Pages

Senin, 05 Juli 2010

Horas..Manjua-jua..Welcome.. to North Sumatera

Hello..hello..akhirnya setelah sekian lama 'terpuruk' di Jakarta ini. Gue ditugaskan lagi ke daerah. Kembali ke Sumatera..Yeay!! sayangnya, tetap masih jauh dari kampung halaman T.T Lebih tepatnya propinsi tetangga, Sumatera Utara. Enjoy My Story :)))

Danau Toba

Kantor cabang klien tersebar lagi ke kota-kota lain di Sumatera Utara seperti Pematang Siantar, Kisaran, Tebing. Salah satu cabang yang dikunjungi di Sumatera Utara adalah Pematang Siantar. Waktu tempuh dari Medan ke Pematang Siantar sekitar tiga jam. Berangkat dari hotel jam 8 pagi. Ketika dalam perjalanan sempat singgah sebentar membeli dodol di Perbaungan. Di kiri – kanan jalan terhampar luas perkebunan kelapa sawit dan karet. Rat-rata kebun kelapa sawit milik Perusahaan negara seperti PTPN 2,PTPN 3, PTPN 4 dan kebun karet swasta milik Bridgestone. Uniknya ketika memasuki daerah Deli serdang dan Serdang Bedagai, banyak bangunan dicat dengan warna hijau-kuning,warna khas melayu. *bukan warna bendera partai yang berkoalisi ya..hehe*

Jika mampir ke Pematang Siantar,rasanya rugi tak singgah ke Parapat. Disanalah danau terbesar di Indonesia berada : Danau Toba. Berangkat dari Siantar sekitar jam 5 sore.”dekat kok..hanya satu jam dari sini.masa’ udah di Siantar, engga mampir ke Parapat”,kata Bpk klien. Selagi dalam perjalanan, kami mengobrol mengenai keberagaman suku Batak. Selama ini gue hanya mengetahui Batak itu ada tiga: Batak Karo, Batak Toba, dan Batak Mandailing. Ternyata masih ada Batak Simaluhun dan Batak Pakpakhan. Kita yang bukan orang Batak jadi sibuk bertanya jika marga ‘Pasaribu’ termasuk Batak apa? Kita sebutkan nama-nama marga yang familiar. Sepanjang perjalanan menuju danau toba,di sisi jalan terdapat banyak komplek pemakaman orang Batak. Makam tersebut dinaungi miniatur rumah adat Batak.

Merinding...melihat danau toba dari kejauhan. Pertama karena cuaca memang dingin,hujan sore rintik-rintik. Kedua,betapa luaaaaaaasnya danau tersebut. Hari beranjak makin sore, kami harus cepat-cepat sampai ke tepian karena kalau jika malam engga bisa dilihat donk pemandangannya (engga bisa foto-foto lagi). Unfortunately,gue tidak membawa Digicam. Jadinya dengan keterbatasan kamera HP saja gue memotret keindahan Danau Toba. Kami berkunjung ke Istana pengasingan Bung Karno. Biasanya bisa masuk ke dalam. Karena sudah sore banget hanya di berdiri di depannya saja. Dari sini pemandangan Danau Tobanya bagus.Bahkan staf-staf accounting yang tidak ikut tidak mengenali hasil foto gue.’masa siy ini danau toba?’,ujarnya tak percaya.

senja di danau toba


di depan istana pengasingan Bung Karno

Parapat sebagai daerah pariwisata memiliki banyak penginapan, dari kelas melati hingga hotel berbintang. Toko-toko souvenir juga banyak. Ada buah yang khas dari Parapat ini yaitu Mangga kecil seperti kuini. Hari sudah malam,kami melihat-lihat souvenir. Agak alot juga niy tawar menawar dengan pedagang sini. Untuk makanan, bagi yang Muslim harus teliti memilih rumah makan. Memang banyak rumah makan yang bertuliskan ‘rumah makan muslim’ tak ada salahnya bertanya-tanya dulu sebelum makan.

Sayang sekali, hanya sebentar menikmati keindahan Danau Toba (masih memakai baju kantor pula). Kembali ke Siantar, makan malam dulu sebelum kembali ke kota Medan. Ketika berangkat perjalanan tidak terasa,tapi ketika pulang,alamak..badan sudah capai tapi masih harus menempuh 3 jam perjalanan lagi. Karena duduknya dibelakang bisa tidur. Coba di depan,mau tak mau ngobrol sama Bpk Klien biar dia yang nyetir engga ngantuk juga.

Someday, I shall return ‘Lake Toba’ :D

Istana Maimun

Jam kerja klien dari jam 7 hingga jam 3 sore. Jadi seringkali ketika sudah jam 5 sudah pulang. Kejadian yang mustahil di Jakarta.haha. Ketika mengunjungi kantor cabang klien di daerah Asia,pas pulangnya diajak lah kami menengok Istana Maimun,simbol khas kota Medan. Istana Maimun merupakan istana dari kerajaan melayu Deli. Interior istana dipenuhi warna khas melayu kuning-hijau. Sebelum memasuki istana,kita bayar retribusi sebesar 5000 per orang. Di dalam istananya sendiri terdapat toko souvenir yang menjual souvenir bergambar istana maimun.

Di halaman Istana terdapat sebuah meriam yang dikenal Meriam Puntung. Meriam Puntung ini merupakan penjelmaan dari Putri Hijau,putri kerajaan Melayu Deli. Bapak penjaganya menjelaskan panjang lebar sejarah dari Meriam Puntung. Cepat kali bicaranya. Gue hanya mengangguk-angguk. Pas lagi engga bawa dompet lagi,ntar klo disuruh bayar gimana coba. Untuk melihat meriam tersebut ada retribusinya Rp 2.000. Meriam Puntung ini dikeramatkan. Gue agak kaget juga ada pengunjung yang berdoa dulu lalu mencium Meriamnya.


Bukit Lawang – Taman Nasional Gunung Leuser

Hari minggu, waktunya jalan-jalan.haha..Kami menuju Bukit Lawang, Wisata sungai Bohorok. Bukit ini pernah terjadi air bah yang dahsyat di tahun 2004. Bukit Lawang termasuk didaerah Taman Nasional Gunung Leuser,Langkat. Aneh ya..taman nasional kok ada kelapa sawitnya. Ketika dibilang bisa arung jeram di sungai ini, yang terbayang adalah arum jeram citarik dimana kita naik perahu ada dayungnya pake pelampung oranye. Bengong gue, karena disana jeramnya pake ban gede.kwau..kwau..

Cuaca sedang cerah-cerahnya jadinya panasss..di tepian sungai,ada tenda-tenda lesehan. Jadi kita bisa sewa seharian. Suasananya rame banget jadi tempat-tempat tersebut sudah penuh dibooking. Akhirnya kita duduk-duduk dipinggiran makan rambutan binjai sambil ngeliatin orang-orang. Bosan duduk aja.kami bertiga cewek-cewek memutuskan untuk jalan-jalan disekitar pinggiran sungai. Kita memutuskan untuk menyebrangi sungai lewat jembatan putih. Dari kejauhan seperti jembatan biasa tapi pas naik..bergoyang-goyanglah dia..ampun jembatan buai. Gue engga terlalu takut ketinggian tapi gamang juga pas ditengah-tengah. Kebayang peristiwa jembatan Batu Raden,Na’udzubillah. Kaki kami gemetaran. Sampai diseberang sungai,baru kepikiran, ‘kok kita engga foto-foto ya pas ditengah’. Beberapa pengunjung terlihat asyik-asyik aja bergaya di tengah-tengah jembatan. ‘sama sekali tidak terpikir abisnya serem liat air dari ketinggian jembatan’. Engga mau balik lagi ke jembatan itu.kita naik jembatan satunya lagi aja. Ada dua jembatan,yang satu jembatan putih ini yang lainnya jembatan bambu. Jembatan putih lebih bagus dan kuat karena ada ditopang besi baja namun jarak lintasannya tinggi. Sementara jembatan bambu jarak lintasannya lebih pendek tapi engga terlalu aman,pakai bambu trus hanya bisa satu orang berjalannya. Serba salah juga siy. Akhirnya kita menjajal kedua jembatan.


jembatan putih


jembatan bambu

mana yang lebih serem?

Istirahat sebentar..kita ingin menjelajahi sungai ke arah hulu. Hanya tiga bidadari yang ikutan. Bapak-bapak tinggal dan duduk-duduk santai. Makin ke hulu makin sepi tenda-tenda lesehannya. Jauhh ke hulu..hampir ikutan jungle trek deh ama bule-bule..soalnya di Bukit Lawang juga ada orang utan. ‘mbak, mau lihat orang utan?’,ujar Si Abang menawarkan jasa guide . ‘engga usah Bang..niy ada contohnya’,kata si Kak witut sambil nunjuk kak Pitut. *kenapa nama gaulnya akhiran –tut semua ya?*

No Pain No Gain. Jalannya sebenarnya dekat karena naik turun lewati bukit jadinya agak lama. Kami bertemu dengan pinggiran sungai yang cukup dangkal. Pengunjung disini tidak sebanyak yang di hilir. Airnya jernih. Pas mau pergi, yang lain bawa baju ganti, gue juga ikut bawa tapi jeans ganti engga ada. Jadinya gue tidak ikut basah-basahan. Ada yang terjun dari tebing gitu sambil loncat indah ataupun diceburin. Gue duduk dipinggir saja sambil merendam kaki. Bening..sampai kaki yang belang pun kelihatan.haha.. Pepohonan diseberang sungai nampak bergoyang-goyang rupanya monyet-monyet sedang bergelantungan. Ah beruntung sekali nasib monyet disini, merdekaaa di alamnya. Klo di Jakarta sudah dipekerjakan jadi topeng monyet.

pinggiran sungai yang agak teduh


saking jernihnya sungai..kaki yang belang pun keliatan..hihi

Berastagi

Satu tujuan lagi maka komplit lah tour de medan ini.hehe. Berastagi! Tempat penghasil markisa yang terkenal itu. Berastagi berada di pegunungan. Suasananya sejuk dan dingin. Mungkin seperti di Puncak. Tapi setelah ke sana, Puncak lewattttt deh..perjalanan yang berliku-liku dan curam memang mengerikan. Tikungannya tajam. Kiri jurang kanan hutan. Masih asri dan rimbun,Makanya Puncak tidak ada apa-apanya villa semua. Semoga jika sepuluh tahun lagi gue ke Berastagi,hutan-hutan tersebut masih ada. ‘masyarakat sini tidak memperbolehkan hutan disini ditebang’,ujar Bpk Klien. Setuju!!!

Kami melewati salah satu pabrik aqua yang menggunakan mata air Gunung Sibayak. Jadi seringkali berpas-pasan dengan truk fuso ataupun kontainer Aqua. Yang serem, pas lagi tikungan maut,kami dari bawah,kontainer dari atas.Untungnya di klakson panjang jadi kami bisa bersabar sedikit memberi jalan. Karena hutannya masih asri,sesekali ada beruk terlihat di pinggiran jalan. Tak sedikit yang bela-belain berhenti melihat dan memberi makan beruk-beruk tersebut . *padahal pas di tikungan.ckckck*. Untuk angkutan umum, ini dia raja jalanannya, terkenal sekali angkutan disini nekat-nekat. Jalan yang menanjak dan berliku-liku tidak menyurutkan keberanian sopir-sopir angkutan umum disini. Tetap aja ngebut dan engga mau kalah dengan kendaraan lainnya. Dan yang lebih amazing lagi,penumpangnya naik ke atas mobil. Kayak orang-orang nekat yang naik di atas atap KRL cuma jalannya lebih berbahaya ini deh. Sinabung Jaya, Sumatera Transport, Borneo terkenal sering masuk jurang. ‘Udah biasa di berita itu’ kata Bang Jun. Makanya penumpang lebih memilih naik ke atap,klo masuk jurang bisa loncat menyelamatkan diri.

Ada insiden kecil selagi kami baru memasuki kawasan Berastagi. Ceritanya kami yang orang jakarta ingin merasakan sejuknya udara Berastagi, dibukalah jendela mobil. Enak banget,angin sepoi-sepoi dan dingin.sejukkk..tiba-tiba,*sniff..sniff* ‘kok bau ya?’ kami menyadari ada bau tak sedap. Lihat ke depan. Ada babi! Mobil bak terbuka di depan sedang mengangkut babi-babi. Iiiiiiii...serempak pada teriak dan menutup jendela mobil..huwekkk bau banget!! Dibalap aja tuh babi-babi itu. Baru kali ini,gue berada jarak dekat dengan babi-babi hidup. Baunya huwekkk! Babinya gendut-gendut dan kotor. Dasar babi! Kita mampir dulu di pom bensin terdekat. Mual rasanya.kita jadi ngakak setelah jalan kita ngelihat mobil bak itu lagi.hahaha



Bukit Gundaling adalah titik tertinggi di Berastagi. Kita bisa melihat kota Berastagi dari atas Bukit. Sejauh mata memandang hijauuuu. Untung juga ya, ke sininya sore-sore karena pengunjungnya sedikit jadi berasa ekslusif gitu. Klo weekend,biasanya rame banget. Terlihat tenda-tenda biru seperti di Bukit Lawang untuk ‘ngaso’, tidur-tiduran , atau makan-makan. Jika ingin menikmati pemandangan Berastagi sambil naik kuda juga bisa. Bayar tapi.hahaha. Banyak lho ‘koneng-koneng’ Pup kuda di jalanan. Pupnya engga ditadangin siy jadi buang pup dimana-mana. Bauuuu..Ada toko-toko souvenir. Sekarang gue menyadari kesamaan baju-baju dari Danau Toba, Bukit Lawang dan Berastagi. Batik! Ya..baju-baju batik ala pantai gitu cuma ditambahin sablon ‘Lake toba’, ‘Bukit Lawang’, ‘Berastagi’. Gue yakin niy Batiknya dari pekalongan.haha.. Balik lagi ke baju kaos yang engga mahal dan engga murahan juga.


biasaaa..narsis dulu ah :))))

Sepulang dari Berastagi, hujan mulai mengguyur Berastagi. ‘klo engga hujan bukan Berastagi namanya’,ujar Bpk klien. ‘mau singgah ke pasar’,dia menawarkan lagi. ‘engga usah Pak..hujan’,jawab kami. Di pasar Berastagi, buah-buahan masih segar ‘fresh from nature’. Kita pulang aja takutnya sampai Medan tengah malam. Ada Big match,Spanyol vs Portugal.

Engga hujan aja gue udah was-was dengan jalanannya tambah licin kan. Baru kali ini,gue mendapati kabut pekat plus hujan deras. Wuih,kita harus waspada. Kami berhenti sebentar sambil menunggu hujan agak reda kami memesan jagung bakar. Lumayan lah untuk mengganjal perut yang kelaperan. Mau engga mau makan malamnya harus di Medan. Ada siy rumah makan antara Medan – Berastagi, yang banyak itu BPK ‘Babi Panggang Karo’. Saya tidak makan itu. ^^ Sampai di Medan jam 9 malam,langsung nyari makan di daerah USU (universitas sumatera utara). Akhirnya Mie Aceh lagi..hmm yummy..sambil menonton pertandingan Paraguay vs Jepang yang baru mulai. Sepiring Mie Aceh Daging dan Teh Susu Telur (TST). Lekker!


Wisata Kuliner

Medan ini banyak sekali tempat-tempat kuliner yang patut dicoba. Gue sih tidak terlalu suka dengan makanan-makanan ‘aneh’ karena lidah dan perut gue tidak suka yang aneh-aneh. Tapi untuk mencicipi masakan Padang di setiap kota, wajib itu. Engga bisa jauh-jauh dari ‘Salero Awak’. Disini ‘rumah makan padang’ ditulis ‘rumah makan masakan khas Minang’. Gue sebel dengan rumah makan melayu/minang yang dekat Hotel gue, Hotel Asean Internasional. Beuh..mahal banget. Sayurnya bayar..sambalnya bayar..rasanya kurang pas lagi di lidah minang gue. mendingan makan di rumah makan padang yang biasa aja,satu harga included nasi,lauk,sambal,dan sayur. Untuk makanan khas medan, ada lontong medan yang uenak..manisan jambu yang uenak..mie aceh disini lebih banyak juga *susah nyari mie aceh di jakarta*..jus martabe yang uenak.. ikan arsik juga uenak..yang enak-enak aja ya gue rekomendasiin.