Pages

Minggu, 27 Oktober 2013

Jakarta City Trip : Museum Sumpah Pemuda


Monumen Sumpah Pemuda

Setiap upacara di sekolah selain pembacaan UUD 45 dan Pancasila, siswa juga melafalkan sumpah pemuda. Kenapa ikrar yang diucapkan pada 28 Oktober 1928 menjadi keharusan untuk dilafalkan oleh siswa Indonesia?  Atas dasar rasa ketertarikan untuk mengetahui lebih lanjut dari peringatan 28 Oktober, yang jatuh hari ini, saya mengunjungi Museum Sumpah Pemuda. Museum ini sudah lama menarik perhatian saya. Terletak di pinggir jalan Kramat Raya, akses transportasi umum gampang sekali. Namun karena ketertutupan museum yang saya lihat dari jauh membuat saya segan untuk singgah.

Sesuai informasi, pengunjung dikenakan uang tiket Rp 2.000. Beruntung nya kami tidak perlu membayar uang tiket alias gratis. Tampak sedang ada persiapan untuk menyambut hari Sumpah Pemuda. Saat masuk, ruangan cukup ramai oleh kunjungan anak sekolah. Di ruangan lain tampak juga Komunitas Historia Indonesia sedang berkumpul. Saya dan adik-adik saya melipir ke ruangan lain yang lebih sepi.

Koleksi Museum Sumpah Pemuda

Museum ini dulunya adalah pondokan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah lalu digunakan menjadi tempat kongres pemuda. Organisasi-organisasi kepemudaan sebelum adanya kongres pemuda masih berdasarkan asal daerah; Jong Java, Jong Soematranen Bond, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Bataks Bond, Pemuda Kaoem Betawi. Koleksi berharga dari Museum ini adalah Biola dari WR Soepratman. Lagu Indonesia Raya pertama kali dikumandangkan dari gesekan biola beliau. Yang menyita perhatian saya adalah cetakan kalimat penggugah semangat dari tokoh-tokoh yang berperan di Sumpah Pemuda. Salah satunya adalah pesan Ki Hajar Dewantara.

Aku hanya orang biasa - Ki Hajar Dewantara

“Apa makna sumpah pemuda bagi anda? Bagaimana peran pemuda di masa sekarang menurut anda?”. Saya harus berpikir lama dan jawaban yang keluar pun tidak memuaskan hati. Tak pernah secara bersungguh-sungguh berpikir mengapa ikrar Sumpah Pemuda ini penting dan harus dilafalkan setiap upacara sekolah. Dengan mengunjungi Museum ini saya bisa membayangkan atmosfir 85 tahun lalu ketika kesadaran dan semangat untuk bersatu datang dari jiwa-jiwa pemuda. Mungkin usia mereka waktu itu tidak jauh dengan usia saya sekarang tetapi mereka telah menciptakan sejarah. Satu tanah tumpah darah, tanah air Indonesia. Satu bangsa, bangsa Indonesia. Satu bahasa, bahasa Indonesia.


Peran pemuda yang bagaimana yang sesuai dengan perkembangan zaman sekarang ini? Berkarya, untuk Indonesia yang lebih baik dan maju. Di balik berita-berita negatif yang memprihatinkan tentang kaum muda Indonesia saat ini, selalu ada harapan untuk generasi yang lebih baik. Waktu mengunjungi Social Media Festival 2013 lalu, saya berjumpa dengan anak-anak muda yang mempunyai semangat positif dalam komunitas-komunitas yang bergerak di bidang sosial, lingkungan hidup,dan pendidikan. Sebagian besar masih kuliah dan ada juga yang anak sekolah. Antusiasme mereka dalam menjelaskan program kegiatan komunitas yang mereka ikuti membangkitkan kekaguman saya.


angkat jempol untuk kegiatan sosialnya


Selamat hari Sumpah Pemuda !

Senin, 10 Juni 2013

Bandung City Trip : Museum Konferensi Asia Afrika

“I hope that it will give evidence of the fact that we Asian and African leaders understand that Asia and Africa can prosper only when they are united, and that even the safety of the world at large can not be safeguarded without a united Asia – Africa. I hope that this Conference will give guidance to mankind, will point out to mankind the way which it must take to attain safety and peace. I Hope that it will give evidence that Asia and Africa have been reborn, nay, that a New Asia and a New Africa have been born!” - Presiden Soekarno


Apa yang anda ketahui mengenai Konferensi Asia Afrika ? Pengetahuan saya mungkin sebatas apa yang diajarkan dahulu di pelajaran Sejarah waktu SMP-SMA. Konferensi dari negara-negara di benua Asia dan Afrika yang dipelopori oleh 5 negara yaitu Indonesia, Myanmar, Srilanka, India dan Pakistan. Konferensi tersebut diselenggarakan di Gedung Merdeka, Bandung.  Konferensi ini sebuah gong untuk gerakan non blok yang menentang imperialisme dan kolonialisme pasca perang dunia kedua. Negara-negara Asia dan Afrika telah kenyang dengan pahit dan getirnya penjajahan.

Pengunjung museum tidak dipungut bayaran alias gratis. Sekilas dari luar gedung tampak lengang, lalu lintas di jl Asia Afrika cukup padat. Setelah saya membuka pintu masuk, saya langsung mendapati suasana riuh ramai. Rupanya kunjungan kami bertepatan dengan study tour anak-anak sekolah. Kami mengisi buku tamu dan langsung dipersilahkan untuk menikmati koleksi museum. Bagian depan museum terdapat patung dari lima tokoh dari pelopor KAA yaitu Ali Sostroamidjojo (Indonesia), Jawaharlal Nehru (India), U Nu (Myanmar), Mohammad Ali (Pakistan), dan Sir John Kotelawala (Srilanka). Bersama mereka, duo proklamator Indonesia juga turut andil yaitu Mohammad Hatta dan Presiden Soekarno  yang berdiri di mimbar.
“Bebaskan jiwa Asia dan tuan-tuan akan memperoleh perdamaian, bukan perdamaian dengan paksaan pedang, tetapi perdamaian berdasarkan kemauan baik. Jiwa Asia pada dasarnya adalah jiwa damai!”,- Mohammad Hatta, Bierville, Agustus 1926.
Memorabilia yang digunakan selama konferensi berlangsung ditata sedemikian rupa. Namun sayangnya setelah mengisi buku tamu, kami tidak langsung mendapat brosur mengenai museum sehingga kami tidak tahu harus memulai darimana. Belum lagi cekakak-cekikik anak-anak SMA dari Jakarta yang membuat saya jadi ‘lameh’. Adalah seorang bapak paruh baya,yang tadinya kami kira guru pengantar dari rombongan SMA, yang mengambilkan brosur museum KAA.  Kami berbincang-bincang sebentar. O alah, si bapak mengira kami masih kuliah. Hihihihi. Setelah melihat brosur, informasinya sebatas sejarah museum dan tata tertib mengunjungi museum bukan penjelasan masing-masing koleksi museum.  

                                                        
  faktor pendorong tercetusnya Konferensi Asia Afrika

Kami mengitari ruangan museum. Pada hari yang sama sedang berlangsung pameran topeng Indonesia – Jepang. Ruangannya lebih kecil dan terasa sesak oleh pengunjung. Topeng-topeng karya Shoei Agura menampilkan berbagai macam raut wajah manusia. Saking miripnya dengan wajah manusia asli jadi merinding sendiri . Sementara itu topeng-topeng dari Indonesia juga dipamerkan. Kami tidak berlama-lama karena tidak betah dengan kesesakan pengunjung. Kebetulan di ruang tengah sang empunya karya Sensei Shoei Agura ada dan meladeni foto bareng dengan pengunjung-pengunjung lainnya.

Pameran Topeng Indonesia & Jepang

Di sudut yang agak sepi, sayup-sayup terdengar suara pidato dari pengeras suara yang tertelan suara keramaian anak sekolah. Saya mendekati sudut tersebut ternyata pengunjung bisa mendengarkan pidato Presiden Soekarno pada pembukaan konferensi. Di dalam lemari kaca terdapat buku-buku mengenai Konferensi Asia Afrika.  Yang menarik bagi saya adalah kutipan dari tokoh-tokoh Indonesia yang menyiratkan semangat non blok dan anti imperialisme. 

“Jikalau Banteng Indonesia sudah bersama-sama dengan Sphinx dari Negeri Mesir dengan Lembu Nandi dari Negeri India, dengan Liong Barongsai dari Negeri Tiongkok, dengan kampiun-kampiun kemerdekaan dari negeri lain, - jikalau Banteng Indonesia bisa bekerja bersama-sama dengan semua musuh kapitalisme dan internasional – imperialisme di seluruh dunia -, wahai tentu hari-harinya internasional-kapitalisme itu segera terbilang !” – Sukarno, Bandung Maret 1933


Sabtu, 01 Juni 2013

Rabu, 22 Mei 2013

Menerjang Ombak Dreamland Bali

Wahai Ombak, aku menunggumu.

Datang lah Ombak. Come.. come to me 

hmmmm...

aheeeey...datang juga ^^

Are you ready ??

kyaaaa.... 

byuuuuur..

wahahahaha.. *basah tapi ceria*


Kamis, 16 Mei 2013

[Turnamen Foto Perjalanan Ronde 21 :Jalanan] Jalan yang Tak Asing



Menapakkan kaki di negara ini,saya tidak merasa asing sama sekali. Jika tidak karena bahasanya yang berbeda mungkin saya menganggap diri saya masih berada di Indonesia. Foto ini diambil dalam perjalanan  setelah mengunjungi Chu Chi Tunnel di Vietnam. Suasana jalan tampak lengang di sore itu. Kendaraan lebih banyak didominasi oleh sepeda dan sepeda motor.  Seorang wanita tampak membawa seikat kayu di atas sepeda motornya.  



Minggu, 17 Maret 2013

Menengok Bekantan di Tarakan

Saat mampir transit di kota Tarakan, pikiran yang terlintas  adalah ‘mau jalan-jalan kemana ya?’. Apalagi dengan waktu transit 4 jam saya rasa bisa digunakan untuk melihat-lihat kota Tarakan. Kebetulan ketika saya pulang dari site Malinau, teman kantor yang cuti tinggal di Tarakan. Jadi lah dia tour guide kami di Tarakan. Koper bagasi kami titipkan ke counter Garuda. Mau kemana nih? Nampak mendung tebal di langit dan tak lama kemudian hujan deras mengguyur Tarakan. Yahhhh gagal deh Tarakan City Tour nya. Saya kecewa tapi mau gimana lagi kalau hujan deras. Kami melipir ke kafe pinggir jalan untuk berteduh sementara.

“Aku mau lihat Bekantan”,ujar saya. Saya belum pernah melihat hewan yang digunakan maskot dari Dunia Fantasi Ancol secara langsung. Rekomendasi dari teman-teman di twitter menyebutkan Kawasan konservasi Bakau dan Bekantan patut ditengok jika berada di kota Tarakan. Syukur lah hujan cepat reda. Setelah hujan reda , kami beranjak ke tempat tujuan. “Udah kayak anak SD aja mau lihat Bekantan”,kata senior. Biarin wekk,ujar saya dalam hati (beraninya). Hahaha. Karcis masuk sebesar Rp 3.000. Enaknya pergi sama yang tua-tua jadi pihak yang ditraktir. Horaay. Hahaha. 



suasana sejuk sehabis hujan 


taman bacaan di dalam kawasan mangrove

Kehijauan hutan bakau yang sehabis disirami hujan deras terasa sejuk. Kami menyusuri jalan yang dibuat dari kayu. Hati-hati berjalan karena kayunya amat licin. Tak jauh dari gerbang masuk konservasi hutan bakau terdapat taman bacaan. Wah enaknya. Jika ajak keluarga bisa mengajak anak-anak ke taman bacaan sekalian nih. “Mana Bekantannya ya ?”,kata saya. Yang kami lihat hutan bakau saja. Petugas yang sedang menyapu dedaunan menunjuk ke arah pepohonan yang bergoyang-goyang. “Itu dia! Bekantan nya!”. Satu kelompok bekantan tampak sedang berpindah-pindah pohon. Mata saya yang minus ini hanya melihat sosok kelebat dari Bekantan saja. Saya kurang jelas melihatnya hanya melihat badannya saja,ah tidak terlihat hidungnya yang khas itu. Mereka lompat-lompatan di ujung pohon bakau yang tinggi. “Waktu aku SMA, bekantannya sampai di bawah-bawah sini lho”,ujar teman saya. Sekarang harus pakai teropong kayaknya untuk melihat jelas bekantan. Saya coba menangkap kelebatan Bekantan,hasilnya tidak kelihatan apa-apa walau sudah zoom maksimal. Sepertinya mengambil foto Bekantan yang jelas dan tajam perlu pakai lensa tele deh.  No Pic = Hoax. Karena tidak mungkin foto sama bekantan aslinya, ada duplikat bekantan untuk berpose.

gantinya foto sama Bekantan asli


Dipanggil-panggil sama siulan, Bekantannya bukan mendekat malah menjauh.Hahaha. Menurut petugas, Bekantan termasuk hewan yang pemalu dan tidak bisa dikandangkan karena bisa stress.  Saat hendak kembali ke pintu masuk, di persimpangan jalan terdapat gerombolan monyet. Aaaak monyet, saya panik.*phobia monyet* Yukkk jalan ke luar yuk. Saya tidak mau ada momen dikejar monyet terulang lagi di Tarakan. Mau lari kemana, kiri kanan rawa bakau. Eh si Bapak Apath, ekspat India malah mendekati monyet-monyet dan mengambil foto dari kamera handphone nya. *tepok jidat*. Hadeuh Bapaaak. Saya berada di barisan paling depan menuju pintu keluar. Hahaha. Sambil melihat ke arah belakang. Benar kan! Si monyet mengikuti Pak Apath. Mampuss. Langsung kami berjalan cepat-cepat. Monyetnya pintar!. Ada pintu sekat yang bisa dikunci. Ketika Pak Apath menutup pintu, si monyet menyelusupkan badannya dengan anggun ke sela-sela bawah pintu. Nah lo! Hahaha. Serentak semuanya tertawa.



Rabu, 19 Desember 2012

Melancong ke Vietnam - Kamboja



Kamboja


IMG_7498

Angkor Wat, Siem Reap - Kamboja


Sunset at Tonle Sap Lake, Siem Reap, Cambodia

Sunset di Danau Tonle Sap, Siem Reap, Kamboja

Vietnam

Cao Dai Temple - Cu Chi Tunnel Tour

Pray at Cao Dai Temple
Cao Dai Temple


Ouch!
tiger trap
Ho Chi Minh City Tour

a young girl staring photo of victims's agent orange
korban agen orange

IMG_8134
Katedral HCMC

central post office HCMC
@ central post office HCMC