. Jika ingin menambah dengan sate jeroan juga ada. Sayang sekali, kita nyampe Kudus sudah malam, jadi tidak bisa melihat Menara Kudus yang termashyur itu. Perjalanan kembali dilanjutkan, yang gue heran kenapa ya jalur lintas kota sepenting ini penerangan jalannnya minim sekali. Padahal jalur ini merupakan jalur pantura yang dilewati berbagai bis dan truk kontainer. Truk-truk kelas berat banyak sekali. Gw jd takut klo mobil yang ditumpangi berpas-pasan dengan truk gandeng yang guede banget.

Di Semarang, kita menginap di hotel Semesta. Setidaknya hotel ini masih ada yang kosong dan harganya tidak naik. Gila aja buat semalam aja harus bayar 800 ribu.Udah gitu,yang bayar musti gw lagi sebelum direimburse kantor. Mendingan cari yang sesuai kantong,yang penting aman,nyaman dan bersih. Hotel Semesta lumayan bagus juga,namanya juga Heritage Hotel jadi ada bangunan tuanya gitu. Gw baru pertama kali menginap di hotel syariah. Jadi semua serba islami. Di kamarnya tersedia sajadah dan Alquran. Gw udah mau buka laptop ternyata musti connect lewat kabel LAN yang diambil di resepsionis. Huwaaa..males, udah di kamar turun lagi.

Perhelatan tahun baru di antara empat kota yang gw lalui : Pati, Kudus, Demak, dan Semarang berpusat di alun-alun kota. Alun-alun kota sudah siap dipasangi panggung musik dan orang-orang berjualan ikut meramaikan suasana. Penjual terompet sudah menggelar dagangan mereka sejak siang hari.Bahkan ketika melewati daerah pegunungan di sekitar Gembong ada juga pasar malam plus hiburan rakyat. Nah hotel gw cukup jauh dari alun-alun kota semarang yang lebih dikenal dengan Simpang Lima. Gw sudah cukup letih dengan perjalanan Pati-Semarang. Akhirnya memutuskan untuk tidak kemana-mana. Sebelum pergantian tahun baru, gw sudah terlelap dengan manis.

Pagi hari, salah satu junior gw pamitan duluan, dia mau beribadah ke Gereja. Kita bertemu lagi di bandara. Penerbangan pulang sekitar jam 16.30. Gw tinggal berdua dengan junior lainnya. Sebelum kita jalan, kita cari ATM niaga dulu. Kesalahan fatal gw waktu ke Pati adalah tidak membawa kartu ATM! Hahaha..Bodoh banget deh gw. Kartu ATMnya ketinggalan ama adek gw. Duit di dompet tinggal 40 ribu. Akhirnya gw minjem dunk ke junior.wkwkwk *senior yang memalukan*. Untung saja kartu kredit engga ketinggalan, mau bayar hotel pake apa coba.

Hmmm...mau kemana ya? Gw siy pengennya ke Lawang Sewu. Udah lama pengen banget kesana cuman masih direnovasi(lama banget dari setahun lalu juga lagi direnovasi). Ya engga apa-apa siy sekedar foto didepannya :D Dari hotel ke Simpang Lima,kita naik angkot, bayarnya 2.000. Kita sempet muter-muter mall Ciputra dulu. Udah lama bo engga ketemu mall.Hahaha.Setelah itu kita bingung mau jalan-jalan kemana. Kita samperin tukang becak. ‘Klo muter-muter aja berapaan Pak?’ tanya gw. ‘muter-muter aja mbak..yaudah sejam nya 20ribu’,kata abang becak. Sebelum dia berubah pikiran, gw menerima tawarannya. Menurut gw siy murah sejam segitu. Ternyata kata Abang becaknya walaupun Lawang Sewu dalam renovasi dan pagarnya dikelilingi seng, pengunjung masih bisa masuk.yessss! oke, tujuan pertama: Lawang Sewu!


Lawang Sewu under renovation

Eh..belum juga nyampe Lawang Sewu,ketika melewati Jl Panandaran. Kita singgah dulu beli oleh-oleh.hahaha. Salah satu toko yang terkenal adalah Bandeng Juwana. Dari luar siy sepi soalnya masih pagi jam 10-an, tahu-tahunya didalam banyak orang. Banyak banget yang mau beli bandeng sampai harus ambil nomor urut. Untung saja, gw ga suka ikan bandeng. Jadi cepet milih-milih mochi trus langsung bayar deh. Trus gw jg beli tahu bakso buat orang rumah. Tahu baksonya enak lho.hehehe. Belanjaan kita dititip ama Abang becak.

Cihuyy, Lawang sewu aku datang!

Lawang Sewu bisa dibilang adalah ikon dari Kota Semarang. Bangunan kolonial ini berdiri kokoh di tempat yang strategis di semarang. Lawang Sewu seringkali disorot di program tv terutama program acara berbau mistis. Konon Lawang Sewu memang angker. Keangkerannya pernah diangkat kedalam film layar lebar, Hantu Lawang Sewu. Dulu waktu pertama ngelewatin lawang sewu memang begidik karena sudah bangunan tua, lumutan, tampak tak terawat. Munculnya pikiran yang aneh-aneh. Mulai beberapa tahun belakangan,pelan-pelan Lawang Sewu sudah mulai direnovasi. Lawang Sewu dahulunya adalah kantor dari PT kereta api jaman kolonial. Makanya terdapat sebuah kepala sepur didepannya. Lumayan rame juga pengunjungnya.




Karcis pengunjung sekitar 10.000/orang. Wow, mahal juga ya, jika dibandingkan museum Fatahillah yang cuma 1.000 rupiah. Lalu, untuk sewa guidenya bayar lagi sekitar Rp 30.000. Sebenarnya mau make guide tidak diwajibkan. Cuma daripada nyasar di Lawang Sewu, hiiii..mendingan kita cari aman sewa guidenya.wkwkwk *dasar penakut*. Kita patungan dengan rombongan sebuah keluarga jadi masing-masing bayar Rp 15.000.
‘Jika beruntung Mbak..bisa ketemu hantunya’, ujar petugas karcis. Ucapan selamat datang yang seram.hiiii..


bagus ya ^^

Karena kita berbagi Guide dengan rombongan keluarga, jadi barengan kemana-mana. Engga enak juga jadi tunggu-tungguan. Gw udah jalan nyampe mana, mereka ketinggalan entah dimana terus anaknya ada yang rewel. Rada engga enak juga klo Mas-mas guidenya jadi fokus ke kita berdua,pertama karena si Mas Guide jadi fotografer kita berdua. Biar cuma berdua orang hampir di setiap spot berhenti trus foto-foto dulu. Kedua, kayaknya yang tertarik dengan sejarah dan bawel tanya ini-itu adalah gw deh. Klo gitu kita bayar guidenya buat sendiri aja biar tidak ada pihak yang dirugikan.pfiuhh..


Ciluk..Ba! :P

Tak dipungkiri, walaupun siang hari tetap aja gw begidik menyusuri lorong-lorongnya. Mungkin sudah tersugesti dengan keangkeran Lawang Sewu. Di kompleks Lawang Sewu sendiri memiliki 6 bangunan. Dahulunya gedung ini digunakan perusahaan jawatan kereta api. Namanya juga Lawang sewu, pintu-pintunya buanyak banget. Engga kebayang itu juru kuncinya nutup dan kunci pintu satu persatu, kuncinya ada sebanyak apa ya? Bangunan utama sedang direnovasi sementara masih ada yang belum direnovasi. Menurut mas-mas guide bangunan ini masih bisa berfungsi untuk 70 tahun kedepan.


tetep narsis dimanapun :)))

Buat yang ingin uji nyali bisa dijajal di ‘Underground Lawang Sewu Trip’. Pengunjung dapat menjelajahi ruangan-ruangan bawah tanah. Disinilah tempatnya syuting 'dunia lain'. Dulu pernah sopir klien gw yang orang Semarang mengatakan ada monster di bawah tanah Lawang Sewu. Wuih, makin komplit aja cerita angkernya. Ruangan bawah tanahnya tergenang air, jadi harus pake sepatu bot. Belum juga nyampe ruangan yang menuju ke bawah tanah,gw diperingatkan oleh guide. ‘warna-warna cerah bisa menarik perhatian mbak..nanti ada yang ‘ngikut’ lho mbak..kayak merah atau pink’. Oh My God, gw lagi pake jilbab pink. Walaupun gw ga bakalan mau jelajah bawah tanah, parno juga dikasih tahu begitu. Bahkan buat foto ruangan bawah tanahnya aja gw ogah,ntar klo ada yg nongol di foto gw gimana,bisa-bisa pingsan gw. Di pojok gedung terdapat penjual souvenir berupa stiker, pin, uang kuno dan batu akik. Aura mistis juga tidak bisa dihindari di tempat souvenir. Salah satu pengunjung memegang sebuah uang kertas jaman dulu tampak khusyuk seperti sedang komat-komit. Waduwh, jangan-jangan duitnya ada ‘isi’ nya nih, jadi ngeri kan gw mau beli kalung koin ratu elizabeth. Akhirnya gw cuma beli gantungan kunci gambar Lawang Sewu dan stiker Underground Lawang Sewu Trip.hehehe..


silahkan..dipilih..dipilih..trus dibayar deh :D

Kedepannya masih dipertimbangkan apakah bangunan Lawang Sewu ini digunakan sebagai apa ujar Mas-mas Guide. Gw pernah baca di koran, Lawang Sewu kedepannya akan dijadikan kawasan perkantoran dan bisnis. Masih wacana siy. Menurut pendapat gw walaupun gw bukan warga Semarang akan lebih baik Lawang Sewu tetap dijadikan cagar sejarah. Daya tarik Lawang Sewu itu begitu kuat karena terletak di perempatan yang strategis. Belum lagi cerita-cerita angkernya akan bikin orang tambah penasaran. Pastinya akan banyak pengunjung apalagi karcis masuknya Rp 10.000, lumayan itu satu hari bisa 300-an orang yang berkunjung. Lagipula ada yang mau ngantor di Lawang Sewu? gw siy takutttt >.<

Selama satu setengah jam berkeliling Lawang Sewu,kita melanjutkan ke kota lama Semarang. Abang becak siy nawarin ke Klenteng Sam Poo Kong . Karena jam 2 sudah harus di Hotel lagi, kita memilih daerah kota lama yang termasuk cukup dekat dari hotel. Bangunan-bangunan lama memang spot yang bagus untuk foto-foto. Tapi gw ga sempat mampir-mampir dulu,melihatnya hanya dari becak. Tujuan utamanya adalah Gereja Blenduk. Kita memang cuma di luar aja karena sedang ada yang beres-beres buat ibadah. Gw sampai nyebrang jalan buat dapat spot yang bagus dan gerejanya kelihatan. Agak susah siy karena lalu lintas lumayan padat, pasti ada aja deh ‘figurannya’ entah itu mobil, bis, motor. Kita sengaja nungguin sampai engga ada yg lewat trus baru deh jepret secepat-cepatnya.hahaha..Waktu perjalanan pulang dari kota lama ke hotel, Abang becak menawarkan ke Klenteng Gang Lombok. Boleh deh, sekalian jalan pulang juga. Serasa lagi di shanghai deh.Beberapa tampak sedang khusyuk beribadah. Gw juga tidak ingin menganggu orang lain beribadah jadi hanya di pintu depan saja.


Di depan Klenteng Gang Lombok


Kota Lama Semarang - Gereja Blenduk

Wah, lumayan juga keliling selama tiga jam dengan becak hanya membayar Rp 70.000 dapat angin sepoi-sepoinya lagi. Mudah-mudahan jika ada kesempatan lagi ke Semarang bisa mengunjungi tempat-tempat wisata lainnya :D