Pages

Rabu, 04 November 2009

Jogja Never Die

Cihuyyy...gue dapet assignment ke Semarang dan Jogja..
Ih norak banget deh cuma ke Jogja doank..
Ya maklum lah, terakhir ke sana kelas 3 SD..jadi udah lupa bentuk Jogja itu kayak apa..
tapi engga asyiknya, masa' ke Jogja, kerjaaaaaaaaaaa..orang-orang mah liburan..gue ke sono malah kerja..

Di semarang siy kita mampir makan di Simpang Lima. Habis itu mati gaya. Hingga kamera gue lebih banyak berisi foto-foto dokumen klien. Sebenarnya gue udah pengen berkunjung ke Lawang Sewu, biar dikata angker, yang penting foto-foto semenit dua menit siy berani. Sayangnya, Lawang Sewu nya lagi dipugar biar kinclong. Padahal jarak hotel engga begitu jauh dari sana. Engga jodoh kali ya, kata kliennya baru seminggu Lawang Sewu ditutupi seng gitu.

Perjalanan Semarang-Jogja ditempuh lewat darat via bis Joglo Semar. Seketika keluar dari kota Semarang, kak Indri terkulai pulas. Gue yang ga gampang tertidur, melihat-lihat pemandangan. Sebelumnya, gue hanya mendapat cerita dari Ayah kalau dia berdagang ke Jawa, Semarang, Ambarawa, dan Salatiga. Sekarang gue melewati kota-kota tersebut.

Yang menarik perhatian gue yaitu Museum Palagan Ambarawa dan sebuah Rumah Sakit Jiwa yang buesar di daerah Magelang. Sayang sekali, bus-nya engga boleh berhenti. Lumayan numpang gaya sebentar. Halah..

Ya kita berdua sama-sama jarang ke Jogja. Kompak deh noraknya..
”Ni..Mana ya Borobudur?”,gue udah heboh celingak-celinguk pengen lihat puncak Borobudur. Satu-satunya di keluarga gue yang belum pernah ke Borobudur ya gue. *kasihan sekali nak nasibmu
”Tuh..klo ke Borobudur belok kanan..kayaknya masih jauh zi dari sini”,tunjuk Kak Indri
Penunjuk jalan siy bilangnya udah deket tapi masih jauhhh ke dalam.
Sirna sudah harapan ingin melihat puncak Borobudur dari Jl raya Jogja-Magelang


Bukan azia namanya..jika engga sempat jalan-jalan..sambil kerja jangan lupa jalan-jalan..hahaha
cuma vouching mah beres..

Betapa beruntungnya diriku punya Om di kota Jogja..Asyikkk...ditraktir makan, dianterin jalan-jalan, dibayarin belanjaan dan jadi fotografer dadakan..demi keponakannya yang lucu ini..hehe..Wajar dunk, ketemu cuma sekali setahun pas lebaran doank, kalau dia ke Jakarta. Jadi pas gue ke Jogja, dengan senang hati gue dijemput di kantor klien dan dianterin keliling Jogja. Nah, kantornya juga Cuma sepelemparan batu dari kantor klien gue.

Siang hari kami bekerja dengan tekun. Sambil mendorong klien untuk menyediakan datanya dengan komplit, cepat dan tepat. Malam harinya waktunya jalan. Om Nal bersedia menjemput kami dan mengenal Jogja lebih dekat kepada kami.

Malioboro
Ibarat sayur tanpa garam, begitupun juga antara Malioboro dengan Jogja. Apalah artinya ke Jogja tanpa singgah sebentar ke Jl Malioboro. Sepanjang jalan tersebut ramai dengan pedagang , baik toko maupun PKL, menawarkan berbagai produk khas Jogja, mulai dari pakaian, tas, aksesoris hingga souvenir. Harganya bervariasi tergantung keahlian tawar menawar. Tujuan kami jelas tertuju pada satu toko yang direkomendasikan banya orang yaitu Mirota Batik. Komplit dan tak perlu tawar menawar lagi. Kami terbatasi oleh waktu tutupnya toko yaitu jam 9 Malam, makanya masing-masing kita berpencar sendiri. List ’titipan’ lebih panjang dibandingkan buat diri sendiri. Softcase batik..baju batik..tas batik..dll. Trus banyak juga bule yang belanja, sayangnya tidak yang seganteng James Blunt,hihi..

Mirota Batik terletak persis di depan Pasar Beringharjo-(sayangnya kita tidak singgah, karena bukanya di siang hari).Mirota Batik Terdiri dari dua lantai. Lantai bawah untuk pakaian. Lantai atas untuk souvenir. Naluri seorang wanita pun tergugah melihat barang-barang yang dijual. Namun, rupanya kejadian yang gue alami di Tajur berbekas dalam, sehingga mau tak mau waspada ketika di Mirota. Jadi paranoid. Karena ketika berbelanja seringkali lengah dengan ancaman kriminalitas yang mengintai.

Senang sekali..sehabis membawa tas belanjaan..yang bayarin malah Om..huehehehe..
Masing-masing adek gue mendapatkan kaos wayang. *Ternyata kaos di PGS (pusat grosir Solo) jauh lebih murah. Koleksi batik yang bejibun dengan beragam corak mulai dari baju resmi, baju santai, daster, baju tidur hingga kain panjang. Komplit. Sayangnya areal tokonya masih kurang luas. Pengunjungnya juga banyak. Jadinya desak-desakkan.

Gue pun juga ingin beli batik. Cara gue memilih batik terdiri dari dua seleksi. Seleksi pertama adalah warna dan coraknya. Untuk batik, gue lebih suka warna-warna ’hidup’, merah, biru, hijau..Sementara batik identik dengan coklat, hitam, dan putih. Gue ga terlalu suka karena mengingatkan gue dengan kain panjang. Seleksi kedua adalah bahan, dengan menyentuh bahan, dipegang-pegang, dirasakan seratnya, gue bisa merasakan kenyamanan untuk memakainya. Pilihan gue sendiri jatuh kepada baju batik biru yang manis. Bisa dipake ke tempat kerja. Harganya bervariasi. Setidaknya tidak mahal-mahal amat, kasihan Om gue nanti bisa-bisa kapok dia anterin gue ke Malioboro lagi.

Jam 9 Malam teng! Toko tutup. Pengumuman yang diiringi musik jawa mengalun dari pengeras suara. Tiga bahasa, bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Biar udah belanja, tetep merasa belum puas, cuma 1,5 jam saja mana cukup itu buat kami shopping.

Alun-alun Selatan Keraton
Konon, barang siapa yang dapat melintas antara dua beringin dengan mata tertutup, niscaya keinginannya terkabul. Percaya engga percaya silahkan. Suasana juga tak kalah ramai dengan Malioboro tadi. Banyak orang yang berhilir mudik dengan mata tertutup. Ada yang bergerak ke kiri..Ada yang belok ke kanan. Ada yang sebenarnya hanya berputar di tempat saja..hihi..lucu ngeliat mereka. Gue dan Kak Indri tak ketinggalan mencobanya.
“Semakin jauh..semakin afdol”, kata Om Nal
Disana ada juga yang menyewakan penutup mata seharga Rp 3000. kalau engga mau keluar uang juga bisa. Dengan bermodalkan saputangan, jaket atau sarung juga bisa. Malah ada bule yang cuma merem doank..awas ngintip ya mister, ga afdol..hehe

Kita coba. Pertama, Kak Indri duluan. Senior first.
Kelihatan mudah siy tinggal lurus doank..eits dicoba dulu deh, baru rasakan.haha..
Kak Indri sukses menabrak becak yang lagi parkir.
Giliran gue..
Dengan menangkupkan kedua tangan..”ke Belanda..Belanda”, make wish dulu kan.
Gelap total..Suara mendekat dan menjauh pergi. Dengan kegelapan di sekeliling, perasaan takut menghinggapi gue. Takut nabrak iya..ada suatu perasaan takut yang alami sebagai manusia. Waduh, engga kebayang deh jadi Hellen Keller, buta sekaligus tuli. Gue aja tiap semenit manggil kak Indri memastikan dia berada di sekitar gue.


Hasilnya bukannya lurus, malah belok kanan..hehehe nice try!



Tugu Jogja
Sebelum berangkat ke Jogja, gue sempat membaca blog seseorang, katanya kalau menyentuh tugu jogja, bisa balik kembali ke Jogja lagi. Tapi masalahnya Tugu Jogja itu terletak persis ditengah bunderan lalu lintas yang padat. Sehingga tidak memungkinkan untuk berfoto saat siang hari.

”Orang kampung baru ke Jogja”, ujar kak Indri.
Karena kita bener-bener kayak turis lokal dibandingkan eksekutif woman *halah..
Tenang, foto di tugu bukan berarti jadi orang narsis dan norak sedunia. Tak usah malu, kamu tak sendiri..hahaha..banyak juga yang mau foto di tugu. Biar gerimis mengundang, niat narsis tak mudah dipadamkan.

Jam 21.30 malam, tak terlihat seorang pun berdiri di Tugu. Di jalan seberang, nampak sekelompok ABG lagi foto-foto (emangnya keliatan apa si tugu nya). Berhubung nyala lampu yang menyinari Tugu agak redup jadinya kita harus menyeberang dan langsung berdiri ke dekat tugu. Om Nal jadi fotografer dadakan. Wuih keren-keren kan....versi close-upnya juga oke..




bersama Om Nal (thanks so muchhh..Om)

Malam kedua di Jogja, ditutup dengan berkunjung ke rumah Om Nal. Anak-anaknya sudah tidur. *ya iyalah, bertamu di tengah malam..

Hari berikutnya, 30 Oktober 2009

Seharian berkutat dengan dokumen klien yang jorok. Gimana engga, lembap dipipisin tikus dan baunya yang mak nyus bikin pingsan. Seharusnya gue mempersenjatai diri gue dengan masker dan sarung tangan. Kan bisa sakit..

Siangnya sebelum lunch, kita ke Unit Gawat Dagadu (UGD), salah satu tempat yang wajib dikunjungi jika ingin membeli produk asli Dagadu. Lumayan yah, gue belanja habis 250 ribu, kaos-kaos..punya adek banyak siy..tapi gue merasa kurang puas, karena kaos yang gue pengen ukurannya S tidak ada size untuk M. Sayang sekali..

Klien menyediakan driver untuk jalan-jalan (lagi!) di malam hari. Kita berpendapat shopping Maliboro yang kemarin belum puas, serba terburu-buru. Sekarang dengan kami berdua lebih puas window shopping-and-shopping sekalian. Gue tadinya tidak ingin belanja lagi. Dasar wanita, kalau di tempat kayak Malioboro, janji tinggal janji, yang ada teteup belanja..gue akhirnya membeli celana panjang, baju tidur, daster plus satu kaos wayang buat diri sendiri.

Di saat-saat terakhir, (pengumuman tri bahasa sudah lewat berkumandang), gue melihat cincin-cincin. Gue kepengen beli cincin buat kelingking, biar kompak dengan James Blunt dan James Mc Avoy yang memakai cincin di jari kelingking kirinya (artinya apa siy tuh..????). Dan gue lihat di film-film kolosal, cowok-cowok Inggris memakai cincin di kelingking. ”penanda homo tau”, temen gue sotoy. Tidak mungkin James Blunt ku seorang pejantan tangguh adalah seorang homo.

Gue melihat ke cincin-trus-kelingking-trus-ke-cincin-lagi membandingkan muat engga ya kelingking gue yang imut ini.
”Bu..lihat yang ini dunk”, ujar gue menunjuk cincin yang ukurannya kecil.
Gue pun memakainya. Seperti Harry Potter ketika ia membeli tongkat sihir pertamanya...
Klop!! Cocok!! Love at first sight...Ini yang baru namanya jodoh..hahahaha

Sekarang rolling door-nya benar-benar ditutup. Orang-orang udah engga boleh masuk lagi.

Di Kamar hotel, kami pun menebarkan belanjaan. Yang membuat kami terbangun dan menghadapi kenyataan. Oh My Gosh, berapa banyak duit yang gue hamburkan! Kak Indri lebih heboh belanjaannya dari gue. Gue masih beruntung ada yang dibayarin ama Om Nal. Hehehe..Beginilah jadinya kalau dapat assignment ke kota wisata, seperti Jogja, Solo dan Bandung. Susah packingnya..

Hari Terakhir, 31 Oktober 2009

Tinggal menunggu data dari depo Solo. Karena data yang di gudang sudah ada yang rusak tak-sobek-sobek tikus.

Nah, setelah lunch, klien gue beserta seluruh staf akuntansi bakal stock opname. Data udah oke. Trus kita ngapain? Masa’ bengong ampe jam setengah 6 menunggu penerbangan ke Jakarta. FAM nya udah bilang mau dianterin kemana, Paris (Parang tritis)? Jakar (Jalan Kaliurang)?
”Kalau Prambanan..deket Pak?”, tanya gue dengan mupengnya
”deket..deket juga dari Bandara”, katanya
”ke Prambanan aja yuk Kak..”gue mengajak Kak Indri..
”Ya udah..”,Kak Indri..walaupun sebenarnya dia engga begitu suka ”ngapain Cuma liat batu doank”
”Orang dari luar negeri aja mau ngeliat candi ..masa’ kita yang orang Indonesia belum pernah siy..” gue membujuk-bujuk kak Indri

Woo..ternyata driver Cuma bisa nge-droop doank ke Prambanan, engga bisa nungguin sampai jam 4 untuk dianterin ke Bandara. Sekali lagi, gue bersyukur punya Om di Jogja. Dia bersedia menjemput gue di Prambanan dan nganterin gue ke Bandara. Love u full Om Nal!! Hahahaha. Bagasi-bagasi kita titip dulu di mobil Om Nal.

Sebelum ke Prambanan, kita sempat mejeng dan narsis di kampus orang, UGM. Ini dia niy saingan kampus gue..wkwkwkwk..kita berpose di depan auditorium dan boulevard UGM. Panas terik tak menghalangi kami untuk duduk dan berpose. *gila panas bo!. Tulisan UGM nya kecil banget..beberapa huruf nampak diganjal dengan batu bata. Jadi teteup almamater gue yang menang..UI wood lah juaranya..hehehe *piss anak UGM

Merinding.. Misterius ..kesan pertama setelah lihat puncak Candi Prambanan. Prambanan tak cuma seonggok batu yang disusun artistik bagi gue. Dengan semangat 45 gue menggiring Kak Indri dengan tak sabar memasuki areal Candi Prambanan. Nampak, beberapa Candi sedang dalam pemugaran. Yahhh,,engga bisa lihat Roro Jonggrang deh..engga jodoh lagi..selebihnya setiap pose kami abadikan bersama dengan kenorakan kami..hehe

Prambanan di kala siang




berlatarkan langit Prambanan



Jalan keluar candi ternyata jauh banget, memutar...bisa aja, jalan masuknya cuma tinggal lurus doank dari pintu masuk. Baterai kamera udah low batere..Muka udah berminyak..Bau badan udah bau matahari..udah pegel..worthied lah melihat Candi Prambanan. Cuma satu yang engga kesampean, foto ama bule! Sempet diledekin lagi gue, ”katanya anak UI..gih..ajak sana”. Bukan malu ngomong ya ngajakin bule foto bareng tapiii...tidak ada yang secakep James Blunt *teteup akang James yang paling ganteng..ada siy yang keren, tapi bawa gandengan. Masa’ gue ngajakin cowoknya doank, ntar ceweknya cemburu lagi..hahahahaha

Finally, Sugeng Tindak Ngayogyakarta..
Insya Allah, I’ll return..
Kapan ke Jogja Lagi? kapan ya? hmmmm....

gue selalu seneng foto di lapangan udara..hingga tercetus ide mau ngoleksi foto bandara-bandara yang pernah gue lalui..

Di akhir perjalanan ini, kita menyadari saldo rekening yang baru penuh diisi gaji.. berkurang dengan cukup signifikan..padahal belum memasuki bulan November, kita sudah menghitung hari menuju tanggal 28..wkwkwkwk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar