Pages

Rabu, 04 November 2009

Jogja Never Die

Cihuyyy...gue dapet assignment ke Semarang dan Jogja..
Ih norak banget deh cuma ke Jogja doank..
Ya maklum lah, terakhir ke sana kelas 3 SD..jadi udah lupa bentuk Jogja itu kayak apa..
tapi engga asyiknya, masa' ke Jogja, kerjaaaaaaaaaaa..orang-orang mah liburan..gue ke sono malah kerja..

Di semarang siy kita mampir makan di Simpang Lima. Habis itu mati gaya. Hingga kamera gue lebih banyak berisi foto-foto dokumen klien. Sebenarnya gue udah pengen berkunjung ke Lawang Sewu, biar dikata angker, yang penting foto-foto semenit dua menit siy berani. Sayangnya, Lawang Sewu nya lagi dipugar biar kinclong. Padahal jarak hotel engga begitu jauh dari sana. Engga jodoh kali ya, kata kliennya baru seminggu Lawang Sewu ditutupi seng gitu.

Perjalanan Semarang-Jogja ditempuh lewat darat via bis Joglo Semar. Seketika keluar dari kota Semarang, kak Indri terkulai pulas. Gue yang ga gampang tertidur, melihat-lihat pemandangan. Sebelumnya, gue hanya mendapat cerita dari Ayah kalau dia berdagang ke Jawa, Semarang, Ambarawa, dan Salatiga. Sekarang gue melewati kota-kota tersebut.

Yang menarik perhatian gue yaitu Museum Palagan Ambarawa dan sebuah Rumah Sakit Jiwa yang buesar di daerah Magelang. Sayang sekali, bus-nya engga boleh berhenti. Lumayan numpang gaya sebentar. Halah..

Ya kita berdua sama-sama jarang ke Jogja. Kompak deh noraknya..
”Ni..Mana ya Borobudur?”,gue udah heboh celingak-celinguk pengen lihat puncak Borobudur. Satu-satunya di keluarga gue yang belum pernah ke Borobudur ya gue. *kasihan sekali nak nasibmu
”Tuh..klo ke Borobudur belok kanan..kayaknya masih jauh zi dari sini”,tunjuk Kak Indri
Penunjuk jalan siy bilangnya udah deket tapi masih jauhhh ke dalam.
Sirna sudah harapan ingin melihat puncak Borobudur dari Jl raya Jogja-Magelang


Bukan azia namanya..jika engga sempat jalan-jalan..sambil kerja jangan lupa jalan-jalan..hahaha
cuma vouching mah beres..

Betapa beruntungnya diriku punya Om di kota Jogja..Asyikkk...ditraktir makan, dianterin jalan-jalan, dibayarin belanjaan dan jadi fotografer dadakan..demi keponakannya yang lucu ini..hehe..Wajar dunk, ketemu cuma sekali setahun pas lebaran doank, kalau dia ke Jakarta. Jadi pas gue ke Jogja, dengan senang hati gue dijemput di kantor klien dan dianterin keliling Jogja. Nah, kantornya juga Cuma sepelemparan batu dari kantor klien gue.

Siang hari kami bekerja dengan tekun. Sambil mendorong klien untuk menyediakan datanya dengan komplit, cepat dan tepat. Malam harinya waktunya jalan. Om Nal bersedia menjemput kami dan mengenal Jogja lebih dekat kepada kami.

Malioboro
Ibarat sayur tanpa garam, begitupun juga antara Malioboro dengan Jogja. Apalah artinya ke Jogja tanpa singgah sebentar ke Jl Malioboro. Sepanjang jalan tersebut ramai dengan pedagang , baik toko maupun PKL, menawarkan berbagai produk khas Jogja, mulai dari pakaian, tas, aksesoris hingga souvenir. Harganya bervariasi tergantung keahlian tawar menawar. Tujuan kami jelas tertuju pada satu toko yang direkomendasikan banya orang yaitu Mirota Batik. Komplit dan tak perlu tawar menawar lagi. Kami terbatasi oleh waktu tutupnya toko yaitu jam 9 Malam, makanya masing-masing kita berpencar sendiri. List ’titipan’ lebih panjang dibandingkan buat diri sendiri. Softcase batik..baju batik..tas batik..dll. Trus banyak juga bule yang belanja, sayangnya tidak yang seganteng James Blunt,hihi..

Mirota Batik terletak persis di depan Pasar Beringharjo-(sayangnya kita tidak singgah, karena bukanya di siang hari).Mirota Batik Terdiri dari dua lantai. Lantai bawah untuk pakaian. Lantai atas untuk souvenir. Naluri seorang wanita pun tergugah melihat barang-barang yang dijual. Namun, rupanya kejadian yang gue alami di Tajur berbekas dalam, sehingga mau tak mau waspada ketika di Mirota. Jadi paranoid. Karena ketika berbelanja seringkali lengah dengan ancaman kriminalitas yang mengintai.

Senang sekali..sehabis membawa tas belanjaan..yang bayarin malah Om..huehehehe..
Masing-masing adek gue mendapatkan kaos wayang. *Ternyata kaos di PGS (pusat grosir Solo) jauh lebih murah. Koleksi batik yang bejibun dengan beragam corak mulai dari baju resmi, baju santai, daster, baju tidur hingga kain panjang. Komplit. Sayangnya areal tokonya masih kurang luas. Pengunjungnya juga banyak. Jadinya desak-desakkan.

Gue pun juga ingin beli batik. Cara gue memilih batik terdiri dari dua seleksi. Seleksi pertama adalah warna dan coraknya. Untuk batik, gue lebih suka warna-warna ’hidup’, merah, biru, hijau..Sementara batik identik dengan coklat, hitam, dan putih. Gue ga terlalu suka karena mengingatkan gue dengan kain panjang. Seleksi kedua adalah bahan, dengan menyentuh bahan, dipegang-pegang, dirasakan seratnya, gue bisa merasakan kenyamanan untuk memakainya. Pilihan gue sendiri jatuh kepada baju batik biru yang manis. Bisa dipake ke tempat kerja. Harganya bervariasi. Setidaknya tidak mahal-mahal amat, kasihan Om gue nanti bisa-bisa kapok dia anterin gue ke Malioboro lagi.

Jam 9 Malam teng! Toko tutup. Pengumuman yang diiringi musik jawa mengalun dari pengeras suara. Tiga bahasa, bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Biar udah belanja, tetep merasa belum puas, cuma 1,5 jam saja mana cukup itu buat kami shopping.

Alun-alun Selatan Keraton
Konon, barang siapa yang dapat melintas antara dua beringin dengan mata tertutup, niscaya keinginannya terkabul. Percaya engga percaya silahkan. Suasana juga tak kalah ramai dengan Malioboro tadi. Banyak orang yang berhilir mudik dengan mata tertutup. Ada yang bergerak ke kiri..Ada yang belok ke kanan. Ada yang sebenarnya hanya berputar di tempat saja..hihi..lucu ngeliat mereka. Gue dan Kak Indri tak ketinggalan mencobanya.
“Semakin jauh..semakin afdol”, kata Om Nal
Disana ada juga yang menyewakan penutup mata seharga Rp 3000. kalau engga mau keluar uang juga bisa. Dengan bermodalkan saputangan, jaket atau sarung juga bisa. Malah ada bule yang cuma merem doank..awas ngintip ya mister, ga afdol..hehe

Kita coba. Pertama, Kak Indri duluan. Senior first.
Kelihatan mudah siy tinggal lurus doank..eits dicoba dulu deh, baru rasakan.haha..
Kak Indri sukses menabrak becak yang lagi parkir.
Giliran gue..
Dengan menangkupkan kedua tangan..”ke Belanda..Belanda”, make wish dulu kan.
Gelap total..Suara mendekat dan menjauh pergi. Dengan kegelapan di sekeliling, perasaan takut menghinggapi gue. Takut nabrak iya..ada suatu perasaan takut yang alami sebagai manusia. Waduh, engga kebayang deh jadi Hellen Keller, buta sekaligus tuli. Gue aja tiap semenit manggil kak Indri memastikan dia berada di sekitar gue.


Hasilnya bukannya lurus, malah belok kanan..hehehe nice try!



Tugu Jogja
Sebelum berangkat ke Jogja, gue sempat membaca blog seseorang, katanya kalau menyentuh tugu jogja, bisa balik kembali ke Jogja lagi. Tapi masalahnya Tugu Jogja itu terletak persis ditengah bunderan lalu lintas yang padat. Sehingga tidak memungkinkan untuk berfoto saat siang hari.

”Orang kampung baru ke Jogja”, ujar kak Indri.
Karena kita bener-bener kayak turis lokal dibandingkan eksekutif woman *halah..
Tenang, foto di tugu bukan berarti jadi orang narsis dan norak sedunia. Tak usah malu, kamu tak sendiri..hahaha..banyak juga yang mau foto di tugu. Biar gerimis mengundang, niat narsis tak mudah dipadamkan.

Jam 21.30 malam, tak terlihat seorang pun berdiri di Tugu. Di jalan seberang, nampak sekelompok ABG lagi foto-foto (emangnya keliatan apa si tugu nya). Berhubung nyala lampu yang menyinari Tugu agak redup jadinya kita harus menyeberang dan langsung berdiri ke dekat tugu. Om Nal jadi fotografer dadakan. Wuih keren-keren kan....versi close-upnya juga oke..




bersama Om Nal (thanks so muchhh..Om)

Malam kedua di Jogja, ditutup dengan berkunjung ke rumah Om Nal. Anak-anaknya sudah tidur. *ya iyalah, bertamu di tengah malam..

Hari berikutnya, 30 Oktober 2009

Seharian berkutat dengan dokumen klien yang jorok. Gimana engga, lembap dipipisin tikus dan baunya yang mak nyus bikin pingsan. Seharusnya gue mempersenjatai diri gue dengan masker dan sarung tangan. Kan bisa sakit..

Siangnya sebelum lunch, kita ke Unit Gawat Dagadu (UGD), salah satu tempat yang wajib dikunjungi jika ingin membeli produk asli Dagadu. Lumayan yah, gue belanja habis 250 ribu, kaos-kaos..punya adek banyak siy..tapi gue merasa kurang puas, karena kaos yang gue pengen ukurannya S tidak ada size untuk M. Sayang sekali..

Klien menyediakan driver untuk jalan-jalan (lagi!) di malam hari. Kita berpendapat shopping Maliboro yang kemarin belum puas, serba terburu-buru. Sekarang dengan kami berdua lebih puas window shopping-and-shopping sekalian. Gue tadinya tidak ingin belanja lagi. Dasar wanita, kalau di tempat kayak Malioboro, janji tinggal janji, yang ada teteup belanja..gue akhirnya membeli celana panjang, baju tidur, daster plus satu kaos wayang buat diri sendiri.

Di saat-saat terakhir, (pengumuman tri bahasa sudah lewat berkumandang), gue melihat cincin-cincin. Gue kepengen beli cincin buat kelingking, biar kompak dengan James Blunt dan James Mc Avoy yang memakai cincin di jari kelingking kirinya (artinya apa siy tuh..????). Dan gue lihat di film-film kolosal, cowok-cowok Inggris memakai cincin di kelingking. ”penanda homo tau”, temen gue sotoy. Tidak mungkin James Blunt ku seorang pejantan tangguh adalah seorang homo.

Gue melihat ke cincin-trus-kelingking-trus-ke-cincin-lagi membandingkan muat engga ya kelingking gue yang imut ini.
”Bu..lihat yang ini dunk”, ujar gue menunjuk cincin yang ukurannya kecil.
Gue pun memakainya. Seperti Harry Potter ketika ia membeli tongkat sihir pertamanya...
Klop!! Cocok!! Love at first sight...Ini yang baru namanya jodoh..hahahaha

Sekarang rolling door-nya benar-benar ditutup. Orang-orang udah engga boleh masuk lagi.

Di Kamar hotel, kami pun menebarkan belanjaan. Yang membuat kami terbangun dan menghadapi kenyataan. Oh My Gosh, berapa banyak duit yang gue hamburkan! Kak Indri lebih heboh belanjaannya dari gue. Gue masih beruntung ada yang dibayarin ama Om Nal. Hehehe..Beginilah jadinya kalau dapat assignment ke kota wisata, seperti Jogja, Solo dan Bandung. Susah packingnya..

Hari Terakhir, 31 Oktober 2009

Tinggal menunggu data dari depo Solo. Karena data yang di gudang sudah ada yang rusak tak-sobek-sobek tikus.

Nah, setelah lunch, klien gue beserta seluruh staf akuntansi bakal stock opname. Data udah oke. Trus kita ngapain? Masa’ bengong ampe jam setengah 6 menunggu penerbangan ke Jakarta. FAM nya udah bilang mau dianterin kemana, Paris (Parang tritis)? Jakar (Jalan Kaliurang)?
”Kalau Prambanan..deket Pak?”, tanya gue dengan mupengnya
”deket..deket juga dari Bandara”, katanya
”ke Prambanan aja yuk Kak..”gue mengajak Kak Indri..
”Ya udah..”,Kak Indri..walaupun sebenarnya dia engga begitu suka ”ngapain Cuma liat batu doank”
”Orang dari luar negeri aja mau ngeliat candi ..masa’ kita yang orang Indonesia belum pernah siy..” gue membujuk-bujuk kak Indri

Woo..ternyata driver Cuma bisa nge-droop doank ke Prambanan, engga bisa nungguin sampai jam 4 untuk dianterin ke Bandara. Sekali lagi, gue bersyukur punya Om di Jogja. Dia bersedia menjemput gue di Prambanan dan nganterin gue ke Bandara. Love u full Om Nal!! Hahahaha. Bagasi-bagasi kita titip dulu di mobil Om Nal.

Sebelum ke Prambanan, kita sempat mejeng dan narsis di kampus orang, UGM. Ini dia niy saingan kampus gue..wkwkwkwk..kita berpose di depan auditorium dan boulevard UGM. Panas terik tak menghalangi kami untuk duduk dan berpose. *gila panas bo!. Tulisan UGM nya kecil banget..beberapa huruf nampak diganjal dengan batu bata. Jadi teteup almamater gue yang menang..UI wood lah juaranya..hehehe *piss anak UGM

Merinding.. Misterius ..kesan pertama setelah lihat puncak Candi Prambanan. Prambanan tak cuma seonggok batu yang disusun artistik bagi gue. Dengan semangat 45 gue menggiring Kak Indri dengan tak sabar memasuki areal Candi Prambanan. Nampak, beberapa Candi sedang dalam pemugaran. Yahhh,,engga bisa lihat Roro Jonggrang deh..engga jodoh lagi..selebihnya setiap pose kami abadikan bersama dengan kenorakan kami..hehe

Prambanan di kala siang




berlatarkan langit Prambanan



Jalan keluar candi ternyata jauh banget, memutar...bisa aja, jalan masuknya cuma tinggal lurus doank dari pintu masuk. Baterai kamera udah low batere..Muka udah berminyak..Bau badan udah bau matahari..udah pegel..worthied lah melihat Candi Prambanan. Cuma satu yang engga kesampean, foto ama bule! Sempet diledekin lagi gue, ”katanya anak UI..gih..ajak sana”. Bukan malu ngomong ya ngajakin bule foto bareng tapiii...tidak ada yang secakep James Blunt *teteup akang James yang paling ganteng..ada siy yang keren, tapi bawa gandengan. Masa’ gue ngajakin cowoknya doank, ntar ceweknya cemburu lagi..hahahahaha

Finally, Sugeng Tindak Ngayogyakarta..
Insya Allah, I’ll return..
Kapan ke Jogja Lagi? kapan ya? hmmmm....

gue selalu seneng foto di lapangan udara..hingga tercetus ide mau ngoleksi foto bandara-bandara yang pernah gue lalui..

Di akhir perjalanan ini, kita menyadari saldo rekening yang baru penuh diisi gaji.. berkurang dengan cukup signifikan..padahal belum memasuki bulan November, kita sudah menghitung hari menuju tanggal 28..wkwkwkwk

Selasa, 29 September 2009

Unforgettable Solo (part 2)

Lanjutan dari Unforgettable Solo (part 1)

Hari kedua, kita mau jalan-jalan lagi. tapi belum tahu tujuan kemana..namanya juga tamu, ikut tuan rumah aja dech..Jam 8 Pagi, mobil sudah siap di hotel. Berbeda dengan sehari sebelumnya, kita belanja dengan mbak-mbak. kali ini, yang mengawal mas-mas.


Pemberhentian pertama; sop buntut bu ugi..tawangmangu..
Sop buntutnya yang uenak patut dikunjungi lho..



walaupun udah sarapan, tak bisa menolak rayuan sop buntut yang wangi banget..(jadi laper lagi..)

Pemberhentian kedua; air terjun Tawangmangu

udaranya seger banget deh..freshhh...
ketika berangkat ke solo, gue hanya membawa sepasang sepatu yang gue pake. klo nyari makan, biasa pake sendal kamar. waktu belanja ke PGS (Pusat Grosir Solo) mau beli sendal gunung engga ada, akhirnya beli 'sandal cantik'. Saking cantiknya nih sandal, belum liat air terjunnya udah putus sodara-sodara! Sial, cepet banget depresiasinya. untung ada yang jual sandal jepit. tahu gitu kan, dari awal aja gue beli sandal jepitnya.


Air terjun Tawangmangu, Solo, Jawa Tengah..



cheese...^^

Jarak yang ditempuh dari parkiran ke air terjun tidak begitu jauh. tenang tidak perlu takut jatuh, ada tangga batu. tapi hati-hati melangkah, klo hujan licin.


Berasa air terjun pribadi..pengunjungnya lumayan banyak..tapi pada malu-malu gitu buat foto..express your style..


bergaya dulu ah bareng indro warkop..lho? hehe


oops..hati-hati jatoh..licin bu..

Pemberhentian ketiga : Telaga Sarangan

Perjalanan berlanjut ke telaga sarangan. sebuah telaga di kaki pegunungan Lawu, udah masuk wilayah Jawa Timur nih. Seumur-umur gue belum pernah naik bebek-bebekan. Engga pernah diijinin. Naik transportasi air cuma Kapal Feri aja. Mas Eko ngajakin naik boat sambil muterin telaga sarangan.okeh, siapa takut!


yeah..we're the champion


belanja oleh-oleh..pin dari 'kuciang-kuciang'..gantungan kunci..atau t-shirt telaga sarangan

Bukannya berasa sok artis, serius deh, kita bedua -gue dan kak marissa- jadi pusat perhatian di telaga sarangan.hahaha..dari mbak-mbak..ibuk-ibuk..bapak-bapak..bahkan mas-mas ampe kita lewat pun masih ngeliatin. berasa jadi dian satro aja gue! hahaha..engga ding..gue tahu koq, penampilan kami yang ajaib dan cuek lah yang menarik perhatian. hasil belanja dari pasar klewer tuh. terutama gue, liat kan pasti sakit mata lo liat gue yang heboh dan pede pake daster laskar pelangi warna orange (untung engga ada Alice..hihi), celana legging (oh My God..di Jakarta cuma buat pake daleman rok), plus sendal jepit. gimana orang-orang engga ngeliatin kita..hahaha..tapi seru juga lho jadi pusat perhatian. pantesan banyak yang kepengan jadi "IDOL". begitu lah rasanya..wkwkwk

Pemberhentian keempat : Magetan, Jawa Timur

Ternyata jalan-jalan ke magetan, ada maksudnya. si Bapak-yang-mirip-Indro (gue lupa namanya) mau nengokkin Bapaknya. Sekalian pulang kampung gitu.

Salah satu spot yang kita datengin adalah toko sepatu..(belanjaaa lagi..)
banyak pengrajin sepatu di kota ini..tapi setelah gue masuk lihat-lihat..modelnya agak konservatif..sepatu kulit-kulit gitu..harganya juga standar..gue kira murah-murah (ngarep gitu..). Gue jatuh cinta dengan sebuah jaket kulit wanita yang keren banget..glek! harganya 800rb..mana ada duit segitu..udah ludes dipake belanja di pasar Klewer..engga jodoh kali ya..

Pemberhentian kelima : Hick Gaul, jl raya karang anyar, Solo
udah malem..sebenarnya masih kenyang dengan ikan bakar yang uenak di Magetan..tapi kita berhenti dulu sebelum balik ke hotel..

Nongkrong dulu di Hick Gaul..pesan wedang jahe plus indomie rebus..bikin gue bete ama pelayanannya..masak cuma mesen indomie rebus aja ampe setengah jam engga dateng-dateng..yang lain udah pada habis, pesanan gue belum juga ada.


biar bete..tetep senyum dipoto


Hari yang melelahkan..dari jam 8 malam..baru balik jam 11 malam..
Guess what?! keesokan harinya gue menci-menci (diare..)
dan gue pun dibawa ke klinik perusahaan..ternyata mas Eko -yang pake topi- juga sakit..hahahaha

Minggu, 17 Mei 2009

Buku, Museum dan Es Krim

Sabtu, 16 Mei, bukan Sabtu yang biasanya gue habiskan untuk lembur di kantor…ke perpus kampus..atau sekadar berleha – leha di rumah. It’s time for a Trip! 16 Mei – 17 Mei, merupakan puncak acara World Book Days 2009. Acaranya diselenggarakan di Museum Bank Mandiri, Kota. Seperti yang telah gue tulis sebelumnya, gue termasuk anak yang “KuLan”, Kurang Jalan, belum pernah berwisata ke kawasan Kota..masuk – masuk museum gitu mana pernah. Supaya ada teman nyasar, gue ajaklah teman-teman gue sekalian menunaikan traktiran ultah gue kemarin.

Janjian jam 10. Baru bangun jam 8. gue punya waktu 1 jam buat siap-siap..Gue memasukkan beberapa buku koleksi gue buat ikutan Book Swap GRI (Goodreads Indonesia). Sebagian besar adalah novel-novel yang tidak gue suka. Seperti; Blind Owl..Praha..Edgar Allan Poe..Professor and Madman..Mimpi Anak jadi Naga..Virus akal Budi..Biasanya klo udah mentok baca, tapi tetap engga ngerti-ngerti, akhirnya tergeletak di sudut lemari. Daripada habis dimakan kutu, mendingan dituker ama novel atau buku yang belum pernah gue baca.seru khan...

Sekarang sih, gue mulai mengurangi kebiasaan telat orang Indonesia, musti tepat waktu (hal positif yang gue ambil dari orang Belanda). Akhirnya acara yang dijanjikan jam 10, ngaret hingga 2 jam..tunggu-tungguan siy..maklumlah, kawasan rumah masing-masing tersebar di seluruh Jakarta. Ternyata, Museum Bank Mandiri deket loh juga ama Stasiun Kota dan terminal busway Kota, jadi tak usah takut nyasar. Komplit semuanya, baru masuk ke acara World Book Day. Langkah pertama langsung disambut oleh lomba tebak buku, kalau tebakan benar seluruh buku yang ada di box tsb bisa dibawa pulang. Teman-teman gue antusias banget ikutan tebak buku (apalagi Amel..ampe jongkok-jongkok ngitungnya).


Ada belasan stand komunitas turut serta meramaikan acara World Book Day kali ini. Gue yang udah dari awal pengen ke stand Goodreads Indonesia agak bingung…mane ya? Tapi keceriaan teman-teman gue mengalahkan rasa ingin tahu gue dimana letak stand GRI. Lihat saja, tanpa dikomando, masing-masing bergerak ke spot-spot menarik, buat apa lagi klo bukan photo session. Tapi engga kita doank koq yang norak kayak anak SD, buanyaakk lho yang mendadak jadi fotomodel gitu..dengan masing-masing gaya andalannya..



Hiks. Sayangnya, gue ga bisa terlalu menikmati, soalnya kakiku sakitttttttttt…bukan manja karena jalan jauh ya…sakit yang tak biasa, tumben-tumbennya telapak kaki gue sakit. Gue udah merasakan nyeri di setiap langkah gue dari rumah, mau balik keiinget janji yang gue pelopori. Ya sudah,langkah kaki gue jadi tengkak-tengkak (ind ; terpincang-pincang).

Agak bingung juga sih letak stand GRI, terpencil di pojokan sebelah kanan (gue kira disana tidak ada stand lho...). Malu-malu putri malu gitu, gue mendekati orang-orang yang dress code ; Baca itu Seru !, Goodreads Indonesia. Walaupun udah aktif sejak 2007, baru kali ini gue menampakkan wujud asli, datang ke acara GRI. Ramah-ramah koq anggota GRI lainnya. Sesama pencinta buku, ya apalagi bahan obrolan selain buku. Mungkin bagi ga suka baca, topik yang membosankan, tapi tidak bagi kami. Obrolan tentang buku tak ada habisnya. Sambil menukar tujuh buku gue dengan tiga buku pilihan; Desau Angin Maastricth (Dh Devita)...Bukavu..(Helvy Tiana Rossa)..dan For whom the bell tolls (ernest Hemingway)..Gue juga beli kaos GRI yang warna putih (pengennya item sih). Ga sempat lama-lama juga, ditungguin Rini.

-----Part 2, Museum Fatahillah a.k.a Museum Sejarah Jakarta d/h Standhuis--------



”Kita kemana nih?”,setelah keluar dari MBM..
”Museum Fatahillahh.....”, special request dari Rini.
Tenang saja, ada Ana dan Alice, mereka jadi guide kita ke Museum Fatahillah. Jalan kaki dari MBM ke Museum Fatahillah, engga terlalu jauh sih. Yang bikin gue syok, ternyata engga cuma Motor aja loh yang bisa naek ke trotoar, ada Bajaj sodara-sodara!. Trotoar yang agak luas mestinya digunakan buat pejalan kaki khan...jarang-jarang ada trotoar segini lebar, tapi tetap aja diserobot kendaraan berasap-knalpot-hitam!huh, dimana hak pejalan kaki seperti kami..(sekalian kampanye Anti-Kendaraan-Bermotor-Naek-Trotoar)

Huwaaa...biar panas terik yang bikin kulit gosong, pengunjungnya buanyaakkk....
ada yang main sepeda onthel keliling kawasan kota tua..ada yang asyik foto-foto dari yang malu-malu hingga malu-maluin..ada pementasan kuda lumping juga lho..dari sekian banyak pemandangan, perhatian gue tertuju kepada seorang bule yang berkaos cokelat, ganteng! Luput lagi dari bidikan kamera gue. Hehehehehe..

Untuk masuk ke dalam Museum Fatahillah a.k.a Museum Sejarah Jakarta, dikenakan retribusi tapi engga mahal koq..Cuma Rp 2000 (umum)..Rp 1000 (anak-anak)..berhubung kita-kita masih Mahasiswa dapat diskon 1000..jadi bayarnya cuma seribu rupiah..Murah kan...Setelah masuk, kumat lagi narsisnya, moto-moto. Padahal ada larangan ”Dilarang Memotret”, tetep aja pada engga peduli (termasuk gue..hehe). Sepintas, menyusuri Standhuis ini, ingatan gue kembali ke novel Rahasia Meede, yang setting mengambil ruang penjara bawah tanah gedung ini. Gue pun mengintip sedikit penjara bawah tanahnya..huekk! Bauuu..pengap..lembap..bercampur pesing..

”ada lagi lho, penjara wanitanya diatas tempat Cut Nyak Dien pernah ditahan”, Kata Alice. Once more, gue tidak bisa mengimbangi kelincahan teman-teman gue yang pada pergi entah kemana. Sakit Kaki! Gue muter-muter lantai dua aja, melihat keramaian di lapangan depan Standhuis. Sambil membayangkan, tempat ini ratusan tahun lalu. Saat kompeni masih bertahta di Standhuis ini. Lapangan yang saat ini tempat bersenda gurau, bermain sepeda, dan tempat memadu kasih (ini mah dimana-mana selalu ada). Adalah tempat pertumpahan darah bagi pribumi yang terhukum.





Sayang sekali, bangunan tua di sekitar Museum Sejarah Jakarta tidak terawat dengan baik..Ada yang dikit lagi mau roboh..terbengkalai..lumutan..penuh coret-coretan vandalist dan tak terurus..Sayang seribu sayang..Contoh nyata bahwa bangsa Indonesia memang kurang menghargai sejarah.




-----Part 3..Ice Cream Ragusa------
Konon katanya ada sebuah toko es krim yang eunaakkk sekali. Toko es krim tersebut bernama Ragusa. Karena gue sedang berbaik hati, gue mentraktir temen-temen gue kesana. Cuma tidak ada satupun dari kita yang betul-betul tahu tempatnya dimana. Semalam sebelumnya, gue udah browsing, akhirnya mendapatkan alamatnya di Jl Veteran No 1, Jak-Pus, sebelah Mesjid Istiqlal. Nah itu dia, dari Kota kesana naek apaan? Mau naek taksi, lalu lintas lagi padat merayap, takut disasarin lagi. Tanya sopir angkot, kita naik M12, Senen-Kota, kata sopirnya kita turun di stasiun Sawah Besar, trus nyebrang trus jalan aja ngikutin jalur kereta, ga jauh koq, katanya. Katanya...tapi lumayan gempor bo jalannya!

Alamak, tambah tersiksa deh kaki gue. Sakit minta ampun! Kita solat Ashar dahulu di Mesjid Istiqlal. Believe or not, biar udah lama menetap di Jakarta, gue engga pernah ke Mesjid Istiqlal. Palingan cuma numpang lewat atau liat di tivi tiap Idhul Adha atau Idhul Fitr. Huahaha..parah yak? Tak lupa gue mengabadikan momen tersebut, mumpung sepi gitu loh..Kapan lagi sholat di shaf paling depan di Istiqlal, hal mustahil, jika di waktu lain.. Ketahuan noraknya, solat di shaf paling depan, tempat biasanya pejabat-pejabat negara Sholat. Padahal di hadirat Allah, kita semua sama.


Selesai sholat, kita bertanya-tanya, dimanakah letak Ragusa. Dari sekian sumber yang gue baca, engga ada yang menyebutkan secara spesifik tempatnya dimana. Sebelah Istiqlal kan bisa disisi barat. Timur, atau selatan. Luas lagi area Mesjidnya. Akhirnya kita dengan sisa tenaga yang ada menyusuri Jl Veteran No 1..taraaaaaa...sampailah kita di tempat Es Krim Ragusa.aakhirnya..



Yummy banget deh es krim..Mamma mia lezatos..
Voila....



Es krim yang lezat..slurppp..sekejap langsung tandas



Harganya bervariasi antara Rp 12.000 s/d Rp 27.000
Bisa juga mesen makanan dari jajanan luar..
Karena Ragusa khusus es krim aja

Tapi, kasihan Rini,si peanut-phobia....anti segala macem kacang-kacangan..
Malah Es krimnya, Banana Split, penuh bertaburan kacang..
Sama aja dengan fear factor...
Dikit..dikit..dimakan juga...
HuEk!!, tiba-tiba dia mau muntah sodara-sodara..
Jauh-jauh dari Ciledug, mau makan es krim..malah ketemu kacang...

For your Info:
klo mau ke Es Krim Ragusa dengan naek angkot
Samping Istiqlal di bagian sisi yang deket jalur Kereta Bogor-Kota
-- Naik Kereta jalur Bogor – Kota, berhenti di stasiun Juanda..nyebrang jalan trus ada pangkalan ojek deket situ, Tanya aja, engga jauh kok Jalannya
-- Naik Busway, transit di Harmoni, lanjut busway yang ke Pasar Baru, turun di halte Juanda, nyebrang jalan , trus sama tanya tukang ojek..

Minggu, 15 Maret 2009

Unforgettable Solo (part 1)


Pemberhentian pertama:
wisata belanja : Pasar Klewer - Pusat Grosir Solo

Batik sama dengan Jawa. Ga lengkap rasanya, bepergian ke Daerah Jawa Tengah tanpa membeli batik. Salah satu pusat belanjanya adalah pasar tradisional Klewer. Berbagai macam motif dan model batik ada disini. Daster..Baju Resmi..Baju santai..semuanya batik..Bagi gw yang udah bosen liat dagangan bokap yang jual batik juga. Gw lebih memilih hunting kaos yang gambarnya wayang..yang menggambarkan khas kota Solo..Kalau belanja-belanja gini, musti pintar-pintar nawar.

Salah satu teman kerja gw pernah bergurau," Indonesia dijajah Padang..abis dimana-mana ada rumah makan Padang". Jauh-jauh ke Pasar Klewer, yang dagang batiknya orang Padang juga..langsung ketahuan dari logatnya..tapi ketemu sesama orang minang bukan berarti dapat harga murah juga sih..tapi setelah gw ngiter-ngiter..dagangannya urang awak itu termasuk murah lho..

Berhubung besoknya gw mau jalan-jalan ke tawangmangu..ga mungkin donk gw pake jins kotak-kotak yang sempit itu (padahal dulu siy engga sempit)..ya udahlah gw beli baju aja lagi..trend yang lagi in adalah baju laskar pelangi..itu lho yang warna-warni dengan macam-macam gradasi..modelnya juga macem-macem..dan lebih muraaaaaaahh dibanding beli di Jakarta..ya iyalah..konveksinya dari Solo..gw pun tak ketinggalan membeli baju laskar pelangi..yg lebih tepatnya daster..kerenn..



Pemberhentian Kedua;
wisata budaya plus wisata sejarah ---> Keraton Kasunanan

daripada gw mendeskripsikannya salah-salah dan sotoy-sotoy..mendingan yang gw upload foto-foto aja deh..oke banget lah buat yang suka sejarah..


ket; aula tempat Raja menyelenggarakan pisowanan agung..bagi pengunjung, tidak boleh naik ke atas..


ket; menara biru - tempat Raja bersemedi untuk bertemu dengan Nyi Roro Kidul





ket; kereta kuda Pakubuwono II saat hijrah ke Keraton yang sekarang gw kunjungi
liat deh..ada lambang VOC di keretanya..adakah yang tahu artinya apa?.

Di tengah-tengah museum..ada sumur batu..konon, seperti pemandunya bilang, Siapa yang mencuci muka atau meminum air dari sumur ini, kelak keinginannya terkabulkan..
percaya engga percaya sih..berhubung gw haus, gw minta segelas air..airnya mentah gitu..tapi rasanya engga jauh beda ama air mineral yang matang lho..

Sayangnya..menurut gw..tidak semua objek-objek museum yang terawat baik..kalau yang 'bertuah' gitu..sangat terawat..masing-masing ada namanya..dan disamping benda tersebut diberikan sesajen kecil..engga salah sih, khusus benda-benda keramat, ada upacara tersendiri untuk membersihkan benda tersebut. kalau yang benda yang tergolong biasa..malah berdebu..kusam dan tidak menarik.

-to be continue-

Selasa, 17 Februari 2009

Langkah Pertama

Yippi!!!
gw memulai blog yang khusus mengulas perjalanan kaki ini..

Akhir Desember 2008 lalu, Bang Adek,Om gw, ngajakin seluruh keluarga ke Anyer..Skali-kali jalan-jalan bersama, katanya. Gw tahu dia ingin menghibur kami sekeluarga dari kepergian Bundo. Sudah lama sekali berlalu, saat-saat liburan panjang mengunjungi Jakarta setahun sekali untuk berlibur di rumah Bang Adek, sekadar jalan-jalan ke Dufan..Taman Safari..Justru, udah sepuluh tahun di Jakarta, jarang sekali bepergian bersama-sama.

Tujuannya: Pantai Anyer
Believe or not, ini baru pertama kalinya gw ke Anyer..
Dan di dalam perjalanan ini, gw sadar pertama kalinya, gw seperti hidup di kota kaca..
Engga kemana-mana..terpaku rutinitas Klender-Depok..
Setahun dua kali ke Puncak untuk Raker/Muker..itupun bukan untuk senang-senang..

Sepuluh tahun di Jakarta..3 tahun udah megang KTP Jakarta..
Pengetahuan tentang kota Jakarta engga ada bedanya ama adek gw, Azwar..
Gw 'buta arah' kalau bicara Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Utara
Sementara untuk Jakarta Timur dan Jakarta Pusat, hanya separuh wilayah tersebut yang gw tahu..

Gw sih emang ga punya naluri 'nyasar' kayak duo Juma ama Eka..karena satu hal sebelum pergi, gw dah mikir, gw pergi kemana, naek apa, pulangnya gimana. Kalau gw ga yakin angkotnya bener..mendingan diem di rumah (bilang aja penakut susye amat)..tindakan preventif ini yang akhirnya bikin gw jarang ngumpul-ngumpul atau jalan kemana gitu..Ya klo ga mau susah, gampang sih, tinggal naek taksi..sayang ah duitnya buat taksi, mendingan buat beli buku nambah koleksi buku gw..

Terlebih lagi..dengan membaca 'the alchemist' by Paulo Coelho..yang bikin gw ingin melihat negara lain..atau dengan membaca buku 'Naked Traveller' by Trinity..siapa yang engga mupeng pergi ke daerah-daerah yang asyik dengan budget terbatas tapi bisa punya segudang pengalaman..Den Haag..Leiden..Santiago Barnebeau..tempat impian yang ingin gw kunjungi..seringkali gw meracau If I Were in Santiago Barnebeau

Keep My Dream Alive...

Tapi pembicaraan di hati..silang pendapat antara keinginan dan rasionalitas membuat gw tersadar..
Azia..gimana lo mau ke luar negeri? klo masih di Jakarta aja,buta arah..Orang Indonesia kan..berapa wilayah Indonesia yang udah pernah lo datangi..oke..oke..setidaknya gw keliling Indonesia dulu deh..


Ya..ya..
Resolusi 2009 yang gw cetuskan sih engga muluk-muluk deh, cuma satu, pengen keliling Sumatera Barat..mengunjungi tiap kotanya..Tujuh tahun engga pulang kampung..menggila rasanya..




behind the photo;
Bundo duduk berlatarkan Bukit Barisan di depan Rumah Ibuk, Desa Gelanggan Tangah, Bawah jao, Selayo, Solok