Pages

Selasa, 06 April 2010

Di Negeri Seribu Goa

Sebelumnya gue minta maaf kepada pembaca yang budiman, seharusnya gue posting blog ini sebulan yang lalu, karena kemalasan teramat sangat dan entah kenapa gue lebih mood nulis di kantor. Jadi baru sekarang bisa diterbitkan. *sambil nyambi ngerjain wp (working paper) tentunya*

Fortunately, berada di Solo saat patah hati merupakan suatu anugerah. Karena obat pelipur lara tersedia dalam berbagai macam bentuk,mau shopping batik (hayukk..ini kan city of Batik), jalan-jalan ke museum, wisata kuliner, hingga ngecengin bule *ah ga ada setampan James Blunt*. Klien gue yang lebih banyak Mbak-Mbak ngajakin gue berdarmawisata. Lebih jauh ke arah timur sana. Kota kelahiran Presiden Republik Indonesia saat ini, Pacitan.

Namun, niat hati ingin berlari-lari di pantai ala Beyonce (see video klip broken-hearted girl) nampaknya ditangguhkan. Karena pada hari-H tersebut bos gue datang menyusul. Dia datang Jumat Pagi, pulang keesokan harinya. Bener aja disuruh lembur hari Sabtunya. Yaudah lah Batal,pikir gue. Muka gue ampe merah dibecandain klien. ’besok kerja ya Mbak..’ Gue ketawa-ketawa aja. Mereka mana pernah masuk pas hari Sabtu. Ternyata hari Sabtu tak jadi lembur. Bos kan juga manusia, pengen shopping batik juga.hihihi..Dia meminta kami menemaninya. Dari Danar Hadi, Kampung Batik Kauman, hingga Kampung Batik Laweyan.Dan lagi-lagi, pertahanan irit gue runtuh, batiknya bagus-bagus sih ^^

Minggu pagi, kita berangkat jam 8 dari Solo. Melewati Sukoharjo, Wonogiri, trus apa lagi ya *lupa -.-* Sepanjang perjalanan, senior gue tidur karena semaleman begadang,engga tidur sama sekali. Jadi mereka ngobrolnya ama gue. Pembicaraan didominasi bahasa Jawa membuat kuping melayu gue terbiasa dan sedikit demi sedikit mengerti bahasa jawa. Sampai di Wonogiri, kita berpas-pasan dengan segerombolan pengendara motor yang sedang touring, mereka memakai jaket hitam-merah. Ngenggg...ngengggg..bunyi knalpotnya bisa bikin pekak telinga. Sepanjang perjalanan ke Pacitan, kami beriringan, *kayaknya tujuannya sama*.

Malam sebelumnya,gue kebetulan nonton program ”Koper dan Ransel” (Trans TV), mereka sedang mengunjungi Pacitan. Pas banget..Sayang ya engga ketemu..presenter bulenya cakep..hehehe. Kemana siy tujuan gue kali ini? Goa Gong dan Pantai Teleng Ria. Tuh kan sama dengan tempat-tempat yang dikunjungi ”Koper dan Ransel”.

Alam Indonesia memang sungguh indah. Perjalan naik turun bukit dan meliuk-liuk, menyajikan pemandangan yang keren. I love Indonesia!! Setiap daerah memiliki tag line pariwisata sendiri. Pacitan pun begitu. “Selamat datang di negeri seribu goa”. Objek pariwisata dari Pacitan adalah goa alaminya dan pantai. Dari papan penunjuk jalan, gue mendapatkan info terdapat beberapa goa di Pacitan; Goa Gong, Goa Tabuhan, dan Goa Putri.


Goa Gong terletak di Desa Bomo, Kecamatan Punung, 37 Km ke arah barat kota Pacitan. Goa Gong, pasti penasaran kan kenapa bisa dinamakan ‘Goa Gong’, apakah ada gong di dalam goa ? memang penamaan tersebut berkaitan dengan salah satu perangkat gamelan tersebut. Berdasarkan booklet "Goa Gong, Obyek Wisata Potensial di Kabupaten Pacitan yang" disusun oleh Drs Wakino-yang merupakan cucu dari salah satu penemu Gua itu,konon saat-saat tertentu dari pegunungan di sekitar sering terdengar bunyi-bunyian gamelan jawa, pertunjukan reog bahkan terdengar orang yang menangis. Masyarakat sekitar menamakan pegunungan tersebut 'gong-gongan'. Sehingga Gua yang ditemukan dinamakan Gua Gong.

Dari tempat parkir mobil, kita harus berjalan lagi menaiki tangga ke atas sekitar 5 menit. Pedagang-pedagang souvenir dan makanan berada di kiri-kanan jalan menuju goa. Souvenir-souvenir yang dijajakan berbagai macam; ada gelang, kerajinan dari keramik, dan yang paling banyak dijual adalah batu akik.

Cuaca cukup terik walaupun sedang musim hujan. Selain itu, beberapa warga sekitar menawarkan jasa penyewaan ’baterai’ (dibaca : senter), harga sewanya Rp 2.000. Ketika berada di mulut goa, giliran pemandu-pemandu yang berebut menjajakan jasanya. ”Bayarnya seikhlasnya saja Mbak”, ujar si Mbak. Akhirnya kami berjalan beriringan dengan Mbak Pemandu. Ia sendiri berjalan paling depan dan menjelaskan sudut-sudut goa satu persatu.

Tanahnya licin dan becek karena musim hujan air masih menetes-netes dari staglatit. Jangan khawatir karena ada jalan setapak di dalam goa tersebut diberi pagar pembatas. Jadi ada pegangan untuk jalan. Subhanallah, keren banget! Baik Staglatit maupun Staglamitnya membentuk rupa yang artistik.



keren banget khan..

Sayangnya, gue tidak terlalu menikmati carving ini. Kurang puas. Suasana rame banget. Sementara untuk berjalan harus satu persatu. Jadi berhenti lama sedikit, orang yang dibelakang udah banyak yang ngantri. ”Yang berhenti satu, Yang ngantri banyak”, celoteh mas-mas dibarisan belakang kami. Sementara gue masih punya banyak pose yang gue akan diabadikan dengan staglatit dan staglamit Goa Gong.

Dalam goa tersebut terdapat beberapa mata air. Mata air inilah asal muasal ditemukannya Goa yang indah ini. Selagi Mbak Pemandu menerangkan sejarah asal mula Goa Gong, gue asyik motoin sisi-sisi Goa. Salah satu mata air yang menarik perhatian gue adalah mata air Bidadari. Bagi yang percaya, jika mencuci muka atau meminum air dari kolam ini, akan enteng jodoh dan awet muda. Sontak, dengan gagah berani, gue melewati pagar pembatas. ”Mbak, berani juga ya”, ujar pengunjung dibelakang kami. Eits, lagi cuci muka pun gue berpose. Segerrrr...ternyata kenekatan gue menarik senior dan klien gue, mereka pun ikutan cuci muka. Ya walaupun sudah ketemu jodoh, mungkin siapa tahu khasiat yang satu lagi dapat, awet muda.hehehe..



Namanya juga Goa, gelap di dalamnya,penerangan di bawah situ sudah difasilitasi dengan lampu penerangan. Namun tidak menjangkau semuanya sehingga suasana agak remang-remang. Keremangan goa dimanfaatkan segelintir muda-mudi. Yang bikin gue heran, anak muda sekarang doyannya pacaran di kegelapan goa. Ini kan tempat umum, banyak orang tua, banyak anak kecil. Please deh, cari ruang pribadi aja kenapa.


Gue agak malu berpose pada photo diatas. Untuk membingkai kenangan gue di Goa Gong ini, gue diliatian segerombolan mas-mas yang juga sedang foto-foto. Tapi pas giliran gue yang berpose, mereka mau lewat. Karena ada gue yang lagi bergaya, mereka menunggu sekitar 20 detik.”Senyum manisnya Mbak..”,goda salah satu mereka. Heboh deh mereka (untungnya ngomong bahasa Jawa..jadi gue engga ngerti)

Sampai di luar Goa, panas terik menyambut kami. Walaupun didalam goa berbecek-becek, tak terasa baju udah basah keringat. Gerah euy..selagi yang lain sedang beristrirahat, gue iseng memainkan digicam. Beberapa foto yang gue ambil di pintu masuk Goa Gong

penghargaan kepada penemu-penemu Goa Gong


pemandangan sekitar..


kalau ini siy gue yang jadi objeknya..hehe

Perjalanan kembali ke tempat parkir lebih lama dari kita datang. Perhentian pertama, makan pecel Mbok-mbok dulu. Sayur-sayuran plus tempe yang dibikin dari kacang merah cukup mengganjal perut yang mulai keroncongan. Selang beberapa langkah, berhenti lagi di toko souvenir, sebagai pecinta-gelang-tangan-bulat-bulat-dari-batu, gue membeli gelang warna hitam. Tidak terlalu mahal. Tapi melihat kualitas juga yang murah juga banyak. Kios berikutnya pedagang batu akik. Gue ikut melihat-lihat, secara udah punya cincin kelingking, tidak berniat membeli. Cing..cing..ada cincin batu akik berwarna hijau. Cincin tersebut seperti menarik gue untuk membelinya. Agak kegedean di jari manis. Desainnya untuk batu akik tidak terlalu maskulin, agak feminim malah. Akhirnya gue membeli cincin tersebut, matching dengan gelang giok gue, ijo-ijo..Selesai kah acara belanja-belanjanya? Tidak, dekat tempat parkir ada bursa batu akik, satu los tersebut jual berbagai macam batu akik, gelang, cincin, kalung, bros. Gue membeli bros dari batu yang katanya dari batu saphire (tahunya pas di hotel, penitinya copot dari batu tersebut, cuma ditempel gitu aja siy).

Selain Goa Gong masih ada Goa Tabuhan dan Goa Putri.

It’s beach time!!!
Uwi, anak dari klien gue, udah merengek-rengek, ”Ma..ke pantai ma..ke pantai..”. Tak sabar dia ingin bermain air. Dari tempat makan siang, pantai sudah terlihat dekat. Nyiur melambai-lambai. Angin pantai nan sepoi-sepoi. Enaknya tidur deh.

Welcome to Teleng Ria Beach..memasuki kawasan tersebut bikin gue dejavu dengan pantai ancol. Mungkin karena waktu itu lagi ada panggung dangdut kali ya. Lagi nyari-nyari tempat buat parkir. Ada seorang cewek yang dandanannya oke banget. Kita nyangkanya Bule, eh taunya bukan cewek 100%. Kebanting deh ama kita-kita yang cewek tulen. haha..poll abis dandannya.

Untuk ukuran pantai, Pantai Teleng Ria termasuk bersih. Pantai termasuk pantai laut selatan. Gue dibecandain, ”Ayo lo..ditarik ketengah”. Soalnya pakai gelang plus cincin hijau. Tapi serius lho..gue takut beneran, karena waktu bulan Januari gue ke Solo, di pantai tersebut ada mati tenggelam kebawa ombak. Gue engga berani jauh-jauh, engga bisa berenang.

sengaja nih pamer cincin batu akik..hehe

Inilah bedanya kita dengan anak kecil. Uwi dan anaknya Mbak Murni asyik main-main air laut, main pasir. Peduli amat kotor-kotoran sambil cebar-cebur kena ombak. Mereka tertawa riang menyambut ombak yang datang. Asyiknya..gue sungguh iri. Sudah lama tidak tertawa lepas seperti mereka yang tiada beban.kecipak-kecipuk..asyiknya..

tuh khan anak-anak asyik aja main pasir..cuek aja mau foto ^^

Ternyata kios batu akik juga banyak di pantai ini. Mungkin sumber daya alamnya banyak ya di Pacitan. Toko-toko souvenir disini menjual baju-baju pantai,yang warna-warni dan ada gambar pohon kepalanya, Kaos-kaos yang disablon gambar pantai Teleng Ria, dan ada juga batik. Laper?? tenang ada kios makanan juga. Buat oleh-oleh orang rumah juga ada, gorengan ikan; ikan tenggiri, udang,dan ikan laut lainnya hmmm..yummy.

mauuu....???

Hari panas, engga bawa baju ganti, akhirnya gue habiskan dengan foto-foto. Lupa dengan broken-hearted-speechless gue. Lupa dengan Jakarta. Yang teringat bagaimana berpose ya keren *halah..narsis banget*.Gw ga mau kalah dengan gaya fotomodel. Menurut gue, seseorang ga kalah cantik atau ganteng dari foto-foto yang di majalah asalkan angle-nya tepat. "Gayanya Mbak Azia..gayanya foto model..mirip ama Dewi Sandra",ujar Mbak Murni. huawahahahaha...masa' gue dibilang mirip Dewi Sandra..Ya jauh lah..gue jauh lebih manis dari dia..wkwkwkwkwk.




benarkah gue mirip Dewi Sandra?