Pages

Senin, 29 November 2010

Beautiful Belitong #Day 3

Niatnya bangun pagi buat lihat sunrise. Bangun siy pagi cuma langitnya mendung. Huhuhu..no sunset and no sunrise,oh noooooooo! >.<


sunrise di Pulau Babi

Gue memiliki ide untuk mengumpulkan kulit keong, siput, dan kerang ke dalam botol. Bagus kan,klo dimasukkan kedalam botol terus dikasih air. Kombinasi dari ketiganya akan terlihat lebih bercahaya. Mulai lah gue jongkok mungutin satu per satu. Anak-anak lainnya memesan pop mie sambil duduk diatas batu besar. Gue masih asyik ngumpulin kerang di pinggir pantai *belum mandi,hihihi*.

Tiba-tiba Si Dino teriak,’takuttt..gue lihat ular’. Serentak temen-temen yang duduk di batu besar panik. Ularnya dekat sekali dengan mereka. Mungkin semacam ular pohon gitu warnanya kuning trus ada bercak-bercak *gue siy engga lihat*. Pop mienya ditinggal. Kaburrrr..gue yang lagi dipantai ikut naik balik ke pondok klo si ular berubah pikiran dan mendatangi atau menghalangi jalan gue gimana coba. Gue pindah nyari kerangnya ke tempat lihat sunrise. Lebih sedikit sih tapi engga apa-apa botolnya udah mulai penuh.

Rasanya berat ninggalin Pulau Babi artinya libur telah usai dan kembali ke Jakarta :( which is kembali bekerja.huhuhu..aaaaaa,sebenarnya kau tidak ingin pulang. Bye bye,pulau Babi. Kami melambai-lambaikan tangan ke arah pondok. Sebelum kembali ke Belitong daratan, kita sempat singgah ke pulau Tukong yang terletak persis berseberangan dengan pulau Babi. Pulau Tukong ini mempunyai teluk. Ketika sore hari,airnya hangat dan aman untuk berenang. Biarpun disekeliling pulau ombaknya besar,teluk tukong aman-aman saja,kata Bang Erling. Tadinya bang jek menginstruksikan ke orang kapal kita cuma singgah sebentar dan tidak turun. Batu-batunya keren. Sayang banget cuma numpang lewat doank.
'Bang,kita turun aja ya..',kita meminta turun sebentar.
'Padahal pulau ini sengaja disimpan buat trip berikutnya lho’,canda Bang Erling. Biar ke Belitong lagi gitu ^^


welcome to Tukong Island ^^




pulau tukongggggg

Kembali ke Tanjung Kelayang, hauss banget,kita minum es kelapa muda. Sambil memandangi perahu-perahu yang sedang bersandar. Di Tanjung Kelayang,terdapat beberapa rumah makan,kita bisa memilih salah satunya untuk bersantai. Engga ada bosen-bosennya liat laut. Setelah itu kita beranjak kembali ke Pantai Tanjung Tinggi. Jika gue perhatikan,Pantai Tanjung Tinggi tidak dipungut iuran masuk. Vony dan Nurul yang baru datang hari Sabtu belum pernah ke Tanjung Tinggi. Sayang banget kan klo melewatkan Tanjung Tinggi. Kita berpencar mencari spot-spot yang asyik. Hari terakhir pakaian gue tinggal yang dipakai dibadan. Gue harus hati-hati biar engga kepeleset terus nyebur lagi ke laut. Berat bo,klo jeansnya basah.

Kita makan siang ke Tanjung Pendam. Katanya tempat nongkrong anak-anak Tanjung Pandan. Waktu malam pertama,kita sempat mengelilingi Tanjung Pendam tapi engga mampir karena udah malam dan kecapekan. Kayaknya cuma spot ini aja kita tidak foto-foto,takutnya orang-orang engga percaya kita ke Belitong. Pantai dikota ya begitu,rata-rata kotor mirip pantai Ancol. Hehehe.

Selanjutnya, kita ke tempat oleh-oleh khas Belitong. Kita ke galeri UKM belitong, one-stop shopping gitu,jualnya macam-macam. Ada makanan. Ada pernak-pernik dari kerang dan bintang laut. Ada batu satam, Batu meteor! Ada baju-baju belitong. Nenek gue tadinya minta bawain terasi. 'Masa’ jauh-jauh,belinya terasi',kata gue.Teman-teman lainnya ada juga yang beli terasi.wkwkwk. Gue mupeng banget ama gelang kayu hitam cuman mahal banget 150 ribu >.< Engga bisa tawar-tawar lagi kan. Ternyata gelang tersebut adalah gelang akar bahar. Nyarinya susah harus menyelam ke laut. Hmm,pantesan harganya mahal,resiko yang pencarinya tinggi. Dilema,gue pengen beli gelang tapi gue ga bisa beli oleh2 lainnya.huhuhu..duit gue kritis banget menjelang gajian.Hhhhh..*tarik napas panjang*,Gue ikhlas melepas gelang akar baharnya >.<

Jadwal balik ke Jakarta sekitar jam 16.00. Dan bandara Tanjung Pandan mungkin bandara yang airport tax nya termurah di Indonesia, 11.000. Tas Backpack gue masuk bagasi aja,isinya baju kotor semua siy. Ternyata pesawatnya delay 30 menit. jadi take-off baru sekitar jam 16.30.

3 hari 2 malam di Belitong,kayaknya masih belum puas. Kita belum menjelajahi Belitong selatan dan timur. Belum mengunjungi kota Laskar Pelangi di Gantong dan Manggar. Sayang sekali,waktu tidak memungkinkan. Padahal selama bulan November ada event festival Laskar Pelangi di desa Linggang. Tapi tenang setidaknya terwakili dengan kehadiran Bujang dan Dayang Belitong Timur 2010.hehehe. Gimana ceritanya? Kita satu pesawat yang menuju ke Jakarta. Pas di ruang tunggu,Bujang dan Dayang duduk tidak jauh dari kita. Dasar ya,udah mau pulang teteup pose,mau foto bareng dengan Bujang dan Dayang Belitong Timur,hahaha..yaudah,rusuh lah jadinya ruang tunggu heboh ama aksi kita. Semua mata tertuju ke kita yang cengangas-cengenges. Urat malunya udah putus.hahahaha. Okta niat mau pinjem selempangnya buat pose bareng suaminya.wkwkwk Tapi berkat kegilaan kita, Bujang dan Dayang jadi disamperin bapak-bapak dan diajak ngobrol ibu-ibu,hehehe *pede banget*. Terus setelah fotonya diupload ke fb, Siska dan Tommy, nama dari Dayang dan Bujang Belitong Timur 2010 ikut ditag! huwahahaha,dino niy yang nge-add mereka.ckckck


Belitong dari atas pesawat..lihat ada banyak kawah ya ^^

Selamat tinggal Belitong..Sampai jumpa, i shall return :)))))))))

Sabtu, 27 November 2010

Beautiful Belitong #Day 2

Hari kedua kita akan menginap di pulau Babi. Kita check out sekitar jam 8 pagi. Nurul dan Vony sudah datang. Huwaa,ada Shireen Sungkar! Kata Angel, si Vonny mirip sama Shireen.hahaha..ya kita panggil aja dia Sherin Sungkar,biar engga kebalik ama Shireen :P Kita berangkat ke Tanjung Kelayang,sebelumnya kita melewati desa nelayan dulu.bersihhhh. Di Tanjung Kelayang sudah ada kapal yang kami sewa seharian untuk eksplorasi laut dan pulau-pulau Belitong. Kapal-kapal nelayan tampak sedang bersandar di pantai.


pantai yang biru..pasir yang putih..surga duniaaaa :)))

Lagi – lagi,gue takjub dengan laut Belitong,biruuu banget dan jernih. Biasanya gue pusing dan mual klo naek kapal, tapi pas di Belitong gue baik-baik aja engga mabok laut dan pusing. Mungkin pemandangan sekitar yang membuat gue berdecak kagum dan lupa sama phobia sendiri. Sejauh mata memandang biruuuu.degradasi warna birunya mantap. Dasar lautnya pun kelihatan. Cantik banget deh ^^.ada Batu-batu ditengah laut. Awan-awannya juga keren. Cuacanya cerah biarpun panas terik tapi sejuk oleh angin laut. Kita ngedrop dulu barang-barang di Pulau Babi. Jangan pikir kayak cottage-cottage di pulau seribu ya,penginapannya pondok kayu dan beratap daun rumbia. Kita singgah sebentar di batu Garuda. Batu-batu besar yang menyerupai bentuk burung kalau dilihat dari jauh. Menurut gue sih,batunya lebih mirip buaya atau komodo. Bener ga?


Batu Garuda

Pulau Lengkuas

Pulau Lengkuas ini menjadi salah satu tujuan wisata yang populer di Belitong. Di pulau ini terdapat mercusuar tua yang masih berfungsi hingga sekarang. Mercusuar ini bisa terlihat dari pulau Babi. Di pulau Lengkuas sudah ada beberapa rombongan yang terlebih dahulu tiba. Kita menghabiskan waktu disini hingga makan siang. Masing-masing berpencar mencari spot yang keren untuk berpose.hahaha. Teteup poseeee..pose..pose *backsound: cekrek-cekrek* :D


tinggiiii

Penasaran dengan mercusuar? Kita bisa naik keatasnya. Untuk mencapai puncak harus melewati 18 tingkat anak tangga. Mercusuar ini dibangun pada tahun 1882, hmm, berarti umurnya udah 128 thn, lebih tua dari buyut gue beberapa tahun.hehe..Tangganya walaupun sudah berkarat tapi masih kokoh untuk dipijak,malah tangan gue engga kotor sama sekali pas pegangan. Sesekali tercium aroma tidak sedap.ihhh,pasti ada yang iseng nih,buang air kecil sembarangan. Jorok!

Bener-bener deh,sekalinya gue olahraga langsung beratt..pegel-pegelnya bukit Paramount belum ilang,otot-ototnya dipaksa naik tangga lagi. Iya lah,No Pain No Gain ^^. Beberapa kali gue berhenti ambil napas dan istirahat sebentar sambil membidikkan kamera ke bawah. Hasilnya luar biasa indah.*akusuka..akusuka..akusuka*


cantik bukan? ^^


Subhanallah..this is Indonesia!

Hosh-hosh..baju udah basah keringat..akhirnya sampai ke puncak mercusuar. Woww,spektakuler view dari atas.





Makan siangnya dimasak di pulau Lengkuas. Jadi pas kita lagi sibuk naik ke puncak mercusuar. Abangnya masak. Pas kita turun dan tenaga terkuras abis,tinggal makan.hehe *enak banget yak* Ada ikan kuwe bakar kecap, ikan kuwe balado, cumi goreng tepung, udang balado, sayur kangkung. Mantap,enak lagi masakannya. Kata Bea,klo mau snorkeling,makannya jangan banyak-banyak nanti bisa muntah. Tapi jangan engga makan juga karena snorkeling butuh tenaga besar. Gue makannya dikit padahal ikannya enak >.<

Snorkeling

Setelah bertahun-tahun,akhirnya baru sekarang berenang lagi. Sebelum turun ke laut,buat yang belum pernah snorkeling dibriefing dulu di pantai pulau Lengkuas. Latihan menggunakan glove dan fin. Walaupun tidak bisa berenang masih bisa snorkeling kan pake pelampung. Kita latihan dulu sebentar di pantai. Bakal seru niy,pikir gue apalagi ada ikan kecil-kecil hilir mudik didepan glove gue. Jika masih dipinggir pantai aja bagus apalagi ditengah lautan yapasti bagus banget.

Sebenarnya Bang Jack dan Bang Erlin menyarankan yang turun ke laut ganti-gantian,berempat-empat. Kita berpendapat selagi masih di dekat kapal tidak apa-apa jika semuanya turun ke laut. Gue siy pede-pede aja nyebur ke laut melihat anak-anak lain berani dan enjoy banget snorkeling. Pas giliran gue udah di laut,anjrittt...gue panik luar biasa. Gimana bisa snorkeling yang mengasyikkan bagi yang lain jadi mimpi buruk buat gue. Perasaan gue baru sebentar nunduk kebawah liatin terumbu karang pas udah nengadah ke atas. Kapalnya kok udah jauh. Serta merta pelajaran snorkeling yang dipantai bubar semua engga ada yang gue inget satupun.

Ketika snorkeling, hidung harusnya tidak berfungsi lagi,pernapasan dilakukan lewat mulut,tarik..buang..tarik..buang.. Kayaknya gue masih pakai hidung,jadinya sesak. Jadi panik sendiri,apalagi Erik teriak ada ikan yang giginya serem. Mampus gue! Kaki-tangan gue bergerak ke segala arah. Mata dan hidung udah pedih kena air laut. Kuping udah kemasukan air. Gue ngelihat kapalnya kok makin jauh. Gue lambai-lambaikan tangan gue. Abangnya engga nyadar isyarat SOS gue mungkin dia kira gue lagi dadah-dadah kali T.T. Yaudah gue cari teman yang deket-deket gue. Gue digandeng ama Bea, tetap aja panik >.<. Terumbu karangnya masih bagus. Gue udah engga peduli lagi betapa indahnya pesona laut Belitong. Bodo!

Bang Erling juga ikut turun ke laut cuman dia engga pake pelampung. Gue udah teriak-teriak,Abangggg!. Ngelihat gue udah panik, ’kamu telentang buka glovenya..’,ujarnya. ‘engga bisa..engga bisa’gue menggapai-gapai tangannya *maksudnya mau pegangan* yang tanpa sadar sebenarnya bisa bikin dia tenggelam. Akhirnya badan gue dibalikin paksa. Gue buka glovenya..rileks aja hirup udara..udah telentang,kepanikan gue yang lain datang. Gue merasa pelampung gue mau copot.
’aaaa saya mau tenggelam’,ujar gue panik.
’engga kok,mana mungkin kamu tenggelam kan kamu pakai pelampung’,jawab si Abang.
'engga mau bang..udah saya ke kapal aja..’,kata gue rasanya mau nangis aja.

Ternyata bener kan,arus lautnya kuat,jadi kita disuruh pegangan di tali tambang yang diulurkan dari kapal terus semuanya dikumpulin disatu lingkaran. Karena di pikiran gue hanya ada satu pikiran, cepat naik ke kapal.
‘Yaudah Mbak,deket-deket kapal aja’,kata Bang Jek. Gue coba pake lagi glovenya dan menjajal snorkeling sekali lagi. Sepuluh detik kemudian, air udah masuk lagi ke dalam glove.
‘udahhhhhh ahh,saya mau naek ke kapal’,gue menyerah.

Laut yang indah dari atas Kapal setelah gue nyebur ternyata menyeramkan *walaupun keren*. Apalagi posisi gue terlalu dekat ke kapal,yang ada bisa kepentok lambung kapal. Naik kekapal juga berat banget karena pake pelampung. Hosh..hosh.. Gue kehabisan tenaga. Kayak mendingan trekking deh dibandingkan snorkeling. Langsung gue buka glove lempar ke lantai kapal. Di kapal ada dua orang yang jagain mesin dan yang narik tali. Kayaknya gue diketawain deh ama orang kapalnya. Untung aja gue engga ngerti bahasa melayu belitong. Hahaha. Tak usah lama-lama bengong, beberapa menit kemudian gue ambil kamera jadi langsung ada kerjaan. Kita engga bawa kamera underwater. Fotonya dari atas kapal saja,mendadak fotografer gue :D. Arus lautnya makin lama makin kuat. Semua disuruh naik ke kapal. Goyangan kapalnya makin keras karena gelombang lautnya makin besar.


lihat..mereka happy-happy aja kan :D


grr..lihat muka gue masih ketakutan

Pulau Gusong

Setelah meninggalkan spot snorkeling, kita ke Pulau Gusong. Uniknya pulau tersebut lebih menyerupai gundukan pasir di tengah laut. Nampak sudah ada dua kapal yang sedang berlabuh disana,rupanya ada dua pasangan yang lagi berbahagia. Ahahay,ketenangan mereka sontak terganggu dengan kehadiran kita. Walau cuma dua belas orang,ributnya satu kompi.hahaha..*map ya mbak..maap ya mas*


belitong travelers plus our guides ^^

Ada bintang laut di pinggir-pinggir pantainya. Bintang laut klo udah dewasa jelek deh bentuknya lebih lucu waktu masih kecil. Tak lupa,para peserta tour memegang bintang laut denga pose suka-suka. Ada yang naruh di kepala seolah-olah jepit rambut atau bross. Kasihan banget ya jadi bintang lautnya pasti dia stress.hahaha..sempat terjadi perang pasir. Eka yang lagi berpose kita lempari pasir. Udah lah jadi kejar-kejaran sambil lempar pasir. Anak kecil banget engga siy? biarin namanya juga berlibur.haha..rasanya bebas melupakan penat-penatnya hidup. Pulaunya siy kecil dan terlihat seperti dangkal. Jangan salah lho,beberapa langkah dari pinggiran pantai lautnya langsung dalam sekitar 5 meter. Waspada..waspada..

Coral Planting

Puas main bintang laut dan perang pasir,kita meninggalkan Pulau Gusong. Hujan deras kembali menerpa kapal kita.brrrr..dingin. Kita menuju tempat penanaman terumbu karang. Untuk turut serta dalam coral plant, peserta membayar Rp 50.000. Terumbu karangnya dikasih tag nama kita. Proses pertumbuhan terumbu karang yang kita tanam dapat dilihat setelah 3 bulan kemudian. Abangnya akan mengirimkan foto via email. Sial,kenapa gue jadi Mr Azi di tag terumbu karangnya. Wkwkwk..

Terumbu karang punya gue cakep bener kayak es krim atau kayak api yang di patung liberty sono. Demi anak cucu generasi penerus bangsa Indonesia, kita menanam terumbu karang yang masih bayi ini. Areal terumbu karang di Indonesia makin rusak dan berkurang oleh manusia-manusia berpikiran pendek. Terumbu karang di belitong banyak yang masih alami. Jangan sampe jika gue kesana lagi alam berubah rusak oleh perbuatan manusia. Amit-amit *getok-getok kepala*


tumbuhlah terumbu karang-ku *cupss*

Ada dua cara penanaman bisa nanam sendiri dengan dibantu Abangnya atau titip ama Abangnya buat ditanamin. Kalau ingin menanam sendiri. Buka pelampungnya,kita menyelam sedalam 2 meter untuk menanam koralnya. Ya ampun,gue udah make life vest di laut aja udah pengen tenggelam. Apalagi engga pake pelampung. Mendingan gue duduk manis aja di kapal sambil moto-motoin yang mau nanem koral.Hihihi..yang berani nyelam nanam langsung hanya Erik dan Eka. Ada juga yang nyebur ke laut demi foto ama terumbu karangnya di laut,hehehe *lirik Vonny*

Pulau Babi

Kita kembali ke pulau Babi. Namun air laut telah surut,jadi tidak bisa langsung ke tempat kita datang pertama kalinya. Jadi harus menepi di sisi pulau lainnya yang masih agak dalam. Air lautnya hangat disana. Bukan karena ada yang pipis lho,bukan. Karena airnya mengandung arus laut yang hangat *sotoy*. Daripada kena air hujan dingin mendingan main air laut yang lagi hangat-hangat kuku.
‘Sini..belajar lagi..masa’ udah nyampe belitong,engga bisa snorkeling’,kata bang Erling.
Eka, Bea, Farah menyemangati gue pas dikapal.’lo harus bunuh ketakutan lo sekarang daripada nanti keterusan’,kata Eka.
Iya juga siy,klo ga dijinakkin sekarang. Makin engga bisa snorkeling nanti, rugi donkk..Lautan Indonesia kan luas dan indah-indah,engga bisa menikmati gue. Mulai lagi gue pasang glovenya.. Gue dipegangin,badan dibiarin aja ngambang. Ternyata masalah bukan di alatnya tapi gue yang tidak terbiasa bernapas dengan mulut. Setelah berulang kali,barulah bisa tenang snorkelingnya. Sayang pemandangannya engga seindah di tengah laut. Lumayan gue jadi lebih tenang dan dapat clue pake glovenya. Napasnya juga udah teratur.

Kita kembali menembus hutan untuk ke pondok. Pengen cepat mandi terus ganti baju bersih. Karena mandinya ngantri,gue main-main lagi ke pinggir pantai. Pantainya jauh lebih rendah dari waktu ketika datang. Bea, Erik, Risa,dan Putu main di pantai juga. Ketika gue menoleh ke arah barat woww..mataharinya tertutup awan. Berkas-berkas sinar mataharinya menembus awan,ray of light. Fantastis! Secepatnya gue lari balik ke pondok buat ambil kamera. Gue asyik aja sendiri mengabadikan senja yang indah itu. Air lautnya cuma semata kaki, gue bisa mengamati binatang-binatang laut dengan jarak dekat. Kerang..Siput..Ikan kecil-kecil..bintang laut kecil..sama binatang-binatang laut yang mirip kaki seribu. Sempat berpikir,ada ular laut engga ya?


walaupun tidak dapat sunset yang cerah..tapi gue tetap senang menatap senja :)

Ada lima pondok di pulau Babi. Tiga pondok untuk tamu. Satu pondok utama buat guide-guidenya. Satu pondok lagi berfungsi sebagai dapur, tempat makan, dan warung. Satu pondok berisikan 3 orang,karena kita imut-imut semua jadi muat 4 orang.hahaha *bilang aja ngirit*. Kamar mandinya ada didalam pondok yang langsung terbuka ke langit. Asyik banget bisa menginap di pulau kecil gini. Inilah pengalaman baru bagi gue. Gue siy engga masalah dengan sumber daya yang terbatas seperti listriknya harus mati jam 11 malam, Airnya yang tiba-tiba mati, sinyal handphone yang hilang-timbul,nyamuk-nyamuknya yang sadis nyebelin. Kapan lagi ngerasain beginian? Di jakarta juga bisa siy secara ada juga pemadaman listrik bergilir cuma feelnya kan beda banget. Gue engga ada puas-puasnya melihat pantai dan laut yang biru. Kalau gue perhatikan dengan seksama,ombaknya tidak berbuih lho. Dan pinggiran pantai banyak berserakan keong,siput dan kerang yang bisa dijadikan oleh-oleh yang unik.

Sehabis makan malam akan ada api unggun. Pas banget lagi bulan purnama, asli keren banget bulannya ada lingkaran keunguan gitu. Terang bulan,coba aja kamera gue lebih canggih bakalan bagus banget momentnya. Malam minggu yang indah,jauh dari hingar bingar kota. Sejenak melepaskan beban pikiran dan melupakan tugas-tugas kantor. Yang ada suara jangkrik, Bulan purnama paling cantik,dan sayup-sayup debur ombak. Api unggun siap disuluh. *persis banget deh kayak video klip James Blunt – stay the night*. Kita kelupaan menyalakannya karena kita udah keburu main Uno. Main Uno sampe tepar! wkwkwk. Peraturan baru jika ada nomor 6 yang keluar harus mingkem dan jika nomor 9 yang keluar harus nyengir. Sakit perut gara-gara ketawa mulu maen Uno.ada aja peraturan siluman yang muncul. Nyontek,ambil satu. Konspirasi suami-istri (erik-okta),ambil satu. Mikirnya kelamaan,ambil satu. Nyusahin orang,ambil satu. Apalagi keadaanya muncul angka 6 dan wajib mingkem tapi dia Uno,gimana bilangnya coba.wkwkwkwk..ngakak deh :D

Selasa, 23 November 2010

Beautiful Belitong #Day 1

Rasanya menyenangkan sekali bisa cuti apalagi ada trip seru yang menanti di Belitung. Biasanya gue curi-curi waktu kalau tugas ke luar kota untuk mengunjungi tempat wisata. Kali ini pure holiday.Ketika itu kira-kira sebelum lebaran ada pembicaraan Eka dan Bea, teman kuliah,di twitter . Mereka akan mengunjungi Belitung dengan budget rendah. Gue tertarik dan menggabungkan diri. Gue pikir kapan lagi menjelajahi Indonesia selagi muda dan jomblo.hahaha. Sebulan sebelum bulan november,gue udah ketar-ketir, membayangkan Belitung tapi juga menghitung-hitung tabungan. Karena jarak tanggal gue belitong agak cukup lama dengan tanggal gue gajian. Bahaya kan kalau gue kalap di Belitung, balik-balik engga punya duit.wkwkwkwk

Singkat cerita terkumpullah dua belas orang. Tujuh orang diantaranya teman kuliah; Eka, Farah, Dino, Okta, Bea, Angel,dan Nurul. Dua orang, Risa dan Voni, teman kerjanya Bea. Putu, teman kuliahnya Risa. The one and the only cowok di rombongan kita, Erik, suami dari Okta (masih penganten baru niy). Sepuluh orang berangkat hari Jumat dengan menggunakan Sriwijaya Air. Nurul dan Vony menyusul di hari Sabtu. Penerbangan ke Tanjung Pandan saat ini hanya dilakukan oleh dua maskapai penerbangan, Sriwijaya Air dan Batavia Air.

Mendarat di Tanjung Pandan sekitar jam 7 pagi. Akhirnyaaa inilah Belitong, negeri laskar pelangi. Hal pertama yang dilakukan adalah foto keluarga di dekat tembok tulisan bandara udara H.AS.Hanandjoeddin. iya dong,lagi semangat-semangatnya.wkwkwk. Gue kira guide kita, Pak Kusdian adalah seorang bapak-bapak agak tua dan berkumis (dibayangan gue),ternyata dia masih muda. Hahaha. Kita dibagi dalam dua mobil yang disewa selama kita di Belitong. Mobil pertama; Eka, Farah, Dino, Okta , Erik dengan guide Pak Kusdian alias Bang Jack. Mobil kedua; gue, Bea, Angel, Risa, Putu dengan guide Bang Erling. Kita cari sarapan dulu Mie Belitong Atep. Tak terasa sudah mengelilingi pusat kota 3 kali,Oalah Mie Atepnya belum buka. Kita memilih hotel sesuai dengan budget. So, kita menginap di Hotel Martani, hotel tertua di Belitong. Sambil lihat-lihat kamar, Kita check in dulu ke hotel Martani.

Udah pernah baca atau nonton tetralogi laskar pelangi? Pastinya udah donk. Baik buku maupun film sama-sama booming. Bukunya Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata merupakan buku paling banyak dibaca di Indonesia versi Goodreads Indonesia. Salah satu pembahasan Andrea adalah mengenai penambangan timah. Belitong sempat menjadi primadona dalam produksi Timah. Ketika harga timah dipasaran dunia jatuh dan korupsi menggerogoti PN Timah. PN Timah hancur. Ayah Ikal ikut merasakan imbasnya. Walaupun masih beroperasi tapi tidak sepongah dulu. Kita lihat dari udara seperti ada banyak danau. Bekas-bekas galian ataupun galian yang masih aktif beroperasi menciptakan lubang-lubang besar. Sekarang ijin penambangan di Belitong lebih diperketat dan harus diurus langsung ke Jakarta. Tanah Belitong adalah tanah pertambangan bahkan pantainya pun mengandung timah. ‘Pantai akan hancur jika penambangan dibebaskan’, kata Bang Erling.

Tempat-tempat yang kita kunjungi di Belitong bisa saja ditanya dan dicari ke Mbah Google. Yang membedakannya adalah cerita dibalik perjalanan ini. Ibarat mau foto aja, objek boleh sama,angle bisa berbeda-beda khan :D.

Day 1

1.Kawah Kaolin

Kawah kaolin merupakan galian penambangan kaolin. Penambangan tersebut membuat cekungan besar dan luas. Mungkin karena hujan, cekungan tersebut menampung air sehingga berbentuk seperti kawah atau kolam. Air kawah berwarna biru kehijau-hijauan. Tanah yang kita injak pun merupakan kaolin. Mudah sekali amblas. Ada papan larangan untuk memancing ataupun mandi. Jangan coba-coba ya kedalamannya sekitar 8 meter. Kita pun hanya sebatas portal untuk melihat-lihat dan berfoto-foto. Awan-awan terpantul di permukaan kawah. Erik berani banget dia melewati portal dan berjalan ke arah pinggiran kolam. Wuih syerem,yang gue baca di internet,kawah kaolin ada juga lumpur hidupnya lho. Erik malah dadah-dadah dari tempat berdirinya *geleng-geleng kepala*. Kita udah heboh teriak-teriak biar Eriknya balik,soalnya bisa amblas juga kaolinnya.



dangerously beautiful


2.Tarsius


Berikutnya kita mengunjungi penangkaran Tarsius. Tarsius Bancanus Saltator yang disebut juga Plile’an oleh masyarakat Belitong, tarsius ini merupakan primata terkecil dan unik. Secara umum ciri-cirinya mempunyai mata besar, telinga lebar dan ekornya panjang hampir dua kali lipat tubuhnya. Itu lho yang kayak di film kartun penguin madagascar di global tv, yang suka loncat kesana kemari disingasana raja lemurnya. Lucu banget kan. Tarsius dapat memutar kepalanya hingga 180 derajat. Tarsius termasuk hewan yang dilindungi pemerintah dan dilarang untuk diperjualbelikan. Ada dua kandang penangkaran Tarsius. Penangkaran tarsius ini merupakan penelitian dari seorang profesor Universitas Sriwijaya yang kebetulan pas kita kunjungi lagi pulang ke Palembang.



Tarsius merupakan hewan yang setia dengan pasangannya. Tarsius jantan tidak mengenal poligami. Sekali kawin untuk selamanya. *apa siy gue..hahaha* Hewan ini engga kalah narsis ama gue. Tarsius juga senang difoto apalagi klo pake blitz dia malah suka.*uhuyy aku banget* Saking gemesnya ama Tarsius jangan sampai menyentuhnya,dia bisa setress. Dia tidak terbiasa dengan sentuhan manusia. Pertama-tama agak susah juga membidik si Tarsius. Warnanya coklat jadi tersamar dengan daun dan pohon. Ada halangan jeruji kandangnya juga,jadi sinar kamera mantul lagi ke gue. Udah gitu dia loncat kesana kemari cepat sekali. Kadang dia bersembunyi dibawah daun-daun. Kita ya harus pindah kesini..lari kesana..mengikuti perpindahan si Tarsius. Setelah bapak penjaganya datang,kita diperbolehkan masuk kandang Tarsius. Tidak banyak-banyak paling banyak dua orang didalam kandang. Siapa yang berani hayok masuk dan mendekat ke Tarsius.

3.Air Terjun Gurok Beraye

Air terjun Gurok Beraye tak jauh dari tempat penangkaran tarsius. Istilah yang lebih tepat untuk Gurok Beraye mungkin curug karena tidak terlalu tinggi. Jarak antara parkiran dan air terjunnya juga dekat. Karena masih hari kerja, kita beruntung pengunjung hanya kita saja. Berasa ekslusif,hehehe. Woww,,airnya hijau jernih. Pemandangannya seperti gambar-gambar yang di kalender. Jernih dan segar. Air kolamnya mengundang untuk berenang.


jadi pengen berenang kan..^^

Setelah dari Gurok Beraye, Hujan deras mengguyur Belitong. Kriuk..kriuk..bunyi perut semakin sering terdengar,laperrr.. Kita udah muter-muter daerah Sijuk mau cari tempat makan. Mana hujan juga deras. Gilaa, Warung-warung tutup. Engga ada yang buka T.T ‘Disini,hari Jumat libur’, kata bang Erling. Pantesan sepi banget. Bersyukur kita diselamatkan oleh warung nasi padang *sujud syukur* Untung saja,warung nasi padang ada dimana-mana.hahaha.jadi bayangan akan menahan lapar seharian tidak akan terlaksana. ^^

4.Bukit Paramount


Sehabis hujan deras,kita menuju Bukit Paramount (baca: paramun). Bukit Paramount memberikan pemandangan ke laut Cina Selatan, pulau-pulau kecil termasuk Pulau Babi tempat kita menginap. Siapa sangka untuk menuju bukit tersebut kita harus menerobos semak-semak dan hutan belantara. Awalnya masih oke-oke aja,tumbuhan-tumbuhan yang basah dan tanah yang becek. Konturnya masih mendatar. Namun makin lama makin nanjak. Dan ampunnnnnn....ini mah jungle trekking! Masa’ trekking pake sendal bukan sendal gunung lagi. Gue menyesal tidak bawa eiger gue karena tidak menyangka ada trekking. Dan salah kostumnya parah. Farah dan Putu pake dress (untungnya pake legging). Risa pake rok. Gue aja pake baju cantik.wkwkwkwk. Engga oke banget buat masuk hutan.

Bukit ini ada kuncen nya juga lho. Rombongan bertambah 3 orang. Satu orang didepan buat buka jalan. Satu orang di paling belakang. Satu orang diantara rombongan. Bang Erling memberikan pelajaran biologi singkat (yang langsung praktek)..ini pohon rotan..ini pohon Karamunting (huwaaa ada buah karamuntiang)..ada juga pohon langka pohon bulin. Katanya pohon bulin ini lebih kuat dibandingkan pohon jati dan termasuk pohon langka. Masyarakat setempat melindungi pohon-pohon tersebut dari penebangan liar. Yang dimanfaatkan hanya buahnya saja. Pohon bulin hanya terdapat di pulau Belitong dan pulau kalimantan. Di Kalimantan, pohon ini lebih dikenal dengan pohon bulian.

Hujan turun lagi. Kita berteduh di goa Jepang. Konon dulunya digunakan untuk markas tentara Jepang. Heran deh, ini tentara Jepang doyan banget siy bikin goa. Goa jepang kayaknya ada tersebar dimana-mana di Indonesia. Ciri khas di belitong ini adalah batu-batunya yang besar-besar. Bahkan di dalam hutan pun batunya besaaarrr. Biarpun masuk hutan, narsis tetap jalan. Jika ada spot yang keren berhenti dulu, poto-poto, baru jalan lagi. Kadang tak sadar barisan yang depan udah ada dimana, kita yang dibelakangnya masih asyik poto-poto. Ntar pas jalan barulah bingung,ini jalannya yang mana? hahaha.


Berteduh di depan goa Jepang
cheers ^^

Betis rasanya mau meledak deh. Kita naik..naik..naik terus..ngos-ngosan beginilah kalo jarang olahraga. Diajak naik bukit,napas udah satu-satu. Mana jalanannya licin,gue ngeri aja kepeleset trus guling-guling ampe bawah,idih amit-amit cabang bayi *getok-getok kepala*. Jalurnya dibeberapa titik lumayan berbahaya,kita manjat akar-akar pohon dan berpegangan di pegangan kayu yang goyang-goyang mulu sementara disamping kanan udah pinggir jurang. Oke, jangan lihat kebawah tapi lihat ke atas dan tetap berpikir positif, maju teruss..Kurang lebih 30 menit,kita trekking menuju bukit Paramount.

Sesampainya di tempat tujuan,,wowww,,batu lagi! Gila,bukitnya berbentuk batu. Walaupun engga takut ketinggian, gue tetap aja geli-geli ngeri takut jatoh. Apalagi imajinasi gue membayangkan yang enggak-enggak. Makanya gue engga terlalu berani melangkah jauh-jauh. Si Bea tiba-tiba berdiri terpaku, sama juga engga berani melangkah jauh-jauh. Padahal dia tidak takut ketinggian sampai dia nangis. *Cup cup be* Yang kuncennya malah jalan ke ujung,wuih syerem banget tapi dia masih napak dibukit. Bisa jadi bukit ini berbentuk setengah bola. Cuacanya agak mendung. Jadi sayang sekali laut dan pulaunya tidak terlalu kelihatan. Pohon-pohon sekitarpun terselubungi kabut.


kakiku di Bukit Paramount

Pas lagi asyik menikmati pemandangan dan poto-poto (selalu yang ini mah). Tiba-tiba sebuah pekikan mengguncang bukit Paramount. Itu pekikan Farah. Ada lintah dikakinya! Spontan Angel yang duduk disebelahnya membuah lintah tersebut. Lintah yang dilepas paksa itu akan membuat dibekas gigitannya mengeluarkan darah terus menerus. Masing-masing memeriksa kaki, tangan, baju, celana jangan-jangan ada lintah yang tak diundang nemplok seenaknya.

Kata Bang Jack, jalur turun berbeda dengan jalur naik, lebih cepat sampai dan tidak separah jalur naik. Hujan mulai turun di bukit Paramount. Semua barang elektronik diamankan dalam plastik. Beuhh,,medannya berat bo! Lebih susah dibandingkan pas naik. Licin banget. Sehingga jatuh korban pun tidak terhindari. Angel dan Dino terpeleset. Angel malah tiga kali kepeleset. Gedebuk! Suaranya kenceng banget. Pohonnya ikut tumbang lagi (wajar aja udah rapuh,,hehehe). Bang jack aja juga kepeleset untung ada Angel yang menyelamatkannya *suit suit*. Kita engga peduli lagi kotor-kotoran. Kayak anak-anak kecil maen lumpur aja. Kaki..tangan..baju..celana apalagi, kotor semua. Turunannya tambah licin aja sampai kita berpijak di kaki kuncennya (curang,,dia pake sepatu boot). Gue sangka mendaki aja udah parah ternyata turun dua kali lipat lebih sulit karena faktor hujan tadi.


‘Pak..mana parkiran mobilnya?’,kita udah bawel kok engga nyampe-nyampe. ‘Sebentar..dikit lagi’,kata kuncennya. ‘tetaplah berpikir positif’, Bang Jack menyemangati kami-kami ini. Aaaa..kapan nyampenya? Sampai di parkiran, kuncen mengobati kakinya farah dengan daun samak *bener ga niy namanya* kayak serat merah-merah gitu. Kirain Farah aja yang digigit lintah. Banyak yang kena! Risa..Okta..Putu..Angel juga, yang teriakan menggema :p. Kaki yang kotor oleh lumpur setelah diperiksa lagi ternyata ada lintahnya.huwaaa,,tersamarkan dengan bentuknya yang kecil dan tak terasa apa-apa jadi yang dikira lumpur tahu-tahunya lintah. Makin banyak lah pasien kuncennya,hahaha..


sehabis jungle trekking

5.Pantai Tanjung Tinggi

Basah dan penuh lumpur,kita pergi ke pantai Tanjung Tinggi. Nama kawasan pantai Tanjung Tinggi semakin melejit setelah booming Laskar Pelangi. Selain salah satu lokasi syutingnya Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi,pantainya memang indah. Dengan batu-batu besar yang tersusun artistik, pasir putih dan laut biru,keren banget. Sayang sungguh sayang,batu-batu tersebut tak luput dari tangan-tangan vandalist! :( Ada aja yang iseng corat-coret pake pilox. Bisanya merusak alam aja,harusnya ditangkap tuh yang bandel trus dihukum coba bersihin batu-batunya. Sayang banget kan keindahan Pantai Tanjung Tinggi dinodai tangan-tangan iseng.

Pertama-tama marilah kita membersihkan baju setelah kotor-kotoran di hutan.hahaha..baru deh abis itu ambil pose. Sebenarnya gue pengen banget dapat sunsetnya tapi langitnya mendung dan sesekali hujan rintik-rintik. Yahhhh..ga dapat lihat sunset. >.< Gue ama Bea berjalan menyusuri pantai ke arah barat. Sementara yang lain menyelusup ke batu-batu gede. Pantainya bagus bangettt..bersih palingan ada rumput laut didasarnya. Dan ketika itu pengunjung juga tidak terlalu banyak. Jadi enak banget menikmati pantainya.


wuih gaya superwoman

Setelah puas bermain-main air, kita kembali ke hotel.

Senin, 05 Juli 2010

Horas..Manjua-jua..Welcome.. to North Sumatera

Hello..hello..akhirnya setelah sekian lama 'terpuruk' di Jakarta ini. Gue ditugaskan lagi ke daerah. Kembali ke Sumatera..Yeay!! sayangnya, tetap masih jauh dari kampung halaman T.T Lebih tepatnya propinsi tetangga, Sumatera Utara. Enjoy My Story :)))

Danau Toba

Kantor cabang klien tersebar lagi ke kota-kota lain di Sumatera Utara seperti Pematang Siantar, Kisaran, Tebing. Salah satu cabang yang dikunjungi di Sumatera Utara adalah Pematang Siantar. Waktu tempuh dari Medan ke Pematang Siantar sekitar tiga jam. Berangkat dari hotel jam 8 pagi. Ketika dalam perjalanan sempat singgah sebentar membeli dodol di Perbaungan. Di kiri – kanan jalan terhampar luas perkebunan kelapa sawit dan karet. Rat-rata kebun kelapa sawit milik Perusahaan negara seperti PTPN 2,PTPN 3, PTPN 4 dan kebun karet swasta milik Bridgestone. Uniknya ketika memasuki daerah Deli serdang dan Serdang Bedagai, banyak bangunan dicat dengan warna hijau-kuning,warna khas melayu. *bukan warna bendera partai yang berkoalisi ya..hehe*

Jika mampir ke Pematang Siantar,rasanya rugi tak singgah ke Parapat. Disanalah danau terbesar di Indonesia berada : Danau Toba. Berangkat dari Siantar sekitar jam 5 sore.”dekat kok..hanya satu jam dari sini.masa’ udah di Siantar, engga mampir ke Parapat”,kata Bpk klien. Selagi dalam perjalanan, kami mengobrol mengenai keberagaman suku Batak. Selama ini gue hanya mengetahui Batak itu ada tiga: Batak Karo, Batak Toba, dan Batak Mandailing. Ternyata masih ada Batak Simaluhun dan Batak Pakpakhan. Kita yang bukan orang Batak jadi sibuk bertanya jika marga ‘Pasaribu’ termasuk Batak apa? Kita sebutkan nama-nama marga yang familiar. Sepanjang perjalanan menuju danau toba,di sisi jalan terdapat banyak komplek pemakaman orang Batak. Makam tersebut dinaungi miniatur rumah adat Batak.

Merinding...melihat danau toba dari kejauhan. Pertama karena cuaca memang dingin,hujan sore rintik-rintik. Kedua,betapa luaaaaaaasnya danau tersebut. Hari beranjak makin sore, kami harus cepat-cepat sampai ke tepian karena kalau jika malam engga bisa dilihat donk pemandangannya (engga bisa foto-foto lagi). Unfortunately,gue tidak membawa Digicam. Jadinya dengan keterbatasan kamera HP saja gue memotret keindahan Danau Toba. Kami berkunjung ke Istana pengasingan Bung Karno. Biasanya bisa masuk ke dalam. Karena sudah sore banget hanya di berdiri di depannya saja. Dari sini pemandangan Danau Tobanya bagus.Bahkan staf-staf accounting yang tidak ikut tidak mengenali hasil foto gue.’masa siy ini danau toba?’,ujarnya tak percaya.

senja di danau toba


di depan istana pengasingan Bung Karno

Parapat sebagai daerah pariwisata memiliki banyak penginapan, dari kelas melati hingga hotel berbintang. Toko-toko souvenir juga banyak. Ada buah yang khas dari Parapat ini yaitu Mangga kecil seperti kuini. Hari sudah malam,kami melihat-lihat souvenir. Agak alot juga niy tawar menawar dengan pedagang sini. Untuk makanan, bagi yang Muslim harus teliti memilih rumah makan. Memang banyak rumah makan yang bertuliskan ‘rumah makan muslim’ tak ada salahnya bertanya-tanya dulu sebelum makan.

Sayang sekali, hanya sebentar menikmati keindahan Danau Toba (masih memakai baju kantor pula). Kembali ke Siantar, makan malam dulu sebelum kembali ke kota Medan. Ketika berangkat perjalanan tidak terasa,tapi ketika pulang,alamak..badan sudah capai tapi masih harus menempuh 3 jam perjalanan lagi. Karena duduknya dibelakang bisa tidur. Coba di depan,mau tak mau ngobrol sama Bpk Klien biar dia yang nyetir engga ngantuk juga.

Someday, I shall return ‘Lake Toba’ :D

Istana Maimun

Jam kerja klien dari jam 7 hingga jam 3 sore. Jadi seringkali ketika sudah jam 5 sudah pulang. Kejadian yang mustahil di Jakarta.haha. Ketika mengunjungi kantor cabang klien di daerah Asia,pas pulangnya diajak lah kami menengok Istana Maimun,simbol khas kota Medan. Istana Maimun merupakan istana dari kerajaan melayu Deli. Interior istana dipenuhi warna khas melayu kuning-hijau. Sebelum memasuki istana,kita bayar retribusi sebesar 5000 per orang. Di dalam istananya sendiri terdapat toko souvenir yang menjual souvenir bergambar istana maimun.

Di halaman Istana terdapat sebuah meriam yang dikenal Meriam Puntung. Meriam Puntung ini merupakan penjelmaan dari Putri Hijau,putri kerajaan Melayu Deli. Bapak penjaganya menjelaskan panjang lebar sejarah dari Meriam Puntung. Cepat kali bicaranya. Gue hanya mengangguk-angguk. Pas lagi engga bawa dompet lagi,ntar klo disuruh bayar gimana coba. Untuk melihat meriam tersebut ada retribusinya Rp 2.000. Meriam Puntung ini dikeramatkan. Gue agak kaget juga ada pengunjung yang berdoa dulu lalu mencium Meriamnya.


Bukit Lawang – Taman Nasional Gunung Leuser

Hari minggu, waktunya jalan-jalan.haha..Kami menuju Bukit Lawang, Wisata sungai Bohorok. Bukit ini pernah terjadi air bah yang dahsyat di tahun 2004. Bukit Lawang termasuk didaerah Taman Nasional Gunung Leuser,Langkat. Aneh ya..taman nasional kok ada kelapa sawitnya. Ketika dibilang bisa arung jeram di sungai ini, yang terbayang adalah arum jeram citarik dimana kita naik perahu ada dayungnya pake pelampung oranye. Bengong gue, karena disana jeramnya pake ban gede.kwau..kwau..

Cuaca sedang cerah-cerahnya jadinya panasss..di tepian sungai,ada tenda-tenda lesehan. Jadi kita bisa sewa seharian. Suasananya rame banget jadi tempat-tempat tersebut sudah penuh dibooking. Akhirnya kita duduk-duduk dipinggiran makan rambutan binjai sambil ngeliatin orang-orang. Bosan duduk aja.kami bertiga cewek-cewek memutuskan untuk jalan-jalan disekitar pinggiran sungai. Kita memutuskan untuk menyebrangi sungai lewat jembatan putih. Dari kejauhan seperti jembatan biasa tapi pas naik..bergoyang-goyanglah dia..ampun jembatan buai. Gue engga terlalu takut ketinggian tapi gamang juga pas ditengah-tengah. Kebayang peristiwa jembatan Batu Raden,Na’udzubillah. Kaki kami gemetaran. Sampai diseberang sungai,baru kepikiran, ‘kok kita engga foto-foto ya pas ditengah’. Beberapa pengunjung terlihat asyik-asyik aja bergaya di tengah-tengah jembatan. ‘sama sekali tidak terpikir abisnya serem liat air dari ketinggian jembatan’. Engga mau balik lagi ke jembatan itu.kita naik jembatan satunya lagi aja. Ada dua jembatan,yang satu jembatan putih ini yang lainnya jembatan bambu. Jembatan putih lebih bagus dan kuat karena ada ditopang besi baja namun jarak lintasannya tinggi. Sementara jembatan bambu jarak lintasannya lebih pendek tapi engga terlalu aman,pakai bambu trus hanya bisa satu orang berjalannya. Serba salah juga siy. Akhirnya kita menjajal kedua jembatan.


jembatan putih


jembatan bambu

mana yang lebih serem?

Istirahat sebentar..kita ingin menjelajahi sungai ke arah hulu. Hanya tiga bidadari yang ikutan. Bapak-bapak tinggal dan duduk-duduk santai. Makin ke hulu makin sepi tenda-tenda lesehannya. Jauhh ke hulu..hampir ikutan jungle trek deh ama bule-bule..soalnya di Bukit Lawang juga ada orang utan. ‘mbak, mau lihat orang utan?’,ujar Si Abang menawarkan jasa guide . ‘engga usah Bang..niy ada contohnya’,kata si Kak witut sambil nunjuk kak Pitut. *kenapa nama gaulnya akhiran –tut semua ya?*

No Pain No Gain. Jalannya sebenarnya dekat karena naik turun lewati bukit jadinya agak lama. Kami bertemu dengan pinggiran sungai yang cukup dangkal. Pengunjung disini tidak sebanyak yang di hilir. Airnya jernih. Pas mau pergi, yang lain bawa baju ganti, gue juga ikut bawa tapi jeans ganti engga ada. Jadinya gue tidak ikut basah-basahan. Ada yang terjun dari tebing gitu sambil loncat indah ataupun diceburin. Gue duduk dipinggir saja sambil merendam kaki. Bening..sampai kaki yang belang pun kelihatan.haha.. Pepohonan diseberang sungai nampak bergoyang-goyang rupanya monyet-monyet sedang bergelantungan. Ah beruntung sekali nasib monyet disini, merdekaaa di alamnya. Klo di Jakarta sudah dipekerjakan jadi topeng monyet.

pinggiran sungai yang agak teduh


saking jernihnya sungai..kaki yang belang pun keliatan..hihi

Berastagi

Satu tujuan lagi maka komplit lah tour de medan ini.hehe. Berastagi! Tempat penghasil markisa yang terkenal itu. Berastagi berada di pegunungan. Suasananya sejuk dan dingin. Mungkin seperti di Puncak. Tapi setelah ke sana, Puncak lewattttt deh..perjalanan yang berliku-liku dan curam memang mengerikan. Tikungannya tajam. Kiri jurang kanan hutan. Masih asri dan rimbun,Makanya Puncak tidak ada apa-apanya villa semua. Semoga jika sepuluh tahun lagi gue ke Berastagi,hutan-hutan tersebut masih ada. ‘masyarakat sini tidak memperbolehkan hutan disini ditebang’,ujar Bpk Klien. Setuju!!!

Kami melewati salah satu pabrik aqua yang menggunakan mata air Gunung Sibayak. Jadi seringkali berpas-pasan dengan truk fuso ataupun kontainer Aqua. Yang serem, pas lagi tikungan maut,kami dari bawah,kontainer dari atas.Untungnya di klakson panjang jadi kami bisa bersabar sedikit memberi jalan. Karena hutannya masih asri,sesekali ada beruk terlihat di pinggiran jalan. Tak sedikit yang bela-belain berhenti melihat dan memberi makan beruk-beruk tersebut . *padahal pas di tikungan.ckckck*. Untuk angkutan umum, ini dia raja jalanannya, terkenal sekali angkutan disini nekat-nekat. Jalan yang menanjak dan berliku-liku tidak menyurutkan keberanian sopir-sopir angkutan umum disini. Tetap aja ngebut dan engga mau kalah dengan kendaraan lainnya. Dan yang lebih amazing lagi,penumpangnya naik ke atas mobil. Kayak orang-orang nekat yang naik di atas atap KRL cuma jalannya lebih berbahaya ini deh. Sinabung Jaya, Sumatera Transport, Borneo terkenal sering masuk jurang. ‘Udah biasa di berita itu’ kata Bang Jun. Makanya penumpang lebih memilih naik ke atap,klo masuk jurang bisa loncat menyelamatkan diri.

Ada insiden kecil selagi kami baru memasuki kawasan Berastagi. Ceritanya kami yang orang jakarta ingin merasakan sejuknya udara Berastagi, dibukalah jendela mobil. Enak banget,angin sepoi-sepoi dan dingin.sejukkk..tiba-tiba,*sniff..sniff* ‘kok bau ya?’ kami menyadari ada bau tak sedap. Lihat ke depan. Ada babi! Mobil bak terbuka di depan sedang mengangkut babi-babi. Iiiiiiii...serempak pada teriak dan menutup jendela mobil..huwekkk bau banget!! Dibalap aja tuh babi-babi itu. Baru kali ini,gue berada jarak dekat dengan babi-babi hidup. Baunya huwekkk! Babinya gendut-gendut dan kotor. Dasar babi! Kita mampir dulu di pom bensin terdekat. Mual rasanya.kita jadi ngakak setelah jalan kita ngelihat mobil bak itu lagi.hahaha



Bukit Gundaling adalah titik tertinggi di Berastagi. Kita bisa melihat kota Berastagi dari atas Bukit. Sejauh mata memandang hijauuuu. Untung juga ya, ke sininya sore-sore karena pengunjungnya sedikit jadi berasa ekslusif gitu. Klo weekend,biasanya rame banget. Terlihat tenda-tenda biru seperti di Bukit Lawang untuk ‘ngaso’, tidur-tiduran , atau makan-makan. Jika ingin menikmati pemandangan Berastagi sambil naik kuda juga bisa. Bayar tapi.hahaha. Banyak lho ‘koneng-koneng’ Pup kuda di jalanan. Pupnya engga ditadangin siy jadi buang pup dimana-mana. Bauuuu..Ada toko-toko souvenir. Sekarang gue menyadari kesamaan baju-baju dari Danau Toba, Bukit Lawang dan Berastagi. Batik! Ya..baju-baju batik ala pantai gitu cuma ditambahin sablon ‘Lake toba’, ‘Bukit Lawang’, ‘Berastagi’. Gue yakin niy Batiknya dari pekalongan.haha.. Balik lagi ke baju kaos yang engga mahal dan engga murahan juga.


biasaaa..narsis dulu ah :))))

Sepulang dari Berastagi, hujan mulai mengguyur Berastagi. ‘klo engga hujan bukan Berastagi namanya’,ujar Bpk klien. ‘mau singgah ke pasar’,dia menawarkan lagi. ‘engga usah Pak..hujan’,jawab kami. Di pasar Berastagi, buah-buahan masih segar ‘fresh from nature’. Kita pulang aja takutnya sampai Medan tengah malam. Ada Big match,Spanyol vs Portugal.

Engga hujan aja gue udah was-was dengan jalanannya tambah licin kan. Baru kali ini,gue mendapati kabut pekat plus hujan deras. Wuih,kita harus waspada. Kami berhenti sebentar sambil menunggu hujan agak reda kami memesan jagung bakar. Lumayan lah untuk mengganjal perut yang kelaperan. Mau engga mau makan malamnya harus di Medan. Ada siy rumah makan antara Medan – Berastagi, yang banyak itu BPK ‘Babi Panggang Karo’. Saya tidak makan itu. ^^ Sampai di Medan jam 9 malam,langsung nyari makan di daerah USU (universitas sumatera utara). Akhirnya Mie Aceh lagi..hmm yummy..sambil menonton pertandingan Paraguay vs Jepang yang baru mulai. Sepiring Mie Aceh Daging dan Teh Susu Telur (TST). Lekker!


Wisata Kuliner

Medan ini banyak sekali tempat-tempat kuliner yang patut dicoba. Gue sih tidak terlalu suka dengan makanan-makanan ‘aneh’ karena lidah dan perut gue tidak suka yang aneh-aneh. Tapi untuk mencicipi masakan Padang di setiap kota, wajib itu. Engga bisa jauh-jauh dari ‘Salero Awak’. Disini ‘rumah makan padang’ ditulis ‘rumah makan masakan khas Minang’. Gue sebel dengan rumah makan melayu/minang yang dekat Hotel gue, Hotel Asean Internasional. Beuh..mahal banget. Sayurnya bayar..sambalnya bayar..rasanya kurang pas lagi di lidah minang gue. mendingan makan di rumah makan padang yang biasa aja,satu harga included nasi,lauk,sambal,dan sayur. Untuk makanan khas medan, ada lontong medan yang uenak..manisan jambu yang uenak..mie aceh disini lebih banyak juga *susah nyari mie aceh di jakarta*..jus martabe yang uenak.. ikan arsik juga uenak..yang enak-enak aja ya gue rekomendasiin.

Selasa, 06 April 2010

Di Negeri Seribu Goa

Sebelumnya gue minta maaf kepada pembaca yang budiman, seharusnya gue posting blog ini sebulan yang lalu, karena kemalasan teramat sangat dan entah kenapa gue lebih mood nulis di kantor. Jadi baru sekarang bisa diterbitkan. *sambil nyambi ngerjain wp (working paper) tentunya*

Fortunately, berada di Solo saat patah hati merupakan suatu anugerah. Karena obat pelipur lara tersedia dalam berbagai macam bentuk,mau shopping batik (hayukk..ini kan city of Batik), jalan-jalan ke museum, wisata kuliner, hingga ngecengin bule *ah ga ada setampan James Blunt*. Klien gue yang lebih banyak Mbak-Mbak ngajakin gue berdarmawisata. Lebih jauh ke arah timur sana. Kota kelahiran Presiden Republik Indonesia saat ini, Pacitan.

Namun, niat hati ingin berlari-lari di pantai ala Beyonce (see video klip broken-hearted girl) nampaknya ditangguhkan. Karena pada hari-H tersebut bos gue datang menyusul. Dia datang Jumat Pagi, pulang keesokan harinya. Bener aja disuruh lembur hari Sabtunya. Yaudah lah Batal,pikir gue. Muka gue ampe merah dibecandain klien. ’besok kerja ya Mbak..’ Gue ketawa-ketawa aja. Mereka mana pernah masuk pas hari Sabtu. Ternyata hari Sabtu tak jadi lembur. Bos kan juga manusia, pengen shopping batik juga.hihihi..Dia meminta kami menemaninya. Dari Danar Hadi, Kampung Batik Kauman, hingga Kampung Batik Laweyan.Dan lagi-lagi, pertahanan irit gue runtuh, batiknya bagus-bagus sih ^^

Minggu pagi, kita berangkat jam 8 dari Solo. Melewati Sukoharjo, Wonogiri, trus apa lagi ya *lupa -.-* Sepanjang perjalanan, senior gue tidur karena semaleman begadang,engga tidur sama sekali. Jadi mereka ngobrolnya ama gue. Pembicaraan didominasi bahasa Jawa membuat kuping melayu gue terbiasa dan sedikit demi sedikit mengerti bahasa jawa. Sampai di Wonogiri, kita berpas-pasan dengan segerombolan pengendara motor yang sedang touring, mereka memakai jaket hitam-merah. Ngenggg...ngengggg..bunyi knalpotnya bisa bikin pekak telinga. Sepanjang perjalanan ke Pacitan, kami beriringan, *kayaknya tujuannya sama*.

Malam sebelumnya,gue kebetulan nonton program ”Koper dan Ransel” (Trans TV), mereka sedang mengunjungi Pacitan. Pas banget..Sayang ya engga ketemu..presenter bulenya cakep..hehehe. Kemana siy tujuan gue kali ini? Goa Gong dan Pantai Teleng Ria. Tuh kan sama dengan tempat-tempat yang dikunjungi ”Koper dan Ransel”.

Alam Indonesia memang sungguh indah. Perjalan naik turun bukit dan meliuk-liuk, menyajikan pemandangan yang keren. I love Indonesia!! Setiap daerah memiliki tag line pariwisata sendiri. Pacitan pun begitu. “Selamat datang di negeri seribu goa”. Objek pariwisata dari Pacitan adalah goa alaminya dan pantai. Dari papan penunjuk jalan, gue mendapatkan info terdapat beberapa goa di Pacitan; Goa Gong, Goa Tabuhan, dan Goa Putri.


Goa Gong terletak di Desa Bomo, Kecamatan Punung, 37 Km ke arah barat kota Pacitan. Goa Gong, pasti penasaran kan kenapa bisa dinamakan ‘Goa Gong’, apakah ada gong di dalam goa ? memang penamaan tersebut berkaitan dengan salah satu perangkat gamelan tersebut. Berdasarkan booklet "Goa Gong, Obyek Wisata Potensial di Kabupaten Pacitan yang" disusun oleh Drs Wakino-yang merupakan cucu dari salah satu penemu Gua itu,konon saat-saat tertentu dari pegunungan di sekitar sering terdengar bunyi-bunyian gamelan jawa, pertunjukan reog bahkan terdengar orang yang menangis. Masyarakat sekitar menamakan pegunungan tersebut 'gong-gongan'. Sehingga Gua yang ditemukan dinamakan Gua Gong.

Dari tempat parkir mobil, kita harus berjalan lagi menaiki tangga ke atas sekitar 5 menit. Pedagang-pedagang souvenir dan makanan berada di kiri-kanan jalan menuju goa. Souvenir-souvenir yang dijajakan berbagai macam; ada gelang, kerajinan dari keramik, dan yang paling banyak dijual adalah batu akik.

Cuaca cukup terik walaupun sedang musim hujan. Selain itu, beberapa warga sekitar menawarkan jasa penyewaan ’baterai’ (dibaca : senter), harga sewanya Rp 2.000. Ketika berada di mulut goa, giliran pemandu-pemandu yang berebut menjajakan jasanya. ”Bayarnya seikhlasnya saja Mbak”, ujar si Mbak. Akhirnya kami berjalan beriringan dengan Mbak Pemandu. Ia sendiri berjalan paling depan dan menjelaskan sudut-sudut goa satu persatu.

Tanahnya licin dan becek karena musim hujan air masih menetes-netes dari staglatit. Jangan khawatir karena ada jalan setapak di dalam goa tersebut diberi pagar pembatas. Jadi ada pegangan untuk jalan. Subhanallah, keren banget! Baik Staglatit maupun Staglamitnya membentuk rupa yang artistik.



keren banget khan..

Sayangnya, gue tidak terlalu menikmati carving ini. Kurang puas. Suasana rame banget. Sementara untuk berjalan harus satu persatu. Jadi berhenti lama sedikit, orang yang dibelakang udah banyak yang ngantri. ”Yang berhenti satu, Yang ngantri banyak”, celoteh mas-mas dibarisan belakang kami. Sementara gue masih punya banyak pose yang gue akan diabadikan dengan staglatit dan staglamit Goa Gong.

Dalam goa tersebut terdapat beberapa mata air. Mata air inilah asal muasal ditemukannya Goa yang indah ini. Selagi Mbak Pemandu menerangkan sejarah asal mula Goa Gong, gue asyik motoin sisi-sisi Goa. Salah satu mata air yang menarik perhatian gue adalah mata air Bidadari. Bagi yang percaya, jika mencuci muka atau meminum air dari kolam ini, akan enteng jodoh dan awet muda. Sontak, dengan gagah berani, gue melewati pagar pembatas. ”Mbak, berani juga ya”, ujar pengunjung dibelakang kami. Eits, lagi cuci muka pun gue berpose. Segerrrr...ternyata kenekatan gue menarik senior dan klien gue, mereka pun ikutan cuci muka. Ya walaupun sudah ketemu jodoh, mungkin siapa tahu khasiat yang satu lagi dapat, awet muda.hehehe..



Namanya juga Goa, gelap di dalamnya,penerangan di bawah situ sudah difasilitasi dengan lampu penerangan. Namun tidak menjangkau semuanya sehingga suasana agak remang-remang. Keremangan goa dimanfaatkan segelintir muda-mudi. Yang bikin gue heran, anak muda sekarang doyannya pacaran di kegelapan goa. Ini kan tempat umum, banyak orang tua, banyak anak kecil. Please deh, cari ruang pribadi aja kenapa.


Gue agak malu berpose pada photo diatas. Untuk membingkai kenangan gue di Goa Gong ini, gue diliatian segerombolan mas-mas yang juga sedang foto-foto. Tapi pas giliran gue yang berpose, mereka mau lewat. Karena ada gue yang lagi bergaya, mereka menunggu sekitar 20 detik.”Senyum manisnya Mbak..”,goda salah satu mereka. Heboh deh mereka (untungnya ngomong bahasa Jawa..jadi gue engga ngerti)

Sampai di luar Goa, panas terik menyambut kami. Walaupun didalam goa berbecek-becek, tak terasa baju udah basah keringat. Gerah euy..selagi yang lain sedang beristrirahat, gue iseng memainkan digicam. Beberapa foto yang gue ambil di pintu masuk Goa Gong

penghargaan kepada penemu-penemu Goa Gong


pemandangan sekitar..


kalau ini siy gue yang jadi objeknya..hehe

Perjalanan kembali ke tempat parkir lebih lama dari kita datang. Perhentian pertama, makan pecel Mbok-mbok dulu. Sayur-sayuran plus tempe yang dibikin dari kacang merah cukup mengganjal perut yang mulai keroncongan. Selang beberapa langkah, berhenti lagi di toko souvenir, sebagai pecinta-gelang-tangan-bulat-bulat-dari-batu, gue membeli gelang warna hitam. Tidak terlalu mahal. Tapi melihat kualitas juga yang murah juga banyak. Kios berikutnya pedagang batu akik. Gue ikut melihat-lihat, secara udah punya cincin kelingking, tidak berniat membeli. Cing..cing..ada cincin batu akik berwarna hijau. Cincin tersebut seperti menarik gue untuk membelinya. Agak kegedean di jari manis. Desainnya untuk batu akik tidak terlalu maskulin, agak feminim malah. Akhirnya gue membeli cincin tersebut, matching dengan gelang giok gue, ijo-ijo..Selesai kah acara belanja-belanjanya? Tidak, dekat tempat parkir ada bursa batu akik, satu los tersebut jual berbagai macam batu akik, gelang, cincin, kalung, bros. Gue membeli bros dari batu yang katanya dari batu saphire (tahunya pas di hotel, penitinya copot dari batu tersebut, cuma ditempel gitu aja siy).

Selain Goa Gong masih ada Goa Tabuhan dan Goa Putri.

It’s beach time!!!
Uwi, anak dari klien gue, udah merengek-rengek, ”Ma..ke pantai ma..ke pantai..”. Tak sabar dia ingin bermain air. Dari tempat makan siang, pantai sudah terlihat dekat. Nyiur melambai-lambai. Angin pantai nan sepoi-sepoi. Enaknya tidur deh.

Welcome to Teleng Ria Beach..memasuki kawasan tersebut bikin gue dejavu dengan pantai ancol. Mungkin karena waktu itu lagi ada panggung dangdut kali ya. Lagi nyari-nyari tempat buat parkir. Ada seorang cewek yang dandanannya oke banget. Kita nyangkanya Bule, eh taunya bukan cewek 100%. Kebanting deh ama kita-kita yang cewek tulen. haha..poll abis dandannya.

Untuk ukuran pantai, Pantai Teleng Ria termasuk bersih. Pantai termasuk pantai laut selatan. Gue dibecandain, ”Ayo lo..ditarik ketengah”. Soalnya pakai gelang plus cincin hijau. Tapi serius lho..gue takut beneran, karena waktu bulan Januari gue ke Solo, di pantai tersebut ada mati tenggelam kebawa ombak. Gue engga berani jauh-jauh, engga bisa berenang.

sengaja nih pamer cincin batu akik..hehe

Inilah bedanya kita dengan anak kecil. Uwi dan anaknya Mbak Murni asyik main-main air laut, main pasir. Peduli amat kotor-kotoran sambil cebar-cebur kena ombak. Mereka tertawa riang menyambut ombak yang datang. Asyiknya..gue sungguh iri. Sudah lama tidak tertawa lepas seperti mereka yang tiada beban.kecipak-kecipuk..asyiknya..

tuh khan anak-anak asyik aja main pasir..cuek aja mau foto ^^

Ternyata kios batu akik juga banyak di pantai ini. Mungkin sumber daya alamnya banyak ya di Pacitan. Toko-toko souvenir disini menjual baju-baju pantai,yang warna-warni dan ada gambar pohon kepalanya, Kaos-kaos yang disablon gambar pantai Teleng Ria, dan ada juga batik. Laper?? tenang ada kios makanan juga. Buat oleh-oleh orang rumah juga ada, gorengan ikan; ikan tenggiri, udang,dan ikan laut lainnya hmmm..yummy.

mauuu....???

Hari panas, engga bawa baju ganti, akhirnya gue habiskan dengan foto-foto. Lupa dengan broken-hearted-speechless gue. Lupa dengan Jakarta. Yang teringat bagaimana berpose ya keren *halah..narsis banget*.Gw ga mau kalah dengan gaya fotomodel. Menurut gue, seseorang ga kalah cantik atau ganteng dari foto-foto yang di majalah asalkan angle-nya tepat. "Gayanya Mbak Azia..gayanya foto model..mirip ama Dewi Sandra",ujar Mbak Murni. huawahahahaha...masa' gue dibilang mirip Dewi Sandra..Ya jauh lah..gue jauh lebih manis dari dia..wkwkwkwkwk.




benarkah gue mirip Dewi Sandra?

Senin, 22 Februari 2010

Antara Merapi dan Merbabu

Candi Borobudur adalah salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Namanya terkenal hingga mancanegara. Sewaktu kecil, gue sangat mengagumi bangunan tersebut dari foto-foto Ayah dan Bundo (ketika mereka masih bujangan dan remaja) saat bertamasya ke Candi Borobudur. Azia kecil pun memimpikan suatu hari nanti akan kesana. Waktu kelas 1 SMA, sekeluarga minus gue (yang disuruh jaga rumah) piknik ke Semarang-Jogjakarta,tega bener ke Candi Borobudur engga diajak. Hanya diriku seorang.

Ketika audit visit ke Jogjakarta kemarin, gue pengen banget ke Candi Borobudur Cuma masalahnya waktu yang terbatas tidak memungkinkan ke sana. Nah….ketika ditanya, mau kemana..dengan kalemnya gue jawab: Candi Borobudur.

Driver yang baik adalah driver yang mengetahui kemana seharusnya penumpang diantar. Driver yang mengantarkan memberikan dua opsi pilihan, mau lewat Jogja atau mau liat Merapi. Kita bisa melihat merapi view di Ketep. Cuma jalannya berliku-liku..naik turun..belok-belok..Mau engga mbak? Ya mauuuuuuuuuuu dunk..

Gue memang sangat excited dengan daerah yang belum pernah gue kunjungi. Kayak anak kecil aja klo diajak jalan-jalan seneng. Kurang lompat-lompat aja.hehehe..jalan yang mendaki..menurun..berliku-liku..perjalanan tetap asyik..Alhamdulillah tidak mabok darat.

Kita melewati kota Boyolali. Jalanan semakin sempit. Sesekali tampak patung Sapi Perah, katanya daerah tersebut memang penghasil susu murni. Jalan yang akan kita tempuh tepat berada di tengah antara gunung Merapi (disebelah kiri) dan gunung Merbabu (disebelah kanan). Kurang lebih telah satu jam dari Solo, kita disambut oleh plang ’selamat datang di daerah wisata flying fox’.

’Mbak...mau coba flying fox engga?’,kata driver
’Flying fox?’, gue celingak-celinguk..
‘iya..dari atas sana..(sambil menunjuk puncak bukit) sampai sini (didaerah yang baru saja kita lalui)’,ujarnya lagi
‘uwaaa…jauh banget’ gue berdecak kagum
‘gimana..berani engga mbak’drivernya nantangin..
Mobil kita berhenti tidak jauh dari area flying fox tersebut, setidaknya bisa melihat pemandangan kota Boyolali dari atas. Di tempat pemberhentian tersebut ada tempat wedangan juga lho..bersantai sambil menikmati aroma pegunungan.hmm…menenangkan dan menyejukkan pikiran

‘gimana flying fox-nya Mbak..? ’,*tetep ya nanyain*
‘berapa bayarnya ya?”,pastinya bayar dunk naik flying fox.
’Rp 20.000, sudah termasuk ojek dari bawah ke atas lagi’,ujar Ibu penjaga warung
Wow…murah bangett…mana dapat uang segitu naik flying fox di Jakarta
Ayolah kita coba..


wow..tingginyaaa

Nyampe area flying fox-nya..merinding juga ya..ibaratnya dari bukit ke lembah ini. Panjang lintasannya 300 meter, terrrrrrrr-panjang se-INDONESIA
Akhirnya, yang pertama nyoba Bapak Driver, kita pengen liat dia ‘terbang’ dulu. Sukses engga…gue rada-rada pengen tapi ngeri juga, dibawahnya langsung kebun..pohon-pohon..mana kebelet pipi, ntar klo pipi di tengah-tengah lintasan gimana dunk..xixixi..

Karena gue adalah junior yang baik, gue mempersilahkan senior gue duluan yang jajal..haha *curang*. Seru juga ya..makanya gue berani..waktu outbond kantor siy, gue naik flying fox tinggi 8 M, panjang 15 M aja gemeteran. Gimana engga gemeter, naiknya aja bambunya dangdutan goyang kanan-kiri. Sampai atas juga udah pucat pasi. Bedanya flying fox ini engga perlu manjat dulu, tinggal turun aja.

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.......
Gue teriak sepanjang lintasan memecahkan kesunyian pegunungan, membuat burung-burung berhenti berkicau..lebay mode : on..haha..maklum ada superwoman nyasar (mendingan superwoman atau wonder woman ya?)



Gila!! Seruuu...keren..gokil...mantap..so amazing lah..
Selain turunannya cukup curam, ditengah-tengahnya bener-bener mengejutkan jantung...
Ya..silahkan coba..seru..
Sekarang gue ngeliat orang-orang naik flying fox yang lain jadi biasa aja, secaraaa, gue udah naik yang terpanjang seindonesia gitu lho..hehehe (sombong mode : on)

Baek lah..perjalanan dilanjutkan..Rencananya kita mau ke ”Ketep Pass” melihat Merapi view. Di Ketep Pass ada museumnya juga, bioskop juga, plus pemandangan yang aduhai indahnya. Ketep Volcano Theatre menampilkan film tentang Merapi, mulai dari proses pembentukan Gunung, pendakian, hingga ketika Merapi meletus dan mengeluarkan lahar dan wedus gembel-nya.syereemmm ya...




Karcis masuk untuk orang dewasa Rp 3.000. Jika ingin menyaksikan film Merapai di Ketep Volcano Theatre, pengunjung hanya membayar Rp 5.000. Ketep Pass merupakan spot yang pas jika ingin foto berlatarkan Merapi. Sayangnya, cuaca sekitar lagi mendung, jadi Merapinya tidak terlihat. Tapi agenda photo session-nya tetep jalan kok..hehehe..


mendung menutupi Merapi

Berhubungan kita ke sana bertepatan dengan hari Valentine dan Imlek, jadinya rame dengan muda-mudi memadu kasih. Ditambah lagi rombongan bis-bis luar kota datang dari mana-mana menambah suasana menjadi semarak.

Tak terasa,,sudah jam 12! objek utamanya belum didatangi. Marilah kita kemon ke Borobudur.

Tiket masuk Candi Borobudur Rp 17.500, lebih mahal Rp 2.500 dari tiket Candi Prambanan. Biar langit mendung, tetap saja Borobudur panas. Ouw, Silau..kali ini gue udah mempersiapkan kaca mata hitam.*halah*.

huwaaa...besar sekali dan ramee banget..
gue suka melenceng deh di keramaian. karena tangga masuk utama, rame banget, warna-warni payung orang-orang. gue mencari jalan masuk yang agak sepi. paling engga bisa photo di depan candi tanpa figuran disana-sini.hehe

serasa candi milik sendiri..xixi

Tentu saja tidak hanya 'action' yang musti disiapkan, tetapi juga tenaga fisik untuk naik tangga-tangga candi. Kadang-kadang baru melangkah sedikit, photo. Ketemu patung, photo. ketemu bule, juga pengen photo (tapi tetep engga kesampean semenjak mengunjungi Candi Prambanan kemaren).

Tiba di Puncak, susah nyari spot yang engga ada 'figurannya'. rameeee..dan semua orang ingin mengabadikan momen-momen mereka dengan Borobudur. Walaupun langit mendung, panasnya bukan main.



Gue pun mencoba menjangkau patung Budha yang didalam stupa.
ughh..ughh..ugh..
gue udah berusaha menggapainya..apa daya tangan tak sampai, memang gue bukan bertangan panjang. jujur siy, gue engga tahu stupa yang mana yang paling afdol megang patung Budha.haha..jadi gue masukin tangan ke stupa yang terdekat aja.gue sedikit terhibur,"justru yang engga nyampe yang sukses",bisa aja Pak Driver ngehibur gue..haha

Mungkin semua orang ingin berpose keren, jadi lupa diri, kebanyakan *termasuk gue* manjat-manjat dinding candi. itu kan berbahaya sodara-sodara hingga petugas candi-nya ngomel-ngomel lewat toa. "diharapkan bagi pengunjung yang manjat-manjat..turunnn". jangan diulangi ya jika berkunjung ke Candi Borobudur.

Sebenarnya masih belum puas mengelilingi candinya. Namun, hari sudah gelap, mendung sekali..dan benar, hujan deras mengguyur kawasan candi dan sekitarnya. Lebat selebat-lebatnya. payung buat sendiri aja engga cukup. celana basah. ditambah jalan keluar yang jauuuuh banget ke parkiran makin memperparah kondisi. engga cuma celana yang basah, baju, jilbab semuanya basah. kecuali tas yang gue lindungi segenap hati (ada kamera dan hape soalnya).

Niatnya mau mampir ke Jogja..bataaalll..udah berbasah-basahan gini..minatnya turun drastis. yang kita inginkan adalah makan, mandi dan bobo.

nb : setelah gue melihat foto-foto hasil jepretan perjalanan Solo-Merapi-Borobudur-Jogja-Solo, gue menyadari bahwa gue naek flying fox tanpa pake helm pengaman!! safety first dunk Mas..