Pages

Minggu, 17 Mei 2009

Buku, Museum dan Es Krim

Sabtu, 16 Mei, bukan Sabtu yang biasanya gue habiskan untuk lembur di kantor…ke perpus kampus..atau sekadar berleha – leha di rumah. It’s time for a Trip! 16 Mei – 17 Mei, merupakan puncak acara World Book Days 2009. Acaranya diselenggarakan di Museum Bank Mandiri, Kota. Seperti yang telah gue tulis sebelumnya, gue termasuk anak yang “KuLan”, Kurang Jalan, belum pernah berwisata ke kawasan Kota..masuk – masuk museum gitu mana pernah. Supaya ada teman nyasar, gue ajaklah teman-teman gue sekalian menunaikan traktiran ultah gue kemarin.

Janjian jam 10. Baru bangun jam 8. gue punya waktu 1 jam buat siap-siap..Gue memasukkan beberapa buku koleksi gue buat ikutan Book Swap GRI (Goodreads Indonesia). Sebagian besar adalah novel-novel yang tidak gue suka. Seperti; Blind Owl..Praha..Edgar Allan Poe..Professor and Madman..Mimpi Anak jadi Naga..Virus akal Budi..Biasanya klo udah mentok baca, tapi tetap engga ngerti-ngerti, akhirnya tergeletak di sudut lemari. Daripada habis dimakan kutu, mendingan dituker ama novel atau buku yang belum pernah gue baca.seru khan...

Sekarang sih, gue mulai mengurangi kebiasaan telat orang Indonesia, musti tepat waktu (hal positif yang gue ambil dari orang Belanda). Akhirnya acara yang dijanjikan jam 10, ngaret hingga 2 jam..tunggu-tungguan siy..maklumlah, kawasan rumah masing-masing tersebar di seluruh Jakarta. Ternyata, Museum Bank Mandiri deket loh juga ama Stasiun Kota dan terminal busway Kota, jadi tak usah takut nyasar. Komplit semuanya, baru masuk ke acara World Book Day. Langkah pertama langsung disambut oleh lomba tebak buku, kalau tebakan benar seluruh buku yang ada di box tsb bisa dibawa pulang. Teman-teman gue antusias banget ikutan tebak buku (apalagi Amel..ampe jongkok-jongkok ngitungnya).


Ada belasan stand komunitas turut serta meramaikan acara World Book Day kali ini. Gue yang udah dari awal pengen ke stand Goodreads Indonesia agak bingung…mane ya? Tapi keceriaan teman-teman gue mengalahkan rasa ingin tahu gue dimana letak stand GRI. Lihat saja, tanpa dikomando, masing-masing bergerak ke spot-spot menarik, buat apa lagi klo bukan photo session. Tapi engga kita doank koq yang norak kayak anak SD, buanyaakk lho yang mendadak jadi fotomodel gitu..dengan masing-masing gaya andalannya..



Hiks. Sayangnya, gue ga bisa terlalu menikmati, soalnya kakiku sakitttttttttt…bukan manja karena jalan jauh ya…sakit yang tak biasa, tumben-tumbennya telapak kaki gue sakit. Gue udah merasakan nyeri di setiap langkah gue dari rumah, mau balik keiinget janji yang gue pelopori. Ya sudah,langkah kaki gue jadi tengkak-tengkak (ind ; terpincang-pincang).

Agak bingung juga sih letak stand GRI, terpencil di pojokan sebelah kanan (gue kira disana tidak ada stand lho...). Malu-malu putri malu gitu, gue mendekati orang-orang yang dress code ; Baca itu Seru !, Goodreads Indonesia. Walaupun udah aktif sejak 2007, baru kali ini gue menampakkan wujud asli, datang ke acara GRI. Ramah-ramah koq anggota GRI lainnya. Sesama pencinta buku, ya apalagi bahan obrolan selain buku. Mungkin bagi ga suka baca, topik yang membosankan, tapi tidak bagi kami. Obrolan tentang buku tak ada habisnya. Sambil menukar tujuh buku gue dengan tiga buku pilihan; Desau Angin Maastricth (Dh Devita)...Bukavu..(Helvy Tiana Rossa)..dan For whom the bell tolls (ernest Hemingway)..Gue juga beli kaos GRI yang warna putih (pengennya item sih). Ga sempat lama-lama juga, ditungguin Rini.

-----Part 2, Museum Fatahillah a.k.a Museum Sejarah Jakarta d/h Standhuis--------



”Kita kemana nih?”,setelah keluar dari MBM..
”Museum Fatahillahh.....”, special request dari Rini.
Tenang saja, ada Ana dan Alice, mereka jadi guide kita ke Museum Fatahillah. Jalan kaki dari MBM ke Museum Fatahillah, engga terlalu jauh sih. Yang bikin gue syok, ternyata engga cuma Motor aja loh yang bisa naek ke trotoar, ada Bajaj sodara-sodara!. Trotoar yang agak luas mestinya digunakan buat pejalan kaki khan...jarang-jarang ada trotoar segini lebar, tapi tetap aja diserobot kendaraan berasap-knalpot-hitam!huh, dimana hak pejalan kaki seperti kami..(sekalian kampanye Anti-Kendaraan-Bermotor-Naek-Trotoar)

Huwaaa...biar panas terik yang bikin kulit gosong, pengunjungnya buanyaakkk....
ada yang main sepeda onthel keliling kawasan kota tua..ada yang asyik foto-foto dari yang malu-malu hingga malu-maluin..ada pementasan kuda lumping juga lho..dari sekian banyak pemandangan, perhatian gue tertuju kepada seorang bule yang berkaos cokelat, ganteng! Luput lagi dari bidikan kamera gue. Hehehehehe..

Untuk masuk ke dalam Museum Fatahillah a.k.a Museum Sejarah Jakarta, dikenakan retribusi tapi engga mahal koq..Cuma Rp 2000 (umum)..Rp 1000 (anak-anak)..berhubung kita-kita masih Mahasiswa dapat diskon 1000..jadi bayarnya cuma seribu rupiah..Murah kan...Setelah masuk, kumat lagi narsisnya, moto-moto. Padahal ada larangan ”Dilarang Memotret”, tetep aja pada engga peduli (termasuk gue..hehe). Sepintas, menyusuri Standhuis ini, ingatan gue kembali ke novel Rahasia Meede, yang setting mengambil ruang penjara bawah tanah gedung ini. Gue pun mengintip sedikit penjara bawah tanahnya..huekk! Bauuu..pengap..lembap..bercampur pesing..

”ada lagi lho, penjara wanitanya diatas tempat Cut Nyak Dien pernah ditahan”, Kata Alice. Once more, gue tidak bisa mengimbangi kelincahan teman-teman gue yang pada pergi entah kemana. Sakit Kaki! Gue muter-muter lantai dua aja, melihat keramaian di lapangan depan Standhuis. Sambil membayangkan, tempat ini ratusan tahun lalu. Saat kompeni masih bertahta di Standhuis ini. Lapangan yang saat ini tempat bersenda gurau, bermain sepeda, dan tempat memadu kasih (ini mah dimana-mana selalu ada). Adalah tempat pertumpahan darah bagi pribumi yang terhukum.





Sayang sekali, bangunan tua di sekitar Museum Sejarah Jakarta tidak terawat dengan baik..Ada yang dikit lagi mau roboh..terbengkalai..lumutan..penuh coret-coretan vandalist dan tak terurus..Sayang seribu sayang..Contoh nyata bahwa bangsa Indonesia memang kurang menghargai sejarah.




-----Part 3..Ice Cream Ragusa------
Konon katanya ada sebuah toko es krim yang eunaakkk sekali. Toko es krim tersebut bernama Ragusa. Karena gue sedang berbaik hati, gue mentraktir temen-temen gue kesana. Cuma tidak ada satupun dari kita yang betul-betul tahu tempatnya dimana. Semalam sebelumnya, gue udah browsing, akhirnya mendapatkan alamatnya di Jl Veteran No 1, Jak-Pus, sebelah Mesjid Istiqlal. Nah itu dia, dari Kota kesana naek apaan? Mau naek taksi, lalu lintas lagi padat merayap, takut disasarin lagi. Tanya sopir angkot, kita naik M12, Senen-Kota, kata sopirnya kita turun di stasiun Sawah Besar, trus nyebrang trus jalan aja ngikutin jalur kereta, ga jauh koq, katanya. Katanya...tapi lumayan gempor bo jalannya!

Alamak, tambah tersiksa deh kaki gue. Sakit minta ampun! Kita solat Ashar dahulu di Mesjid Istiqlal. Believe or not, biar udah lama menetap di Jakarta, gue engga pernah ke Mesjid Istiqlal. Palingan cuma numpang lewat atau liat di tivi tiap Idhul Adha atau Idhul Fitr. Huahaha..parah yak? Tak lupa gue mengabadikan momen tersebut, mumpung sepi gitu loh..Kapan lagi sholat di shaf paling depan di Istiqlal, hal mustahil, jika di waktu lain.. Ketahuan noraknya, solat di shaf paling depan, tempat biasanya pejabat-pejabat negara Sholat. Padahal di hadirat Allah, kita semua sama.


Selesai sholat, kita bertanya-tanya, dimanakah letak Ragusa. Dari sekian sumber yang gue baca, engga ada yang menyebutkan secara spesifik tempatnya dimana. Sebelah Istiqlal kan bisa disisi barat. Timur, atau selatan. Luas lagi area Mesjidnya. Akhirnya kita dengan sisa tenaga yang ada menyusuri Jl Veteran No 1..taraaaaaa...sampailah kita di tempat Es Krim Ragusa.aakhirnya..



Yummy banget deh es krim..Mamma mia lezatos..
Voila....



Es krim yang lezat..slurppp..sekejap langsung tandas



Harganya bervariasi antara Rp 12.000 s/d Rp 27.000
Bisa juga mesen makanan dari jajanan luar..
Karena Ragusa khusus es krim aja

Tapi, kasihan Rini,si peanut-phobia....anti segala macem kacang-kacangan..
Malah Es krimnya, Banana Split, penuh bertaburan kacang..
Sama aja dengan fear factor...
Dikit..dikit..dimakan juga...
HuEk!!, tiba-tiba dia mau muntah sodara-sodara..
Jauh-jauh dari Ciledug, mau makan es krim..malah ketemu kacang...

For your Info:
klo mau ke Es Krim Ragusa dengan naek angkot
Samping Istiqlal di bagian sisi yang deket jalur Kereta Bogor-Kota
-- Naik Kereta jalur Bogor – Kota, berhenti di stasiun Juanda..nyebrang jalan trus ada pangkalan ojek deket situ, Tanya aja, engga jauh kok Jalannya
-- Naik Busway, transit di Harmoni, lanjut busway yang ke Pasar Baru, turun di halte Juanda, nyebrang jalan , trus sama tanya tukang ojek..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar