Pages

Senin, 22 Februari 2010

Antara Merapi dan Merbabu

Candi Borobudur adalah salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Namanya terkenal hingga mancanegara. Sewaktu kecil, gue sangat mengagumi bangunan tersebut dari foto-foto Ayah dan Bundo (ketika mereka masih bujangan dan remaja) saat bertamasya ke Candi Borobudur. Azia kecil pun memimpikan suatu hari nanti akan kesana. Waktu kelas 1 SMA, sekeluarga minus gue (yang disuruh jaga rumah) piknik ke Semarang-Jogjakarta,tega bener ke Candi Borobudur engga diajak. Hanya diriku seorang.

Ketika audit visit ke Jogjakarta kemarin, gue pengen banget ke Candi Borobudur Cuma masalahnya waktu yang terbatas tidak memungkinkan ke sana. Nah….ketika ditanya, mau kemana..dengan kalemnya gue jawab: Candi Borobudur.

Driver yang baik adalah driver yang mengetahui kemana seharusnya penumpang diantar. Driver yang mengantarkan memberikan dua opsi pilihan, mau lewat Jogja atau mau liat Merapi. Kita bisa melihat merapi view di Ketep. Cuma jalannya berliku-liku..naik turun..belok-belok..Mau engga mbak? Ya mauuuuuuuuuuu dunk..

Gue memang sangat excited dengan daerah yang belum pernah gue kunjungi. Kayak anak kecil aja klo diajak jalan-jalan seneng. Kurang lompat-lompat aja.hehehe..jalan yang mendaki..menurun..berliku-liku..perjalanan tetap asyik..Alhamdulillah tidak mabok darat.

Kita melewati kota Boyolali. Jalanan semakin sempit. Sesekali tampak patung Sapi Perah, katanya daerah tersebut memang penghasil susu murni. Jalan yang akan kita tempuh tepat berada di tengah antara gunung Merapi (disebelah kiri) dan gunung Merbabu (disebelah kanan). Kurang lebih telah satu jam dari Solo, kita disambut oleh plang ’selamat datang di daerah wisata flying fox’.

’Mbak...mau coba flying fox engga?’,kata driver
’Flying fox?’, gue celingak-celinguk..
‘iya..dari atas sana..(sambil menunjuk puncak bukit) sampai sini (didaerah yang baru saja kita lalui)’,ujarnya lagi
‘uwaaa…jauh banget’ gue berdecak kagum
‘gimana..berani engga mbak’drivernya nantangin..
Mobil kita berhenti tidak jauh dari area flying fox tersebut, setidaknya bisa melihat pemandangan kota Boyolali dari atas. Di tempat pemberhentian tersebut ada tempat wedangan juga lho..bersantai sambil menikmati aroma pegunungan.hmm…menenangkan dan menyejukkan pikiran

‘gimana flying fox-nya Mbak..? ’,*tetep ya nanyain*
‘berapa bayarnya ya?”,pastinya bayar dunk naik flying fox.
’Rp 20.000, sudah termasuk ojek dari bawah ke atas lagi’,ujar Ibu penjaga warung
Wow…murah bangett…mana dapat uang segitu naik flying fox di Jakarta
Ayolah kita coba..


wow..tingginyaaa

Nyampe area flying fox-nya..merinding juga ya..ibaratnya dari bukit ke lembah ini. Panjang lintasannya 300 meter, terrrrrrrr-panjang se-INDONESIA
Akhirnya, yang pertama nyoba Bapak Driver, kita pengen liat dia ‘terbang’ dulu. Sukses engga…gue rada-rada pengen tapi ngeri juga, dibawahnya langsung kebun..pohon-pohon..mana kebelet pipi, ntar klo pipi di tengah-tengah lintasan gimana dunk..xixixi..

Karena gue adalah junior yang baik, gue mempersilahkan senior gue duluan yang jajal..haha *curang*. Seru juga ya..makanya gue berani..waktu outbond kantor siy, gue naik flying fox tinggi 8 M, panjang 15 M aja gemeteran. Gimana engga gemeter, naiknya aja bambunya dangdutan goyang kanan-kiri. Sampai atas juga udah pucat pasi. Bedanya flying fox ini engga perlu manjat dulu, tinggal turun aja.

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.......
Gue teriak sepanjang lintasan memecahkan kesunyian pegunungan, membuat burung-burung berhenti berkicau..lebay mode : on..haha..maklum ada superwoman nyasar (mendingan superwoman atau wonder woman ya?)



Gila!! Seruuu...keren..gokil...mantap..so amazing lah..
Selain turunannya cukup curam, ditengah-tengahnya bener-bener mengejutkan jantung...
Ya..silahkan coba..seru..
Sekarang gue ngeliat orang-orang naik flying fox yang lain jadi biasa aja, secaraaa, gue udah naik yang terpanjang seindonesia gitu lho..hehehe (sombong mode : on)

Baek lah..perjalanan dilanjutkan..Rencananya kita mau ke ”Ketep Pass” melihat Merapi view. Di Ketep Pass ada museumnya juga, bioskop juga, plus pemandangan yang aduhai indahnya. Ketep Volcano Theatre menampilkan film tentang Merapi, mulai dari proses pembentukan Gunung, pendakian, hingga ketika Merapi meletus dan mengeluarkan lahar dan wedus gembel-nya.syereemmm ya...




Karcis masuk untuk orang dewasa Rp 3.000. Jika ingin menyaksikan film Merapai di Ketep Volcano Theatre, pengunjung hanya membayar Rp 5.000. Ketep Pass merupakan spot yang pas jika ingin foto berlatarkan Merapi. Sayangnya, cuaca sekitar lagi mendung, jadi Merapinya tidak terlihat. Tapi agenda photo session-nya tetep jalan kok..hehehe..


mendung menutupi Merapi

Berhubungan kita ke sana bertepatan dengan hari Valentine dan Imlek, jadinya rame dengan muda-mudi memadu kasih. Ditambah lagi rombongan bis-bis luar kota datang dari mana-mana menambah suasana menjadi semarak.

Tak terasa,,sudah jam 12! objek utamanya belum didatangi. Marilah kita kemon ke Borobudur.

Tiket masuk Candi Borobudur Rp 17.500, lebih mahal Rp 2.500 dari tiket Candi Prambanan. Biar langit mendung, tetap saja Borobudur panas. Ouw, Silau..kali ini gue udah mempersiapkan kaca mata hitam.*halah*.

huwaaa...besar sekali dan ramee banget..
gue suka melenceng deh di keramaian. karena tangga masuk utama, rame banget, warna-warni payung orang-orang. gue mencari jalan masuk yang agak sepi. paling engga bisa photo di depan candi tanpa figuran disana-sini.hehe

serasa candi milik sendiri..xixi

Tentu saja tidak hanya 'action' yang musti disiapkan, tetapi juga tenaga fisik untuk naik tangga-tangga candi. Kadang-kadang baru melangkah sedikit, photo. Ketemu patung, photo. ketemu bule, juga pengen photo (tapi tetep engga kesampean semenjak mengunjungi Candi Prambanan kemaren).

Tiba di Puncak, susah nyari spot yang engga ada 'figurannya'. rameeee..dan semua orang ingin mengabadikan momen-momen mereka dengan Borobudur. Walaupun langit mendung, panasnya bukan main.



Gue pun mencoba menjangkau patung Budha yang didalam stupa.
ughh..ughh..ugh..
gue udah berusaha menggapainya..apa daya tangan tak sampai, memang gue bukan bertangan panjang. jujur siy, gue engga tahu stupa yang mana yang paling afdol megang patung Budha.haha..jadi gue masukin tangan ke stupa yang terdekat aja.gue sedikit terhibur,"justru yang engga nyampe yang sukses",bisa aja Pak Driver ngehibur gue..haha

Mungkin semua orang ingin berpose keren, jadi lupa diri, kebanyakan *termasuk gue* manjat-manjat dinding candi. itu kan berbahaya sodara-sodara hingga petugas candi-nya ngomel-ngomel lewat toa. "diharapkan bagi pengunjung yang manjat-manjat..turunnn". jangan diulangi ya jika berkunjung ke Candi Borobudur.

Sebenarnya masih belum puas mengelilingi candinya. Namun, hari sudah gelap, mendung sekali..dan benar, hujan deras mengguyur kawasan candi dan sekitarnya. Lebat selebat-lebatnya. payung buat sendiri aja engga cukup. celana basah. ditambah jalan keluar yang jauuuuh banget ke parkiran makin memperparah kondisi. engga cuma celana yang basah, baju, jilbab semuanya basah. kecuali tas yang gue lindungi segenap hati (ada kamera dan hape soalnya).

Niatnya mau mampir ke Jogja..bataaalll..udah berbasah-basahan gini..minatnya turun drastis. yang kita inginkan adalah makan, mandi dan bobo.

nb : setelah gue melihat foto-foto hasil jepretan perjalanan Solo-Merapi-Borobudur-Jogja-Solo, gue menyadari bahwa gue naek flying fox tanpa pake helm pengaman!! safety first dunk Mas..

Senin, 15 Februari 2010

Je - Je - Es

Je-Je-Es (JJS) kadang diartikan sebagai singkatan dari jalan-jalan siang..jalan-jalan sore..jalan-jalan seharian. Hari Sabtu kemarin, 13 Februari, gue melakukan JJS, jalan-jalan sendirian atau jalan-jalan solo atau jalan-jalan Slamet Riyadi. Intinya tetap satu yaitu jalan-jalan. Kedatangan kali ini menggenapi kunjungan gue yang ke-empat datang ke Solo. Sehingga, gue sudah lumayan akrab dengan jalanannya.

Jln Slamet Riyadi merupakan jalan protokoler di Kota Solo. Jalan besar-satu arah ini berakhir di patung pahlawan Slamet Riyadi. Tempat menginap gue selama di Solo pun tidak jauh-jauh dari Slamet Riyadi, Solo Inn. Tempat yang sangat strategis jika ingin mencari makan malam, ngambil duit di ATM, ataupun berbelanja. Karena di seberang jalan terletak Mall tertua di kota Solo, Solo Grand Mall.

Pas sabtu kemarin, memang tidak ada niat mau jalan kemana. Jadi kita pun tidak meminta driver untuk menemani. Karena di sepanjang Jl Slamet Riyadi terdapat beberapa tempat wisata atau spot-spot yang oke untuk foto-foto. Ternyata senior gue tidak bisa pergi keluar hotel. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan untuk dikirim ke manager. Sebenarnya pergi sendiri juga males, tapi solider ikutan engga kemana-mana juga engga betah. Masa’ udah di Solo berdiam diri di hotel. Rugi!!

Gue pun bingung mau kemana yaaa...pengen ke kampung batik Laweyan, takut nyasar pulangnya. Padahal gue pengen belajar ngebatik. Ya sudah..gue putuskan saja untuk berjalan kaki ke Pusat Grosir Solo (PGS). Dulu sih, kita pernah jalan kaki malam-malam mau ke Galabo karena sudah malam tak ada yang bisa dilihat. Gue berencana untuk menikmati Jl Slamet Riyadi dengan berjalan kaki. Lumayan asyik karena jalan trotoarnya lebar dan bersih, sesekali bel becak atau sepeda berbunyi menginterupsi lamunan gue.

jln Slamet Riyadi, andaikan trotoar di jakarta kayak gini, rajin deh olahraganya

Beberapa bangunan kuno khas Londo masih berdiri tegak. Salah satunya rumah dinas Walikota Solo. Tamannya keren. Gue pengen banget foto didepan gerbangnya. Sayang sekali tidak ada orang yang bisa dimintain tolong. Lanjut deh jalannya. Masih di Slamet Riyadi, terdapat tempat pertunjukan budaya yaitu Taman Sriwedari. Taman Sriwedari selain tempat pergelaran wayang orang juga mempunyai tempat bermain anak-anak. Katanya dalang-dalangnya tidak hanya dari orang Indonesia tapi juga ada warga negara asing.

Pertama kali lihat, gue langsung jatuh hati dengan rumah ini. Eh tahunya, rumah walikota.kerennn..

Selanjutnya, Museum Radya Pustaka, yang sering gue plesetin Museum ’Arca yang Hilang’. Karena sempat ada kasus beberapa arca kuno raib entah kemana. Museum hanya buka hingga jam 11 siang. Jadi gue tidak sempat melihat-lihat, udah tutup. Tergoda juga untuk naik becak. Abang-abang tukang becak merayu-rayu gue biar naik becak. Tunggu dulu, masih kuat jalan, jalan aja ah. Kebetulan jam pulang sekolah, anak-anak bergerombol naik sepeda. Asyik juga nih sepedaan, apalagi liat bule ganteng naik sepeda, mau dunk nebeng..*hahaha

Apakah kamu kenal dengan Batik Danar Hadi? Tahu dunk..nah, batik tersebut aslinya dari Solo. Selain ada butiknya juga ada House of Danar Hadi, Museum khusus batik. House of Danar Hadi sedang melakukan pameran batik Cina Kuno. Tempatnya bagus banget. Tapi gue engga berani masuk, canggung, terlalu eksklusif bagi gue.

Tak lama, gedung-gedung telah berganti dengan areal pertokoan. Berarti PGS udah dekat (tapi masih jauh juga). Gue udah capek, menyerah jalan kaki, akhirnya naik becak. Tukang becak di Solo seperti tour guide saja. Gue tidak jadi ke PGS, tapi berbelok ke Kampung Batik Kauman. Di Solo ada dua kampung Batik yaitu Laweyan dan Kauman. Kita bisa membeli batik langsung dari pengrajinnya. Bisa eceran atau grosiran. Kauman terletak tidak jauh dari PGS dan Pasar Klewer. Tukang becaknya sangat bersemangat menunjukkan toko-toko batik. Harga batik di Kauman sangat bervariasi. Yang agak mahal, ini lho mbak. Yang harganya sedang, disitu..Dia tahu aja, mana yang mahal, yang sederhana. Rumah-rumahnya berdempetan dan jalanan gangnya hanya muat untuk becak. Kalau membawa mobil, bisa diparkir di jalan yang agak lebar.

Gang Kampung Batik Kauman

Sebelumnya, waktu Januari kemarin, gue sudah berbelanja gila-gilaan. Mulai dari Laweyan, PGS, sampai Kauman sudah gue jelajahi. Masing-masing orang rumah gue beliin baju batik. Belum lagi titipan orang-orang kantor. Tinggal buka lapak aja gue.*Hehe*. So, sekarang gairah buat berbelanja engga ada,, pengen liat-liat aja. Sudah kepalang tanggung udah nyampe Kauman,,engga belanja, Rugi!! Murahhh..Naluri ibu-ibu klo belanja biar murah tetap aja nawar, gue pun begitu *dasar ibu-ibu wanna be*. Dari harga yang ditawarkan masih bisa turun 15rb-20rb.

Selagi gue membayar belanjaan, gue diajak ngobrol. Salah satu kebaikan masyarakat Solo adalah keramah tamahannya. Dari mana Mbak? Kerja dimana? Lagi liburan ya? *i wish..* hingga si Mas itu ngasih kartu nama ke gue, ”add facebook saya ya mbak, kita selalu upload design terbaru”. Karena rumah-rumahnya berdekatan, jadi klo engga suka model batiknya bisa cari tempat lain dan gampang pindah-pindahnya. Setelah selesai, tukang becaknya masih nungguin, malah nyaranin ke sini *sambil nunjuk rumah lainnya*, apik-apik Mbak..Beli lagi deh dress buat adek.Pas keluar, tukang becaknya nyamperin, yang sebelah sana belum Mbak..dilihat-lihat aja dulu *kok jadi si Bapak yang semangat, yang belanja kan gue*. Duit makin menipis, padahal baru narik duit di atm. *Stop belanjanya..lo masih sepuluh hari lagi disini* stop! stop! enoughhhhh...

Balik ke hotel dengan becak yang sama. Bapak tukang becaknya masih semangat nunjukkin toko batik yang lain. ”Udah Pak, kita langsung ke Hotel”. Selagi perjalanan pulangnya, dia masih nyerocos yang tentu saja dalam bahasa Jawa. Kadang nanggep dan ngerti, kadang engga. Tapi dari si Bapak inilah, gue mengetahui rumah yang cakep itu ternyata rumah walikota, trus klo ada dalang bule Londo di Taman Sriwedari. Bapak ini betul-betul bersemangat membuat gue tertarik nonton wayang orang *butuh penerjemah bahasa jawa nih*.

Tak terasa hari sudah malam, waktunya makannnn...Kita sudah berencana bakal malam mingguan di Ngarsopuro Night Market. Ngarsopuro hanya buka di pas malam minggu atau hari libur. Dari hotel, kita naik becak. Kebiasaan di Jakarta, sebelum naik bajaj atau ojek, pastinya tawar-menawar harga dulu. Klo engga tukang bajaj/ojek suka-sukanya aja matok harga (kecuali tukang ojek Mall citra, udah langganan). Gue pernah ’kecele’ naik becak di Solo, dari PGS ampe Hotel Ibis, 20 rb. Padahal kata orang sono, Becak paling mahal Cuma 10rb. Nah, si Bapak Tukang Becak yang satu ini, pas ditanya harga, engga jawab angka,’terserah mbak aja ngasihnya berapa..”

Di Ngarsopuro, bazar-bazarnya masih banyak yang belum buka, masih pada beberes. Sementara jam telah menunjukkan pukul 7 malam, perut gue udah keroncongan. Ya sudah kita ke Galabo-yang cuma buka di malam hari aja. Kita panggil lagi Bapak Tukang Becaknya-yang setia nungguin kita. Di Galabo, jenis makanannya komplit..mau sate, ada. mau soto, ada. mau timlo, ada. mau gudeg, ada. mau ayam kremes, ada. mau pecel lele, ada. mau batagor, ada. mau kebab, ada. Cuma satu yang engga ada, nasi padang.*hehe*. Tentunya kita maklum jika malam minggu selalu rame, malamnya muda-mudi bersenda gurau, engga di Jakarta, engga di Solo, ramee...Apalagi besoknya, Valentine Day, kudu ngapel kali..Ada live musicnya juga yang pas banget di depan tenda kita. Sayangnya, lagunya keroncong coba lagu nidji, ikutan karaoke deh gue..hahaha

Rupa-rupanya, gue mengetahui kenapa Ngarsopuro dan Galabo agak sepi. Karena ada Sekaten 2010!! Tak jauh dari Galabo persisnya Alun-alun utara kota Solo sedang semarak dilangsungkan Sekaten 2010. Tertarik dengan rasa penasaran, kita pun mengikuti arus manusia. Jalan kaki aja macet bo..Rame banget! Kuping kayaknya budeg ama klakson. Sekaten berlangsung dari 1 Februari hingga 1 Maret 2010. Perayaan ini rutin dilaksanakan setiap menyambut Maulid Nabi Muhammad S.A.W. Puncaknya adalah tanggal 26 Februari 2010, dimana ada perayaan Gunungan (isinya macam-macam) yang diarak dan diperebutkan sepanjang jalan. Huh, Sayangnya, tanggal segitu udah di Jakarta.

Sekaten 2010 berbentuk pasar malam. Ada yang berjualan. Ada hiburan malamnya. Eits, jangan ngeres dulu. Kayaknya semua wahana dufan dipindahin ke sini, tentu saja dengan versi yang lebih sederhana. Komidi Putar, Bianglala, Kora-kora, mandi bola, bom-bom car,rumah hantu, aksi gila motorcrosser, dan masih banyak lainnya. Dari semuanya, gue tertarik dengan sebuah tenda yang bising dan memekakkan telinga, ”Roda-roda Gila”.





saking cepetnya, aksi si pembalap tidak bisa tertangkap kamera (maksudnya dijepret gitu)

Gue ajakin senior gue. Tiketnya cuma 5000 rupiah. Ada tiga pembalap edan, dua pake motor, satu pake sepeda. Gila banget,mas-masnya engga pake helm. Penonton yang mau nyawer juga bisa. Lambai-lambaikan aja duitnya di pinggir tempat nonton. Nanti si pembalap maut akan menyambarnya. WuSS...engga berasa ngambilnya..keren! tapi kalau mau nonton motorcross siap-siap tutup hidung (asap knalpotnya engga nahan) dan tutup kuping (gendang telinga bisa pecah).

Untuk mengelilingi areal Sekaten, ada kereta-keretaan yang akan mengantarkan pengunjung. Dengan Rp 5.000 per orang, kita bisa keliling alun-alun utara. Gue baru sadar setiap gapura menandakan daerah asal rombongan peserta sekaten. Ada yang dari Demak, Jepara, dll. Berhubung jalanan macet, gue tidak bisa menikmati apa-apa kecuali asap knalpot dan bunyi klakson. Riweuh..Pengunjung yang datang banyak berpasangan. *Mentang-mentang besok palentine*

Udah dua jam Bapak Tukang Becak menunggu kami. gue kira Bapaknya sudah pergi, ternyata dia masih setia dan sabar menunggu. Cukup melelahkan juga jalan kaki seharian. Karena besoknya masih ada jadwal yang lebih seru, kami tidur lebih cepat. apa itu? tunggu kelanjutan berikutnya, masih dari kota Solo, city of Batik.

----Solo Inn, kamar 103, 22.18------

Happy Birthday Blogzie...

Happy Birthday..
tak terasa sudah setahun..blog ini exist
masih di bulan yang sama...masih di kota yang sama..dan di hotel yang sama pula
blog ini resmi berumur 1 tahun
memang postingannya tidak sebanyak blog yang personal *kan kerjaan gue bukan cuma jalan-jalan* hehe...

enjoy reading! nantikan postingan berikut-berikutnya
thanks for reading..^^

---Solo Inn, kamar 103, jam 21.38 wib----